Alasan Brand Kecantikan Meninggalkan Hewan Sebagai Bahan Uji Coba

Beauty Journal17 Apr 2019, 10:15 WIB
Kosmetik

Fimela.com, Jakarta Sebelum dijual secara massal dan digunakan pada manusia, obat-obatan termasuk produk kecantikan sudah pasti telah melewati proses uji terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir efek dari produk tersebut misalnya iritasi dan kerusakan kulit. Sebagian besar produsen umumnya menjadikan hewan sebagai alat uji coba mereka. Nah, penggunaan hewan sebagai alat uji coba ternyata menimbulkan pro dan kontra.

Kelompok yang pro terhadap uji coba hewan menganggap bahwa hewan, terutama mamalia, memiliki kemiripan dengan manusia. Cara kerja tubuh pada hewan-hewan tersebut termasuk anatomi dan sistem imunnya menyerupai manusia, sehingga sukar jika memilih alternatif lain. Sedangkan kelompok yang kontra, mengatakan bahwa uji coba hewan sama saja dengan penyiksaan, bahkan pembunuhan terhadap hewan yang masuk dalam pelanggaran hukum di Indonesia.Beberapa brand kecantikan seperti Anastasia Beverly Hills, Lush hingga The Body Shop, telah melabeli produk mereka sebagai produk yang cruelty-free. Selain tak lagi menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari hewan, deretan produk tersebut juga memastikan bahwa tidak ada pengujian terhadap hewan. Kini, penggunaan hewan sebagai uji coba sudah banyak ditinggalkan brand kecantikan. Bahkan, The Body Shop sudah memulainya sejak tahun 1989. Selain demi menjaga populasi, apa alasan para brand kecantikan memilih untuk mulai meninggalkan uji coba terhadap hewan?

Uji Coba Dianggap Sangat Kejam

Dikutip dari Humane Society International, uji coba pada hewan untuk satu produk kosmetik meliputi tes iritasi kulit dan mata. Tes tersebut dilakukan dengan menggosokkan bahan kimia pada kulit hewan, contohnya saja kelinci. Tes ini dilakukan selama berminggu-minggu, bahkan ada pula yang sampai berbulan-bulan untuk melihat adanya tanda penyakit atau bahaya kesehatan tertentu, misalnya saja kanker dan cacat. Tentu saja uji coba ini menyebabkan rasa sakit, termasuk risiko kebutaan dan kerusakan organ pada hewan tersebut. Sayangnya, penghilang rasa sakit juga tak diberikan pada akhir tes, sehingga banyak hewan yang kemudian mati setelah pengujian.

Hasil Uji Coba Kurang Akurat

StyleCraze dalam artikelnya pun menyebutkan bahwa uji coba yang dilakukan pada spesies berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda pula. Hewan uji seperti tikus dan kelinci menunjukkan sensitivitas yang berbeda terhadap bahan kimia yang diujikan. Ini dia yang menjadi alasan hasil dari uji coba hewan mungkin tak akan relevan bagi manusia. Hasil uji coba yang bervariasi akan sulit ditafsirkan dan sulit diprediksi ke depannya bagi keselamatan konsumen.

2 of 2

Pengujian di Laboraturium

Peneliti
Ilustrasi/copyright shutterstock

Kewajiban Uji Coba pada Hewan di Negara Tertentu

Masih adanya penggunaan hewan sebagai uji coba menurut Humane Society International dikarenakan beberapa perusahaan sedang mengembangkan dan menggunakan bahan-bahan baru pada produk mereka. Untuk itu, pengujian hewan masih diperlukan untuk mengetahui penggunaan bahan baru tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko manusia terkena bahan kimia berbahaya secara langsung.

Sementara itu, beberapa perusahaan mengklaim bahwa mereka harus menguji produknya pada hewan karena hendak menjualnya ke negara-negara, contohnya saja Cina yang memang mengharuskan pengujian pada hewan. Meski demikian, pada dasarnya setiap perusahaan kosmetik memiliki pilihan; apakah pengujian pada hewan diperlukan atau tidak.

Alternatif Uji Coba

Dengan meninggalkan uji coba kosmetik pada hewan, tentu saja perusahaan memerlukan alternatif lain sebagai ganti uji coba tersebut. Sebagai solusinya, beberapa uji coba modern non-hewan telah dilakukan, contohnya uji coba menggunakan kulit hasil rekonstruksi kulit manusia atau yang biasa disebut dengan episkin. Selain itu, analisis in-silico berbasis komputer juga dapat digunakan karena mampu menilai kesesuaian bahan melalui proses ekstrapolasi informasi. Sebuah model komputer akan diisi sel-sel bakteri yang kemudian merespons zat tertentu dalam lingkungan. Nah, alternatif uji coba modern seperti ini dianggap lebih murah dan lebih cepat hasilnya.

Baca juga: Nars Tak Lagi Berlabel ‘Animal Cruelty Free’ Demi Pasarkan Produknya di China

Lanjutkan Membaca ↓