Fenomena Zoom Dysmorphia Membuat Seseorang Tidak Percaya akan Penampilannya di Dunia Nyata

Anisha Saktian Putri22 Sep 2021, 09:30 WIB
Diperbarui 22 Sep 2021, 09:30 WIB
Fenomena Zoom Dysmorphia Membuat Seseorang Tidak Percaya

Fimela.com, Jakarta Work From Home membuat kita untuk terhubung melalui meeting online. Zoom pun menjadi salah satu platform telekonferensi yang mempermudah hal tersebut.

Namun, terlalu banyak menggunakan aplikasi Zoom ternyata memiliki efek negatif yang disebut dengan fenomena "Zoom Dysmorphia". Sebuah studi yang dirilis “International Journal of Women's Dermatology”, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut bisa memicu gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya menjadi kurang percaya diri.

Istilah ini tidak hanya ditujukan pada pengguna Zoom saja namun juga pada pengguna platform telekonferensi lainnya, termasuk juga fasilitas video call.

Menurut penelitian tersebut, Zoom Dysmorphia merupakan suatu kondisi seseorang mudah cemas dan khawatir penampilan fisik aslinya di dunia nyata akan berbeda dengan tampilan di dunia virtual. Rasa tidak percaya diri ini berasal dari seringnya penggunaan platform video call, serta pemanfaatan filter di platform tersebut untuk memoles tampilan wajah sendiri supaya enak dipandang oleh lawan bicara.

Para peneliti tersebut mengungkapkan bahwa durasi waktu yang meningkat untuk melakukan konferensi video, menggunakan media sosial, dan menggunakan filter pada platform video call selama pandemi bisa berdampak terhadap memburuknya persepsi akan diri sendiri.

Gelombang informasi melalui platform digital yang masif, juga derasnya unggahan foto dan video di sosial media yang selalu menampilkan standar kecantikan tertentu membuat para wanita ingin mengikuti standar tersebut. Standar kecantikan yang tidak mampu diraih membuat krisis kepercayaan diri pada mereka.

Dr. Lanny Juniarti Dipl. AAAM selaku pendiri dan direktur dari Miracle Aesthetic Clinic juga mengatakan jika Zoom dysmorphia ini tentu akan mengganggu kesehatan mental seseorang.

“Meski bertemu virtual, menggunakan Zoom terlalu lama memicu gangguan kesehatan mental selama pandemi ini. Nantinya ada kecemasan dan tidak siap untuk WFO hal ini dikarenakan standar penampilan. Ada tiga alasan utama yang membuat mereka jadi takut. Pertama adalah naiknya berat badan, kedua warna kulit yang tidak merata, dan ketiga adalah jerawat,"ujar dr. Lanny dalam acara Anniversary ke-25 Miracle. 

Dampak lainnya

Aplikasi meeting online
Aplikasi meeting online (c) Shutterstock

Dampak lainnya para perempuan tidak benar-benar mengetahui apa yang diinginkannya, memanfaatkan filter secara berlebihan serta hanya sekadar meniru tampilan orang lain yang dirasa sesuai standar kecantikan tertentu yang diinginkan. Padahal tanpa disadari hal tersebut malah membuat dirinya semakin tidak percaya diri.

"Sering menggunakan filter, justru membuat kecemasan meningkat sampai 83 persen. Hal ini dikarenakan filter mengubah wajah secara virtual, namun saat dihadapkan di kehidupan nyata justru tidak percaya karena virtual dan nyata berbeda,” ungkap Dr. Lanny.

Untuk itu, Dr. Lanny ingin mengajak perempuan tampil percaya diri dan berani menampilkan kecantikan individualnya, yaitu tampil dengan versi terbaiknya tanpa meniru atau menjadi seperti orang lain melalui campaign yang bertajuk #BeBraveToBeYou.

“Merawat kulit wajah merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Memiliki kulit yang terawat bisa membuat merasa lebih nyaman yang nantinya berdampak juga ke kehidupan. Hal ini juga mencerminkan bahwa kita menghargai diri sendiri,” ujar dr. Lanny. 

dr. Lanny mengatakan sejak 2019, Miracle memiliki perawatan wajah menggunakan metode “Facial Architecture” yanh membantu untuk memancarkan keunikan dan ke-khas-an diri kita sendiri.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada Januari 2018 di Frontiers in Psychology, melakukan kegiatan positif seperti merawat kulit terbukti mampu mengaktifkan area tertentu di korteks prefrontal yaitu area pada otak manusia yang berkaitan dengan perasaan bahagia.

“Melalui #BeBraveToBeYou, Miracle berkomitmen untuk menginspirasi dan membantu per Indonesia menjadi lebih percaya diri dan berani menampilkan kecantikan individualnya, yaitu tampil dengan versi terbaiknya tanpa menjadi seperti orang lain, sehingga mereka lebih nyaman dan bahagia merayakan keunikan dirinya,” tutup dr . Lannya.

#elevate women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela