Review: Novel The Portrait of a Lady Karya Henry James

Fimela07 Sep 2018, 19:30 WIB
The Portrait of a Lady./Copyright Vemale/Endah

Judul: The Portrait of a Lady
Penulis: Henry James
Penerjemah: Reinitha Lasmana
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain sampul: Windu Tampan
Cetakan I, Februari 2018
Penerbit Qanita (PT Mizan Pustaka)

Isabel Archer, seorang perempuan muda berkebangsaan Amerika yang cerdas dan independen, mewarisi sejumlah kekayaan dari pamannya. Keinginan Isabel untuk bebas menentukan garis nasibnya sendiri membuatnya menolak para pria yang melamarnya. Dia malah jatuh cinta dan menikah dengan Gilbert Osmond, seorang ekspatriat Amerika yang telah lama tinggal di Eropa.

Ternyata di balik pesona seorang Gilbert, tersembunyi sifat licik. Pria ini tidak segan-segan memanfaatkan dan menindas orang lain demi kepentingannya sendiri. Ketika Isabel akhirnya menyadari keburukan Gilbert, dia harus memilih antara mencampakkan perkawinannya atau tetap bertahan dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah dia buat.

***

Harta melimpah dan kekayaan bukan jaminan untuk bisa bebas dan bahagia. Hal itulah yang dirasakan oleh Isabel Archer. Kehidupan Isabel berubah ketika Mrs. Touchett tertarik padanya. Isabel diajak keliling Eropa, dididik, dan mendapat kenyamanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ralph putra Mr. dan Mrs. Touchett meminta agar bagian dari warisan keluarga diberikan pada Isabel. Hal ini juga tak terlepas dari perasaan khusus yang dimiliki Ralph pada Isabel. Hanya saja karena keadaan dan kondisi yang menurut Ralph tak memungkinkan, ia memutuskan untuk mencari jalan lain dalam memberikan cintanya pada Isabel.

The Portrait of a Lady./Copyright Vemale/Endah

Isabel punya daya tarik yang membuat pria-pria terpandang mudah jatuh cinta padanya. Akan tetapi, Isabel malah jatuh hati pada seorang ekspatriat Amerika bernama Gilbert Osmond. Isabel membuat pilihannya sendiri. Sehingga ia pun harus menanggung semua risiko yang ada dalam pilihannya tersebut.

Siapa sangka ternyata Gilbert ternyata memiliki topeng yang lain. Ada sifat dan keburukan yang sebenarnya sangat meremukkan hati Isabel. Ternyata kebebasan memilih yang dipunya Isabel tak serta merta akan selalu memberinya kebahagiaan. Setiap pilihan dan kebebasan ternyata bisa memberikan batasan dan hal-hal yang tak pernah diduga.

Novel The Portrait of a Lady./Copyright Vemale/Endah

Latar tempat di novel ini dipaparkan dengan begitu detail. Mulai dari kediaman keluarga Touchett, Gardencourt, sudut-sudut kota London, dan tempat-tempat yang mempunyai cerita sendiri di Roma. Kita akan dibawa ke lorong waktu menjelajahi berbagai tempat mengesankan pada pertengahan kedua abad ke -19.

Sosok Isabel tampaknya bisa mewakili hal-hal yang sering dialami wanita pada zaman apapun. Mulai dari soal pernikahan, kebebasan memilih, hingga upaya untuk menciptakan kebahagiaan sendiri di tengah kondisi yang begitu pelik. The Portrait of a Lady adalah novel Henry James yang paling populer, telah diangkat ke layar lebar pada 1996.

Bagi yang menyukai karya klasik dengan tokoh utama seorang wanita berkarakter kuat, The Portrait of a Lady bisa jadi referensi yang pas. Ada banyak hal dan perasaan yang dialami Isabel yang tampaknya begitu dekat atau pernah kita rasakan sendiri sebagai seorang wanita.

(vem/nda)