Masih Dipandang Sebelah Mata, Indonesia Sebenarnya Punya Industri Street Wear yang Potensial

Stanley Dirgapradja25 Jun 2018, 11:20 WIB
BEKRAF, AGENDA 2018 Press Conference

Fimela.com, Jakarta Saat kita berbicara fashion di tanah air, mungkin akan sedikit sekali yang menyinggung soal street wear. Industri fashion tanah air masih berfokus pada pakaian-pakaian perempuan, konsep couture, dan trend ready to wear. Industri street wear nyatanya masih dipandang sebelah mata. Begitu yang diungkapkan perwakilan tim kurasi BEKRAF, Khairiyyah Sari, pada saat konferensi pers AGENDA show 2018 akhir pekan lalu di Hard Rock Cafe, Jakarta.

Akhir pekan depan, tepatnya 28 hingga 30 Juni 2018, BEKRAF memfasilitasi 5 street wear brand lokal untuk mengikuti pameran AGENDA show 2018 yang berlangsung di Long Beach, California, Amerika Serikat. AGENDA show sendiri merupakan pameran fashion khusus kategori streetwear, action sport, denim, footwear, surfing dan skate, yang sudah berlangsung sejak 2003 dan tiap tahunnya sukses mendatangkan puluhan ribu pengunjung.

“Keikutsertaan ini mencerminkan salah satu upaya BEKRAF untuk terus meningkatkan fashion sebagai sektor unggulan ekraf di Indonesia,” ujar Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak. Ia menambahkan diharapkan dengan dukungan ini, industri fesyen streetwear tanah air semakin berkembang pesat dan mendapat tempat di hati dunia.

Menurut data Outlook Ekonomi Kreatif 2017 yang diterbitkan oleh BEKRAF sub sektor fashion merupakan salah satu sub sektor ekraf (ekonomi kreatif) dengan nilai pendapatan terbesar (tahun 2016) yaitu senilai Rp 166 triliun atau berkontribusi sebesar 18,01% terhadap PDB Ekraf. Secara umum, nilai ekspor produk fashion Indonesia pada 2015 mencapai US$ 10,90 miliar, meningkat sebesar 1,84% dibandingkan ekspor di tahun 2014 dan memberikan kontribusi sebesar 54,54% terhadap total nilai ekspor sektor ekraf. Nilai tersebut menjadikan sub sektor fashion sebagai salah satu industri yang sangat penting bagi ekonomi kreatif.

 

BEKRAF, AGENDA 2018 Press Conference, Paradise Youth Club
BEKRAF, AGENDA 2018 Press Conference, Paradise Youth Club

Negara tujuan ekspor terbesar produk fashion Indonesia adalah Amerika Serikat dengan nilai sebesar US$ 4,72 miliar, lalu di posisi kedua dan ketiga berturut-turut adalah Jepang dengan nilai ekspor US$ 943,6 juta, dan Jerman dengan nilai ekspor US$ 701 juta. Komoditas terbesar produk fashion ke Amerika Serikat berasal dari industri pakaian jadi dari tekstil. Tidak heran bila keikutsertaan 5 street wear brand lokal ke event AGENDA show ini terhitung cukup penting.

Dalam Agenda Show 2018, BEKRAF akan membawa 5 brand lokal yang sudah melewati tiga tahapan kurasi oleh para kurator BEKRAF. Untuk kurasi tahapan kedua dilakukan kurasi langsung oleh brand partnership Agenda yaitu Richard Soto. Pendaftaran terbuka telah dilakukan yaitu dimulai tanggal 27 Februari 2018 dan berlangsung selama 2 minggu. “Masyarakat cukup antusias dengan acara ini, ratusan peserta ikut berpartisipasi dengan berbagai produk mereka. Setelah melalui tiga tahapan kurasi, terpilihlah lima brand yang dirasa tepat,” ucap Khairiyyah Sari.

Lebih lanjut, 5 brand yang didukung oleh BEKRAF di Agenda Show 2018 ini adalah Elhaus dengan modern menswear dan denim, Paradise Youth Club dengan inspirasi gaya hidup 90’s skate dan musik, OldblueCo yang fokus di produksi denim, Monstore yang memiliki koleksi unisex, apparel, dan home, serta Potmeetspop asal Bandung yang berkreasi dengan aneka denim rancangan modern.

Mungkin tak banyak yang tahu, tapi beberapa brand di atas sudah berprestasi dengan cara mereka masing-masing. Seperti Paradise Youth Club yang sudah pernah ditampilkan oleh Hypebeast dan bahkan punya stokis dari Jepang, Korea, London, sampai Dover Street Market di Singapura.