Bhumi, Skincare Ramah Lingkungan Selamatkan Bumi jadi Lebih Baik

Nabila Mecadinisa28 Des 2021, 11:30 WIB
Diperbarui 28 Des 2021, 11:30 WIB
Bhumi Skincare

Fimela.com, Jakarta Isu pencemaran lingkungan semakin nyata. Tanda global warming juga semakin kita rasakan. Kebiasaan sehari-hari membuat bumi jadi tercemar, bahkan laut juga semakin dipenuhi oleh sampah, dan membahayakan ekosistem yang ada. 

Pada 2019 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa Indonesia berada dalam situasi darurat sampah plastik. Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia, sekitar 3,5 juta ton per tahun.

Hal ini pulalah yang melandasi Bhumi Skincare untuk membuat kemasan isi ulang yang ramah lingkungan. “Kami melihat, isu lingkungan sedang marak dan sampah plastik bertambah setiap tahun. Indonesia sendiri menghasilkan 33 juta ton sampah setiap tahun, dan rata-rata merupakan sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang secara alami,” kata Ahmad Rashed, pemilik Bhumi Skincare. 

Mencari destinasi langsung ke akar

Bhumi Skincare
Menghadirkan alternatif skincare dengan formulasi dan kemasan ramah lingkungan, Bhumi bisa jadi solusi masalah kecantikan kulit yang bisa diandalkan.

Daripada bekerja sama dengan perusahaan pengelolaan sampah, Ahmad memilih mencari solusi langsung pada akar masalahnya. Dalam proses pengembangan produk kecantikan refill pack, ia memikirkan cara agar konsumen bisa mendapatkan manfaat produk kecantikan, tanpa menimbulkan masalah baru, yaitu sampah plastik. 

Hingga kemudian Bhumi Skincare membuat inovasi refill pack yang kemasannya biodegradable dan sustainable. “Karena terbuat dari craft paper, kemasan refill pack tersebut akan terurai secara alami dengan cepat dan mudah. Di dalam kemasan tidak terdapat lapisan plastik sama sekali. Kami juga memastikan bahwa kemasan itu compatible dengan moisturizer yang kami produksi. Refill pack ini merupakan aksi konkret kami dalam melawan isu lingkungan terkait sampah plastik,” kata Ahmad, yang berharap inovasi ini juga bisa diterapkan pada produk kecantikan lain, seperti face oil.

Beauty enthusiast Poppy Septia mengungkapkan, para beauty enthusiast juga menyadari bahwa produk kecantikan menghasilkan banyak sampah. Karena itu, mereka berusaha memakai produk kecantikan yang ramah lingkungan. Misalnya, menggunakan cleansing oil yang aplikasinya tidak memerlukan kapas. Selain itu, ia sendiri juga mengumpulkan berbagai kemasan kecantikan yang sudah kosong, lalu mengirimnya ke bank sampah yang menerima plastik dan kaca. 

Bagi Poppy, refill pack yang dirilis oleh Bhumi Skincare juga ramah bagi dompet, sekalipun kemasannya dibuat dari craft paper khusus. Menariknya, ia juga menilai kemasan tersebut sangat hemat tempat karena slim dan juga travel friendly karena bisa dimasukkan ke dalam pouch kecil. “Kemasan ini juga higienis, karena ada tutup yang mengunci. Kalaupun tidak punya jar lama, kita bisa langsung pakai produk dari kemasan isi ulangnya.”

Saatnya bergerak

Bhumi Skincare
Menghadirkan alternatif skincare dengan formulasi dan kemasan ramah lingkungan, Bhumi bisa jadi solusi masalah kecantikan kulit yang bisa diandalkan.

 

Aksi Bhumi Skincare tak hanya didukung oleh para beauty enthusiast. Indonesia Biru Foundation, organisasi independen yang bergerak dalam peningkatan literasi kelautan bagi masyarakat juga mengingatkan tentang pentingnya pengurangan sampah plastik.Andre Saputra, pendiri Indonesia Biru Foundation mengungkapkan bahwa sampah yang kita hasilkan masih jauh lebih besar daripada kapasitas pengolahan sampah. Artinya, masih banyak sampah yang tidak dikelola dengan tepat.

Sampah plastik yang tidak dikelola dengan benar kemungkinan besar akan terbawa sampai ke pantai dan laut. Untuk daerah yang mengandalkan wisata pantai, sampah ini akan merusak pemandangan. Dampaknya, lokasi wisata yang seharusnya cantik dan bersih tak lagi menarik untuk dikunjungi. 

Namun, ada dampak dari sampah plastik yang sangat mengganggu kehidupan hewan-hewan di bawah laut. Andre bercerita, di bawah laut kantong plastik itu terlihat seperti ubur-ubur, yang menjadi makanan penyu. Tapi, karena tidak bisa membedakan antara plastik dan ubur-ubur, maka penyu memakan plastik tersebut, sehingga kemudian banyak yang mati. 

“Ketika diautopsi, di dalam perutnya ditemukan banyak plastik. Hal yang sama terjadi pada biota laut yang besar, seperti paus. Apa pun yang ditangkap oleh mulutnya akan masuk ke perut, termasuk sampah plastik. Inilah kenapa banyak paus yang mati dan kemudian terdampar di pantai,” kata Andre. 

 Sekaranglah saatnya bergerak untuk mengurangi sampah demi Bumi yang lebih baik.

 

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela