Diary Fimela: Antrean Home Studio Lash Addicted yang Panen Cuan, Awalnya Dimulai dari Kos-Kosan

Novi Nadya22 Jun 2022, 17:30 WIB
Diperbarui 22 Jun 2022, 20:27 WIB
Home Studio Lash Addicted

Fimela.com, Jakarta Gimana, sih, cara kerja orang-orang memulai bisnisnya? Ada jawaban klise yang pasti sering kita dengar, "Mulai aja, dulu." Tapi kata-kata tersebut justru jadi mantra bagi Lisya Tio untuk memulai model bisnis yang dirintisnya sejak zaman masih di kos-kosan hingga akhirnya bisa membuka home studio sendiri untuk treatment eyelash extention dan nail art.

Semua berawal dari keinginan Lisya untuk menambah keterampilan baru dengan menjalani kursus eyelash di tahun 2018. Kala itu, dirinya masih berstatus mahasiswa tingkat akhir asal Batam yang berkuliah di daerah Gading Serpong, Tangerang.

Sambil mempraktikkan skill barunya, ia mulai membuka slot untuk klien dan tetap mencari peruntungan dengan melamar kerja kantoran. Beberapa kali berganti tempat kerja selama periode 2019 sampai 2021, ia pun memilih untuk fokus bekerja sampai akhirnya memasuki masa pandemi dan perusahaan terakhir yang mempekerjakannya harus gulung tikar.

"Mulai dari efisiensi karyawan dan perusahaan bangkrut saat Covid-19 bikin aku mematangkan niat untuk full time di usaha yang aku namakan Lash Addicted dan buka studio. Proses sebelum membuka home studio juga awal mulanya menerima klien di kos, sampai dari rumah ke rumah (home service)," kenang Lisya.

 

 

Eyelash Extention
Eyelash Extention favorit di Home Studio Lash Addicted (Foto: Instagram @lashaddicted_)

Selain magic word "Mulai aja dulu!", Lisya juga membagikan tips lainnya untuk kita yang ingin mulai bisnis yang sama, atau merintis usaha sejak muda. Apalagi jika kita sudah menyukai bidang usahanya, dengan kunci jangan pernah berhenti untuk belajar sesuatu hal yang baru.

"Selain ikut course eyelash, aku juga mengambil course nail art untuk menambah treatment di Lash Addicted. Nah, kalau kepentok sama harga course yang mahal, coba nabung aja perlahan dan sekarang juga sudah bisa sistem cicil yang mempermudah banget," lanjut Lisya.

Lisya sendiri menghabiskan biaya belasan juta rupiah saat belajar eyelash course dan nail art dengan rincian masing-masing sekitar Rp5 juta dan Rp13 juta. Hingga kini, ia masih terus meng-upgrade ilmu serta alat terbaru untuk home studio miliknya.

"Saat dapat cuan lagi, langsung diputar uangnya untuk beli alat-alat dan warna baru yang lagi tren. Atau dipakai upgrade ilmu lagi, jadi skill dan alat di studio tetap eksis dan enggak ketinggalan dengan tren sekarang," sambung perempuan berkacamata yang energik ini.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by @lisyatio

Omzet Naik 3x Lipat

Owner Lash Addiceted Lisya
Owner Lash Addiceted Lisya (Foto: Instagram @lashaddicted_)

Dengan bisnis model home studio, tentu ada keterbatasan yang dimiliki Lisya. Mulai dari ruangan, tenaga kerja, dan jumlah fasilitas yang terbatas.

"Kami menerapkan sistem appointment, jadi dalam satu hari, ada 4 slot yang bisa diisi oleh dua klien (11:00-13:00 -15:00-17:00). Setelah appointment, klien harus melakukan deposit, jika tidak ada down payment (DP) maka slotnya akan di-take over ke klien yang sudah DP," rincinya. 

Membuka home studio di masa pandemi juga membuat Lisya dan tim memperhatikan kebersihan dan kesehatan sebagai faktor utama. Sementara itu, ia juga berbagi strategi promo dengan memberikan potongan harga. 

"Selain pemasangan bulu mata palsu dengan teknik benar dan pakai bahan-bahan berkualitas, tentu semua alat yang dipakai selalu disteril. Lalu, karena kami sering bikin promo, buat yang mau cantik, enggak perlu mahal, jadi bisa terus menjaring antrean klien loyal dan baru yang ujungnya bikin omzet naik 3 kali lipat selama ada home studio," terangnya semringah.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by lashaddicted (@lashaddicted_)

Home Studio Lash Addicted
Nail Art koleksi Home Studio Lash Addicted (Foto: Instagram @lashaddicted_)

Perempuan Butuh Keterampilan Ekstra

Home Studio Lash Addicted
Home Studio Lash Addicted

Dari home studio yang eksklusif, Lisya memiliki keinginan untuk memperbesar lagi usahanya dengan shop houses atau rumah toko yang inklusif. Namun, ia juga tetap melayani home service yang yang menjadi 'akar' sejak awal membuka usaha. 

"Selain di area Gading Serpong, Tangerang kami juga bisa home service di Jakarta dengan minimun charge dan jumlah orang. Semoga jadi makin cepat bisa buka di ruko dengan layanan perawatan yang lebih banyak lagi," harapnya.

Sebagai perempuan, Lisya merasakan keuntungan memiliki keterampilan tambahan. Yang bisa membuatnya mandiri sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.

"Yes, sebagai perempuan, kita butuh banget skill extra. Incase terjadi hal yang tidak diinginkan, seenggaknya kita sudah punya pegangan atau keterampilan untuk bertahan," tutup Lisya.

 

#WomenForWomen 

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela