Review: Novel Terbang karya Silvarani

Fimela19 Sep 2018, 20:00 WIB
Terbang./Copyright Vemale

Judul: Terbang
Penulis: Silvarani
Penyunting: Teguh Afandi
Penata aksara: CDDC
Desain sampul: elhedz
Penerbit: Noura Books

Terbanglah, Chun! Terbanglah menembus langit!
Mimpi-mimpimu tergantung di sana.

Siang yang terik. Badan kuyup keringat dan kaki tanpa alas, A Chun mengintip ke dalam kelas. Di sana A Lie, kakaknya duduk menyimak tekun. A Chun hanya dapat berharap, suatu saat dia juga bisa duduk menyimak pelajaran. Bungsu dari delapan bersaudara itu harus menelan pil pahit, karena keluarganya hanya mampu menyekolahkan A Lie.

Untunglah, guru-guru A Lie mengizinkan A Chun masuk kelas. Bagaimanapun hidup A Chun tak lantas berjalan mulus. Nasibnya kembali dipertaruhkan ketika dia lulus SMA dan hijrah ke Surabaya.

Air mata, keringat, dan rasa putus asa hampir saja merenggut semangat Onggy. Namun, satu yang selalu diingat, dia harus terbang menggapai impian.

***

Novel Terbang./Copyright Vemale
Terbang, novel yang satu ini diadaptasi dari film yang berjudul sama. Novel ini ditulis seperti biografi. Menceritakan kehidupan Onggy dari kecil hingga dewasa. Onggy lahir dalam keluarga yang punya banyak anak. Ia pun tak bisa sekolah. Hanya satu kakaknya yang bisa sekolah.

Tinggal di kota Tarakan, keluarga Onggy memenuhi kebutuhan hidup dari toko serba ada yang dijalankan oleh papanya. Kehidupa mereka tak bisa dibilang berkecukupan. Malah cenderung pas-pasan. Semua kondisi itulah yang membuat Onggy kemudian bertekad ingin mengubah nasibnya.

Hidup jadi makin berat setelah Papa Onggy berpulang. Namun, Onggy tak patah arang. Dia ingin membuktikan bhawa dirinya sebagai keturunan Tionghoa bisa memberi kontribusi kepada tanah airnya. Dia sudah punya impian yang begitu besar untuk masa depannya.

Terbang./Copyright Vemale

Banyak pesan moral yang bisa dipetik dari novel ini. Begitu banyak hal-hal positif yang bisa kita ambil dari kehidupan dan perjuangan Onggy. Dalam menjalankan bisnis atau usaha misalnya, banyak hal dan strategi yang bisa kita pelajari dari Onggy. Semangat dan kegigihannya benar-benar luar biasa.

Hidup memang kadang tak berjalan dengan mulus atau sesuai dengan harapan. Meski begitu, selalu ada ruang untuk bisa terus optimis. Apalagi bila masih memiliki orang-orang yang selalu mendukung dan memberi kita semangat, maka hidup masih sangat layak untuk diperjuangkan.

Sangat beruntung Onggy memiliki istri seperti Candra. Bersama Candra, Onggy bisa terus melangkah memperjuangkan impiannya. Kerasnya kehidupan Onggy pun membentuk karakternya jadi lebih kuat hadapi kepahitan hidup.

Kalau kamu belum sempat nonton filmnya, bisa baca dulu bukunya ini, ladies. Membaca bukunya akan menghadirkan perasaan yang begitu hangat. Kita akan kembali diingatkan untuk terus memperjuangkan hidup dan mewujudkan impian yang pernah kita terbangkan semasa kecil.



(vem/nda)