Cokelat tetap garang pakai tenun NTT di penutupan Asian Para Games

Novi Nadya14 Okt 2018, 16:00 WIB
Band Cokelat

Fimela.com, Jakarta Asian Para Games 2018 resmi ditutup di GBK, Senayan, Jakarta semalam, (13/10). Band Cokelat menjadi salah satu pengisi acara yang kompak memakai wastra nusantara.

Band beraliran rock alternatif ini tetap energik dalam balutan kostum panggung warisan budaya kain tenun NTT dari LeViCo Butik. Keempat busana yang dipakai pun berasal dari daerah berbeda.

Seperti tenun sang vokalis Jackline Rossy yang berasal dari Pulau Sabu. Kain didesain menjadi maxi blazer yang dipadukan dengan inner serba hitam.

Axel penggebuk drum juga tetap atraktif dengan vest berwarna lebih cerah dari tenun Kota So'e yang membuatnya bergerak leluasa. Edwin memakai tenun dari Manggarai dan Ronny menggunakan tenun dari Flores yang dibentuk blazer bergaya military.

Membawakan tiga lagu, keempatnya berhasil membuat panggung Asian Para Games semakin panas dan sekaligus bernostalgia dengan Cokelat yang sebelumnya diisi oleh Kikan sebagai vokalis.

Tenun NTT tampil di Paris Fashion Week

Tenun NTT
Julie S Laiskodat berpose bersama para model yang memakai LeViCo tenun NTT (Liputan6.com/Pool/Julie S Laiskodat)

Tenun NTT dari brand lokal LeViCo sendiri adalah milik Juli S. Laiskodat. Busana rancangan dua desainer in-house-nya pun belum lama ini melenggang di Paris Fashion Week.

"Dunia fashion Eropa tertarik dengan budaya Indonesia, dalam hal ini tenun NTT dan kisah di baliknya, yaitu women empowerment. Karena kebanyakan mata pencaharian perempuan di NTT adalah penenun, jadi sumber pendapatan menjadi perajin," ujar Julie saat dihubungi Fimela.com beberapa waktu lalu. 

Julie sendiri mengaku tertarik dengan tenun NTT karena sang suami yang asli NTT. Saat berkeliling NTT, ia melihat masalah inti ada modal dan pangsa pasar.

"Awalnya saya ingin berbuat sesuatu untuk NTT. Akhirnya saya membuat kelompok perajin di setiap desa yang memantau ketersediaan benang yang jadi modal utama. Kalau kosong pembeli, bisa langsung jual ke saya dan saya taruh di butik LeViCo Jakarta. Agar dapur mereka bisa terus ngebul," lanjut ibu tiga anak ini.

Maka saat karya para perajin dari tiga kabupaten melihat karyanya dipakai model internasional, rasa haru pun tak terbendung lagi. Julie pun merasa usahanya selama lima tahun ini membuahkan hasil.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓