Koleksi RTW Dior Autumn/Winter 2020-2021 Mengangkat Realita Sosial

Nabila Mecadinisa26 Feb 2020, 12:00 WIB
RTW Dior Autumn/Winter 2020-2021

Fimela.com, Jakarta Terinspirasi dari figur seni feminis Italia di tahun 1960 dan 1970, koleksi Autumn-Winter 2020-2021 ready-to-wear collection Dior karya Maria Grazia Chiuri melanjutkan sejumlah pertanyaan antara tubuh, feminisme, dan feminitas yang terekam dalam gambaran di masa dirinya remaja.

Menjawab semua rasa penasarannya, ia menghadirkan koleksi-koleksi tegas yang dapat menjawab pertanyaan dirinya. Terlukiskan dengan bentuk dari cutting, motif yang ditampilkan, serta tekstur yang beragam dengan permainan warna hitam dan putih, mewakilkan liberasi yang menjembatani antara identitas dan persahabatan.

Menggandeng sejumlah seniman seperti Claire Fontaine, show yang menampilkan highlight scenography menghadirkan tulisan "I Say I" yang merupakan terjemahan dari "lo Dico lo" karya Carla Lonzi di atas panggung runway Dior.

Mengangkat fashion dan seni

RTW Dior Autumn/Winter 2020-2021
Koleksi penuh makna yang menyiratkan protes dan mengangkat isu sosial di masyarakat. (Foto: Dior. dok)

Panggung runway dilapisi dengan halaman dari koran Le Monde, sebuah adaptasi dari karya Newsfloor, dengan judul "Le Monde Pixelise" setelah Robert Capa mengambil foto dari seniman Henri Matisse pada tahun 1949.

Di saat sejumlah frasa dilarang, maka sejumlah cara kreatif dapat dieksplorasi untuk mengungkapkan wajah dari subjektivitas para perempuan sebagai evolusi para perempuan yang abadi.

Peragaan yang digelar di Jardin des Tuileries adalah presentasi yang "menyentil" sejumlah isu. Venue yang digunakan dipenuhi dengan sejumlah kata dan kalimat penuh makna seperti "Consest," "Women Raise the Uprising'," "Patriachy=Climate Emergency," dan "Feminine Beauty Is a Ready-Made."

Koleksi yang dihadirkan merefleksikan siluet yang nyaman namun tetap dengan pernyataan seperti streamlined V-neck dresses, celana berpotongan longgar, dan atasan baggy. Selain warna hitam dan putih, permainan palet warna seperti hijau dan merah dengan motif chec merefleksikan kekuatan para pekerja. Aplikasi bandana dan topi bergaya newboy terinspirasi dari Urinetown dan Les Miserables, yang merupakan film drama yang menyatakan birokrasi sosial.

Walau sebagai koleksi ready-to-wear, namun karya ini adalah sebuah artwork bernilai tinggi yang dapat diapresiasi sepanjang masa oleh siapa saja.  

 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓