Sukses

Entertainment

7 Fakta Menarik di Balik Film “The Medium” yang Sukses Rajai Box Office

Fimela.com, Jakarta Film horor asal Thailand, The Medium, berhasil menarik perhatian penonton di bulan pertama perilisannya. Film yang mengangkat kisah perdukunan di daerah Isan, Thailand ini pun berhasil membuat penontonnya bergidik ketakutan.

Prestasinya pun tak main-main, The Medium berhasil memenangkan Bucheon International Fantastic Film Festival ke-25 dan merajai tangga Box Office, mengalahkan Black Widow. Sementara di Indonesia sendiri, film ini telah ditonton oleh lebih dari 520 ribu penonton.

Di balik segala pencapaian tersebut hingga masuk nominasi Piala Oscar 2022 untuk kategori Best International Film Feature, The Medium menyimpan sejumlah fakta menarik yang tidak bisa dilewatkan. Berikut ketujuh fakta di balik film The Medium.

Mockumentary

The Medium merupakan jenis film mockumentary. Artinya, film ini dibuat dengan gaya dokumenter, meskipun sebenarnya film ini tidak berjenis dokumenter. Banjong Pisanthanakun, selaku sutradara film mengatakan bahwa film horor Asia berjenis mockumentary masih sangat jarang ditemukan.

Tidak hanya karena jenis mockumentary, film ini juga spesial karena banyaknya detail visual yang disajikan. “Ini adalah film pertama saya yang sangat detail. Sangat banyak detail dan framingnya sulit,” ujar Banjong dalam wawancara eksklusif secara virtual pada Rabu (10/11).

Kolaborasi Dua Negara

Tidak sendirian, Banjong menggarap film ini bersama Na Hong Jin, seorang sutradara asal Korea Selatan. Uniknya, Banjong mengaku merasa sangat senang ketika ide cerita film ini diterima oleh Na Hong Jin.

“Ketika ide cerita film ini diterima oleh Na Hong Jin saja saya sudah senang, karena bekerja sama dengan beliau tidak mudah. Na Hong Jin terkenal punya standar yang tinggi,” ujar sutradara 42 tahun tersebut.

 

Persiapan Matang

Kesuksesan film ini terwujud dari persiapannya yang matang. Persiapan tersebut meliputi penulisan ide cerita, pembuatan lagu-lagu dan koreografi di dalamnya, hingga pendalaman peran para pemain.

Untuk mematangkan ide cerita, sutradara dan timnya harus mendalami tentang syamanisme di Thailand. Hal tersebut diungkapnya membutuhkan waktu selama satu tahun lebih. Selain itu, semua lagu-lagu dan tarian untuk ritual di dalam film tersebut juga merupakan ciptaan baru.

Totalitas Narilya Gulmongkolpech

Pemeran Mink, Narilya Gulmongkolpech mengungkapkan bahwa dirinya harus menurunkan bobot tubuhnya hingga 10 kilogram untuk peran tersebut. Sosok Mink sendiri adalah seorang perempuan yang kerap mengalami kesurupan roh jahat.

“Untuk kepentingan film ini, untuk akting adegan (kesurupan) ini, saya harus diet hingga 10 kilogram. Jadi sudah tidak ada tenaga saat itu,” ujar Narilya dalam kesempatan wawancara yang sama.

Belajar Merokok

Tidak hanya harus menurunkan berat badannya, Narilya juga belajar merokok demi kepentingan peran ini. Hal tersebut dilakukannya karena karakter Mink adalah seorang perokok, sedangkan dirinya bukan.

Selain merokok, karakter lain yang membedakan Narilya dan Mink adalah kehidupan Narilya yang tinggal di kota, sementara Mink menetap di desa dan memiliki keluarga yang percaya pada perdukunan.

Adegan Tersulit

Narilya tampaknya berjuang maksimal demi menghasilkan akting yang terbaik dalam film tersebut. Perempuan 21 tahun tersebut mengungkap salah satu adegan tersulit baginya adalah ketika karakter Mink sepenuhnya kesurupan, karena ia harus memperagakan gerak-gerik kesurupan.

Pengakuannya tersebut didukung juga oleh Banjong yang mengatakan bahwa pada adegan kesurupan, memang aktingnya sulit ditambah dialognya sedikit. Agar mendapat gestur kesurupan yang maksimal, Narilya juga berlatih yoga agar tubuhnya lentur.

 

Peluang Prekuel

Ending dari The Medium sendiri tidak memberi jawaban pasti tentang akhir cerita ini. Banjong mengungkap, hal tersebut sengaja dilakukan agar penonton memprediksi sendiri.

Ketika ditanya tentang kemungkinan sekuel The Medium, Banjong tidak ingin memberi harapan lebih ke penonton. Namun, ia menyebut akan lebih besar peluang untuk dibuat prekuelnya.

“Lebih memungkinkan untuk prekuel, seperti Conjuring. Lebih ada peluang, tapi ini masih dalam tahap pemikiran ya. Belum keputusan akhir,” jawab sutradara yang juga memproduksi film Shutter tersebut.

 

Penulis: Nathania Marisa

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading