Debat Gunakan Bulu Asli dan Palsu di Industri Fashion, Mana yang Lebih Baik?

Vinsensia Dianawanti20 Mar 2019, 07:00 WIB
Gucci

Fimela.com, Jakarta Penggunaan bulu hewan asli menjadi salah satu topik sensitif di industri fashion. Hingga akhirnya banyak pengiat fashion mengganti bulu hewan asli menjadi bulu palsu sebagai bentuk pelestarian lingkungan dan mencegah kepunahan. Mulai dari Gucci, Burberry, dan sejumlah merek berkelas melarang penggunaan bulu dalam produknya.

London Fashion Week juga ikut serta dalam kampanye bebas bulu hewan asli pada September lalu. Sebagai gantinya, setiap merek yang ikut serta di London Fashion Week harus mencari alternatif bahan.

Namun dikutip dari Independent pada Senin (18/3/2019) para pecinta lingkungan mengklaim bahwa bahan pengganti bulu hewan asli justru menjadi musuh bagi bumi. Karena sebagian besar merek akhirnya menggunakan bahan yang terbuat dari plastik dalam pembuatan produk fashion. Sebenarnya, mana yang lebih baik? Menggunakan bulu asli atau palsu?

Beberapa produsen bulu terus berproduksi dengan menggunakan spesies seperti rubah, kelinci, dan chinchilla. Meski banyak sekali merek yang katanya tidak lagi menggunakan bulu, nyatanya merek seperti Fendi, Louis Vuitton dan Miu Miu masih menggunakan bulu beberapa binatang dalam koleksinya.

 

Perdebatan gunakan bulu hewan asli atau palsu

Chanel di Paris Fashion Week
Peragaan busana Chanel di Paris Fashion Week. (FRANCOIS GUILLOT / AFP)

Mark Oaten yang merupakan Ketua Federasi Bulu Internasional mengungkapkan bahwa ia percaya bulu dapat bersumber secara etis dan secara signifikan lebih berkelanjutan daripada menggunakan bahan alternatif palsu, seperti plastik. Produk seperti bulu ini dinilai benar-benar alami yang dapat terdegradasi secara biologis.

Federasi Bulu Internasional tengah mengusahakan proses pengembangan sertifikasi global yang disebut Furmark. Tujuannya untuk memberikan kepercayaan pada brand dan konsumen soal kesejahteraan hewan terkait dengan peternakan bulu.

Namun aktivis lingkungan menampik hal tersebut. Para aktivis lingkungan berpendapat bahwa produksi bulu justru menimbulkan ancaman lingkungan. Seperti polusi air dalam bentuk nitrogen dan fosfor dari kotoran hewan. Lalu timbul juga polusi udara dari pembakaran bangkai hewan yang melepaskan polutan seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida, dan asam klorida.

Di sisi lain, mantel bulu palsu dibuat dari serat sintetis yang berasal dari bahan bakar fosil. Bahan bakar ini berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Bahan serat buatan, seperti poliester merupakan produk sampingan dari industri perminyakan.

Padahal perputaran industri fashion sangatlah cepat. Yang membuat pakaian yang tidak masuk dalam jajaran tren akan menjadi sampah di dalam lemari.

 

Menggunakan bulu palsu dari kompos

Merek House of Fluff yang berbasis di New York datang dengan solusi yang dirasa bisa menjadi jalur tengah untuk perdebatan ini. Mereka membaut sebagian besar produk bulu tiruannya dari bahan pewarna dan bahan alami. Merek tersebut menggunakan materi yang dinilai paling ramah lingkungan.

Mereka bekerja sama dengan para ilmuwan di Cradle untuk menghasilkan tekstil bulu palsu yang berasal dari kompos. Meski kini bulu palsu dari kompos ini belum terlalu banyak digunakan. Menurut Sahabat Fimela, lebih baik mana? Menggunakan bulu hewan asli atau palsu?

Lanjutkan Membaca ↓