6 Masalah Kulit Selama Isoman dan Cara Merawatnya

Anisha Saktian Putri22 Jul 2021, 16:30 WIB
Diperbarui 22 Jul 2021, 16:30 WIB
Merawat Masalah Kulit Selama Isoman/dok. Zap Clinic

Fimela.com, Jakarta Seseorang yang terinfeksi Covid-19 dengan gejala ringan dan tanpa gejala tanpa perlu dirawat di rumah sakit, hanya perlu melakukan Isolasi mandiri (Isoman) selama dua minggu.

Saat isoman, bukan hanya gejala Covid saja yang dirasakan melainkan beberapa pasien Covid-19 dilaporkan memiliki kelainan pada kulit baik yang berhubungan langsung dengan infeksi Covid-19 atau tidak langsung.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai masalah kulit saat isoman, Dermatologis ZAP Clinic dr. Novi Junita, M.Biomed, Sp.KK membagikan beberapa hal perawatan kulit yang dapat dilakukan oleh pasein Covid-19 untuk menjaga kesehatan kulit selama isoman

Lalu apa saja yang dapat dilakukan untuk merawat kondisi kulit dari rumah? Berikut ulasannya.

1. Ruam kulit bisa menjadi pertanda Covid-19

Merawat Masalah Kulit Selama Isoman/dok. Zap Clinic
Merawat Masalah Kulit Selama Isoman/dok. Zap Clinic

Ruam pada kulit adalah salah satu gejala infeksi Covid-19 yang kerap muncul bersamaan dengan sejumlah gejala lainnya. Angka kejadian infeksi Covid-19 yang bermanifestasi pada kulit dilaporkan sebesar 0,2%-20% di seluruh dunia.

Menurut Galvan, et al., salah satu ruam yang paling sering dialami oleh penderita Covid-19 di spanyol adalah tipe makulopapular (47% dari 375 kasus), yaitu berupa ruam kemerahan atau bentol pada kulit yang banyak ditemukan di area badan dan ekstremitas. Biasanya bisa disertai perdarahan pada kulit berupa ptechiae atau purpura, gatal, rasa terbakar, demam, nyeri otot dan lemas. Varian lain manifestasi kulit akibat Covid-19 yang dilaporkan antara lain tipe urtikaria, vesikular, pseudochilblain/covid toes, dan vaskular. 

“Salah satunya, virus ditengarai masuk melalui saluran nafas dan mukosa, kemudian menyebar ke peredaran darah sistemik atau seluruh tubuh, yang disebut dengan viremia. Normalnya, sepertiga dari peredaran darah sistemik ini akan disuplai ke dalam kulit, sehingga virus juga bisa ikut masuk ke dalam kulit atau disebut penyebaran secara hematogen. Atau kemungkinan lain virus bisa masuk ke kulit melalui kontak langsung, di mana seseorang yang memiliki mikrolesi pada kulit bersentuhan langsung dengan droplet penderita Covid-19 seperti saat bersalaman," ujar dr. Novi dalam acara virtual bersama Zap.

2. Jari kaki bengkak kemerahan, ciri covid toes

Merawat Masalah Kulit Selama Isoman/dok. Zap Clinic
Merawat Masalah Kulit Selama Isoman/dok. Zap Clinic

Covid toes merupakan salah satu permasalahan kulit akibat infeksi Covid-19 yang sering ditemukan. Gejalanya jari-jari kaki terasa nyeri, gatal, bengkak, dan berwarna kemerahan hingga keunguan. Hal ini disebabkan oleh terjadinya thrombosis vasculopathy, yang menyebabkan peredaran darah di ujung jari terganggu sehingga suplai oksigen berkurang dan memicu inflamasi.

Walaupun covid toes dapat sembuh tanpa pengobatan dalam periode 1-3 minggu, penderita Covid-19 dapat mengurangi rasa tidak nyaman dengan kompres air hangat, menjaga suhu ruangan tetap hangat, mengganjal kaki dengan bantal waktu tidur, dan hindari merokok.

"Pengobatan yang dapat diberikan antara lain salep yang mengandung steroid secara topikal, pemberian nifedipine atau pentoxifyline pada kasus yang berat sesuai dengan anjuran dokter," ujar dr. Novi

3. Stres dapat sebabkan jerawat

Jerawat
Mengatasi jerawat/BR Photo Addicted/shutterstock

Rasa khawatir dan cemas yang tak terhindarkan oleh penderita Covid-19 mampu memicu timbulnya perasaan stres yang akan direspon tubuh dengan produksi hormon kortisol dan androgen berlebih. Perpaduan kedua hormon yang bekerja lebih aktif ini mampu meningkatkan aktivitas kelenjar minyak serta inflamasi pada kulit wajah, sehingga muncullah komedo dan jerawat.

Selain itu, stres juga dapat memberikan efek negatif lain pada kulit, seperti gangguan regenerasi kulit menyebabkan kulit kusam, gangguan permeabilitas kulit sehingga kulit menjadi kering, gangguan imunitas kulit yang mengakibatkan kulit mudah mengalami peradangan serta memperlambat kesembuhan dan kambuhnya penyakit kronis kulit pada seseorang yang menjalani isoman seperti dermatitis seboroik, dermatitis atopik, psoriasis, neurodermatitis, dll.

"Stres juga mampu mempercepat proses penuaan kulit," papar dr. Novi

4. Jangan lupa pakai sunblock di wajah saat berjemur

Sunblock dan Sunscreen, Apa Bedanya? (Zerbor/Shutterstock)
Sunblock dan Sunscreen, Apa Bedanya? (Zerbor/Shutterstock)

Sinar UVB mampu memicu kulit membentuk vitamin D yang berfungsi sebagai imunomodulator sehingga meningkatkan sistem imunitas kulit dan tubuh, mengurangi inflamasi serta mempercepat proses penyembuhan. Berjemur di bawah sinar matahari sebaiknya dilakukan maksimal jam 10 pagi. Pastikan untuk mengekspos area kulit seluas mungkin agar sinar matahari dapat terserap maksimal.

“Lamanya durasi berjemur bergantung pada usia dan tipe kulit individu masing-masing. Untuk mereka yang berkulit terang dan berusia muda cukup dilakukan selama 10-15 menit. Tapi mereka yang berkulit gelap dan berusia lanjut membutuhkan durasi berjemur yang lebih lama, yaitu minimal 30 menit untuk meningkatkan kadar vitamin D dalam kulit,” terang dokter Novi.

Penggunaan sunblock pada wajah saat berjemur sempat diperdebatkan di media sosial. Merespon hal ini, dokter Novi mengungkapkan jika memang benar penggunaan sunblock dengan SPF 30 atau lebih akan menghalangi penyerapan sinar matahari 95-98%, namun luas area kepala hanya sebesar 9% dari luas seluruh permukaan tubuh sehingga penggunaan sunblock di area wajah saja tidak akan memberikan perbedaan signifikan dalam pembentukan vitamin D pada kulit. Sebagai alternatifnya, topi dan kacamata juga dapat digunakan untuk melindungi area kepala, wajah dan mata dari radiasi sinar UV.

5. Mandi, konsumsi makanan bergizi hingga terapkan basic skincare untuk perawatan minimal

skincare-kezo
ilustrasi skincare /shutterstock

Ada kalanya isoman terasa overwhelming, bagi penderita Covid-19 dengan gejala ringan dan OTG, hal minimal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan kulit adalah tetap mandi dua kali sehari, minum 2-3 liter air putih, olahraga ringan hingga sedang, tidur minimal 8 jam di malam hari serta menggunakan pelembab minimal tiga kali sehari, utamanya di area tangan yang sering kering akibat mencuci tangan atau memakai hand sanitizer.

Menjaga nutrisi tubuh juga penting untuk dilakukan, jadi upayakan untuk makan makanan yang bergizi seperti sayur dan buah serta lengkapi dengan konsumsi vitamin C, B, D, E dan zinc. 

Perawatan kulit wajah selama isoman yang dapat dilakukan di rumah dengan basic skincare antara lain membersihkan wajah, melembabkan area wajah, tetap menggunakan sunblock meskipun di dalam ruangan dan mengeksfoliasi wajah untuk regenerasi kulit.

Produk yang digunakan harus sesuai dengan tipe kulit masing-masing. Untuk kulit berminyak dan kombinasi baiknya melakukan double cleansing, foaming soap, oil free moisturizer, sunblock non comedogenic dan eksfoliasi fisik atau kimiawi menggunakan produk yang mengandung AHA, BHA.

Sedangkan untuk kulit kering dan sensitif dapat memilih produk balm cleanser, non-SLS, hipoalergenik, oil-based atau cream based moisturizer, mineral sunblock tanpa parfum dan bahan pengawet, serta eksfoliasi dengan AHA dosis rendah

6. Telemedicine terbukti akurat untuk diagnosis masalah kulit

Merawat Masalah Kulit Selama Isoman/dok. Zap Clinic
Merawat Masalah Kulit Selama Isoman/dok. Zap Clinic

Studi yang dilakukan Hersh, et. al. menyatakan dermatologi merupakan salah satu bidang kedokteran yang memiliki akurasi tinggi dalam melakukan diagnosis dan memberikan pengobatan secara online. Hal ini juga didukung oleh penelitian Oliveira, et. al. yang menemukan akurasi diagnosis teledermatologis (telemedicine dengan dermatologis) memiliki sensitivitas 73%-97% dan spesifisitas 73%-83%. Dengan kata lain, teledermatologi dapat menjadi alternatif bagi penderita Covid-19 yang tengah isoman agar tetap mendapatkan pengobatan. 

“Sejak 2020, ZAP sudah melayani teledermatologi melalui video call sebagai upaya untuk mengurangi mobilitas serta menurunkan risiko penularan Covid-19. Untuk kasus yang dicurigai Covid-19, diagnosis yang paling banyak adalah makulopapular dan urticaria,” terang Dokter Novi.

#elevate women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela