Eksotiknya Tenun Indonesia dalam Gelaran JFFF 2019

Meita Fajriana17 Agu 2019, 17:00 WIB
Tenun di JFFF 2019

Fimela.com, Jakarta Tenun merupakan kain wastra yang bernilai tinggi. Tidak mudah mengolah tenun hingga menjadi pakaian jadi. Dibutuhkan kreativitas dan keahlian khusus untuk dapat melahirkan karya-karya busana yang mengagumkan. Seperti pada ajang pembukaan JFFF yang mengusung karya-karya dengan bahan dasar kain tenun.

Mengawali rangkaian Fashion Show, Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia (CTI) mempersembahkan show bertema “Jalinan Lungsi Pakan”. Peragaan busana ini berlangsung pada tanggal 15 Agustus 2019.

Tema yang konsisten diusung setiap tahun ini memiliki makna benang yang disusun lurus secara vertikal (lungsi) dan sebagian lainnya disusun lurus secara horizontal (pakan) kemudian dijalin dengan teknik khusus menggunakan alat tenun melalui sentuhan para perajin.

Hal ini merepresentasikan cinta, semangat, kesabaran, ketekunan, serta nilai sejarah, dan estetika yang terkandung di dalam selembar kain tenun. Sehingga menjadi satu kesatuan busana yang tidak hanya indah dipandang namun juga kaya akan makna.

“Jalinan Lungsi Pakan merupakan jalinan benang yang membentuk keindahan kain tenun sebagai salah satu wastra Nusantara. Hal ini mencerminkan sinergi yang terjalin baik antara JFFF dan Cita Tenun Indonesia yang saling melengkapi satu sama lain dalam misinya memajukan industri mode Indonesia berbasis budaya Nusantara,” kata Soegianto Nagaria Chairman JFFF 2019.

 

Deretan desainer tanah air yang menggunakan tenun

Tenun di JFFF 2019
Tenun di JFFF 2019. (Foto: Dok. JFFF)

Dalam show-nya kali ini, CTI menampilkan desainer-desainer yang kesemuanya menggunakan kain tenun dari berbagai daerah di Indonesia dalam rancangan koleksinya. Desainer tersebut di antaranya Eridani menggunakan tenun Sulawesi Tenggara, Yogie Pratama menggunakan kain tenun Sambas, Didi Budiardjo menggunakan kain tenun Tidore.

Ada juga pemenang Next Young Promising Designers tahun 2018 yakni Koko Rudi yang menggunakan kain tenun Bali dan tenun polos, serta Enrico Marsall yang menggunakan kain tenun lurik dari Jawa Tengah.

 

Kain tenun sebagai warisan kekayaan budaya

Tenun di JFFF 2019
Tenun di JFFF 2019. (Foto: Dok. JFFF)

Kain-kain tenun ini diolah menjadi sebuah karya yang modern, sesuai tren terkini tanpa meninggalkan nafas budaya aslinya. Seluruh karya dalam sebuah narasi berupa ajakan untuk melestarikan kain nusantara sebagai warisan kekayaan budaya.

Konsistensi JFFF dan CTI dalam mengangkat kain-kain nusantara juga bentuk dukungan kepada UKM dan pengrajin kain, sambil terus mengajak masyarakat agar tidak hanya mengapresiasi namun juga turut menggunakan kain-kain nusantara.

#GrowFearless with Fimela

Lanjutkan Membaca ↓