Serba Serbi Skin Barrier dan Mengapa Hal Ini Perlu Menjadi Prioritasmu

Beauty Journal02 Jul 2019, 19:15 WIB
Wajah

ringkasan

  • Dinding pelindung untuk kulit
  • Dampak buruk saat skin barrier rusak
  • Cara memperbaiki dan menjaga skin barrier
Lanjutkan Membaca

Fimela.com, Jakarta Sebagai organ terbesar pada tubuh manusia, kulit memiliki fungsi lebih dari sekadar pelindung organ-organ internal. Dengan lapisan-lapisannya ia juga menjadi penentu atas penampilanmu dari luar. Di antara lapisan-lapisan tersebut ada satu bagian yang dikenal sebagai pelindung alami kulit atau skin barrier. Berguna sebagai penjaga kulit, skin barrier bertugas untuk menghentikan faktor-faktor eksternal yang berpotensi merusak kulit. Semakin tipis skin barrier kamu, maka akan semakin mudah kulit mengalami masalah baik itu jerawat, kemerahan, iritasi, hingga inflamasi. Karena itu, yuk mengenal skin barrier melalui informasi yang sudah Beauty Journal himpun untukmu!

Dinding pelindung untuk kulit

Skin barrier terdiri dari sel kulit terluar dan lemak yang mengandung ceramide, kolesterol, dan asam lemak. Gabungan lemak ini mengikat sel-sel kulit terluar dan membuatnya kuat seperti dinding bata untuk melindungi lapisan kulit dalam kamu. Skin barrier-lah yang menjaga agar kulit kamu tetap terhidrasi dengan baik dan penghalang agar debu serta polusi dari udara tidak masuk lebih jauh ke dalam pori-pori kulit. Namun, meski ia disebut pelindung skin barrier memiliki struktur yang rapuh dan dapat terkikis. Ada banyak faktor yang dapat merusak skin barrier, yang paling sering dikenal antara lain cleanser yang keras dan bersifat basa, over eksfoliasi, temperatur yang ekstrim (air yang terlalu panas atau dingin), hingga cuaca yang buruk.

Dampak buruk saat skin barrier rusak

Kesehatan kulit
Ilustrasi wajah/copyright shutterstock

Untuk mengetahui apakah skin barrier rusak atau tidak, cukup perhatikan kondisi kulit sehari-hari. Jika kamu menyadari adanya inflamasi, mengelupas, sensitif atau kering secara tiba-tiba maka besar kemungkinan skin barrier tersebut telah terkikis. Pada kasus yang lebih parah, jerawat dan ruam juga dapat muncul. Rusaknya skin barrier juga dapat memancing produksi sebum berlebih. Hal ini merupakan dampak dari menurunnya level hidrasi atau kelembapan pada kulit sehingga menghasilkan kulit yang dehidrasi. Kondisi ini akan memicu kelenjar minyak di dalam lapisan kulit untuk memproduksi sebum lebih banyak agar dapat memenuhi kebutuhan hidrasi pada kulit. Seiring dengan bertambahnya usia, skin barrier juga dapat melemah.

Cara memperbaiki dan menjaga skin barrier

Memperbaiki skin barrier bukanlah sesuatu yang sulit. Ada beberapa cara yang sudah direkomendasikan oleh beberapa dermatolog terkenal dunia. Salah satunya adalah kembali pada rutinitas skin care dasar saat kulit terasa 'rewel'. Pangkas rangkaian skin care menjadi cleanser, toner, dan moisturizer saat malam dan tambahkan tabir surya untuk siang hari. Selain itu, hindari bahan-bahan bersifat astringen seperti alkohol dan witch hazel. Jika diperlukan, hentikan juga tindakan scrubing dengan bahan aktif maupun scrub. Carilah skin care dengan kandungan seperti niacinamide yang dapat mendorong produksi ceramide, atau gunakan pelembap yang mengandung linoleic acid yang juga merupakan asam lemak Omega-6.

Meski dibutuhkan, namun tubuh tidak bisa memproduksi asam lemak jenis ini karena itu kamu hanya bisa mendapatkannya melalui konsumsi makanan atau penggunaan produk topikal. Selain memperbaiki skin barrier secara umum, meminimalisir faktor yang dapat merusak juga dapat membantu kamu dalam menjaga skin barrier. Menggunakan produk yang mengandung anti-oksidan yang mampu menghalau radikal bebas dapat menjaga skin barrier agar tetap sehat.

#Growfearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓