Tayang di Indonesia, Film Nominasi Oscar 2022 'Writing With Fire' Kisahkan Jurnalis Wanita di India

Anto Karibo06 Jul 2022, 20:45 WIB
Diperbarui 07 Jul 2022, 15:43 WIB
Film Writing With Fire (YouTube/Black Ticket Films)

Fimela.com, Jakarta Film berjudul Writing with Fire menoreh prestasi gemilang di ajang Oscar 2022. Film ini masuk ke dalam nominasi kategori Film Dokumenter Terbaik. Sekadar diketahui, film produksi India ini merupakan karya sineas Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas.

Namun, keberuntungan masih belum berpihak kepada filmtersebut karena film berjudul Summer of Soul (...Or, When the Revolution Could Not Be Televised) yang berhasil membawa pulang Piala Oscar 2022 untuk kategori ini.

Film Writing with Fire sendiri berkisah tentang kehidupan tiga jurnalis perempuan yakni Meera Devi, Shyamkali Devi, dan Suneeta Prajapati, yang bekerja di koran mingguan Khabar Lahariya.

Media Digital

Film Writing With Fire (YouTube/Black Ticket Films)
Film Writing With Fire (YouTube/Black Ticket Films)

Tak salah jika Academy Awards memberi nominasi Film Dokumenter Terbaik untuk Writing with Fire. Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas memberi gambaran kompleks soal susahnya jadi wanita di India. Ada banyak faktor pemicu.

Masalahnya, India memuat banyak ketimpangan. Masih banyak jurnalis yang rumahnya belum dialiri listrik. Selain itu, struktur masyarakat yang masih menganggap perempuan sebagai makhluk kelas dua. Wanita karier pulang malam digunjing tetangga itu nyata.

Belum lagi jika ia menyewa rumah dan pihak penyewa berasal dari kasta yang lebih tinggi. Bukan hanya itu, rasa aman untuk perempuan adalah barang langka. Tak heran jika jelang pemilu, para kandidat yang menunggangi kendaraan parpol dicecar pertanyaan seputar maraknya kasus perkosaan yang menguap di meja polisi hingga hakim.

Semua permasalahan tersebut, dituturkan secara lugas seraya memotret kompleksnya persoalan sosial-hukum-politik di India, menjadikan Writing with Fire dokumenter yang lantang dalam menyatakan sikap dengan 'meminjam' kehidupan para tokohnya.

Gambaran Kompleks

Film Writing With Fire (YouTube/Black Ticket Films)
Film Writing With Fire (YouTube/Black Ticket Films)

Tak salah jika Academy Awards memberi nominasi Film Dokumenter Terbaik untuk Writing with Fire. Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas memberi gambaran kompleks soal susahnya jadi wanita di India. Ada banyak faktor pemicu.

Masalahnya, India memuat banyak ketimpangan. Masih banyak jurnalis yang rumahnya belum dialiri listrik. Selain itu, struktur masyarakat yang masih menganggap perempuan sebagai makhluk kelas dua. Wanita karier pulang malam digunjing tetangga itu nyata.

Belum lagi jika ia menyewa rumah dan pihak penyewa berasal dari kasta yang lebih tinggi. Bukan hanya itu, rasa aman untuk perempuan adalah barang langka. Tak heran jika jelang pemilu, para kandidat yang menunggangi kendaraan parpol dicecar pertanyaan seputar maraknya kasus perkosaan yang menguap di meja polisi hingga hakim.

Semua permasalahan tersebut, dituturkan secara lugas seraya memotret kompleksnya persoalan sosial-hukum-politik di India, menjadikan Writing with Fire dokumenter yang lantang dalam menyatakan sikap dengan 'meminjam' kehidupan para tokohnya.

Suarakan Ketidakadilan

Film Writing With Fire (YouTube/Black Ticket Films)
Film Writing With Fire (YouTube/Black Ticket Films)

Di sinilah peran para jurnalis menjadi penting untuk menyuarakan ketidakadilan, mewakili korban dari sebuah sistem sosial yang tak sempurna, hingga menjelma cermin bagi masyarakat. Ibarat kue, Writing with Fire terasa legit sejak awal hingga gigitan terakhir.

Para tokoh utama dimanusiakan, tampil natural, hingga terasa dekat dengan penonton. Yang tak berprofesi wartawan pun, bisa dengan mudah merasakan romantika jadi pekerja media.

Film ini pada akhirnya tak hanya menjadi corong bagi jurnalis. Ia mewakili suara hati istri, ibu, dan anak gadis di tengah pusara ketidakadilan hingga agama yang dijadikan aset dagang jelang Pemilu.

Dan jika tidak berpikir kritis, perempuan bisa menjadi korban di dalamnya. Di sinilah pentingnya pendidikan dan menjadi terpelajar.

Pesan paling menohok ada di babak ketiga. Seorang perempuan membahas gelar Ibu bagi negeri India. Kok bisa, di negeri Ibu, kaum hawa justru tidak aman dan perkosaan seolah dilazimkan?

Fakta lain, sejak 2014, lebih dari 40 jurnalis terbunuh di India. Data ini menjadikan India salah satu negara paling mematikan bagi para jurnalis. Tak heran film ini mempertanyakan keamanan bagi jurnalis perempuan.

Durasi 92 menit tak terasa lama lantaran fakta, data, dan pesan yang disampaikan Writing with Fire penting sekaligus relevan bagi siapa saja. Anda bisa menyaksikannya secara legal lewat platform streaming KlikFilm.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela