Masih Adakah Originalitas di Tengah Persaingan Industri Fashion Lokal?

Vinsensia Dianawanti09 Okt 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 09 Okt 2020, 14:00 WIB
Masih Adakah Originalitas di Tengah Persaingan Industri Fashion?

Fimela.com, Jakarta Industri fashion lokal terus berkembang seiring dengan berkembangnya tren dan kebutuhan. Menimbulkan banyaknya variasi item fashion sekaligus persaingan di antara para pelaku usaha fashion. Terlebih, perkembangan digital juga memudahkan pelaku bisnis fashion memasarkan produknya secara online.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, masih adakah aspek originalitas di setiap produk fashion. Hal ini dibantah oleh Lizzie Para yang merupakan beauty enthusiast sekaligus pemilik dari BLP Beauty. Meski demikian, seseorang bisa tetap menjadi otentik dengan menjadi dirinya sendiri.

"Originalitas itu udah tidak ada. Kebanyakan modifikasi dari suatu hal. Terinspirasi adalah hal yang baik. Tinggal bagaimana kita mengeksekusi sesuatu yang baik. Original hanya dari Tuhan," ungkap Lizzie Para dalam Fashion Talks bersama Tinkerlust pada Kamis (8/10).

Sepakat dengan Lizzie Para, Cempaka yang merupakan pemilik loungewear lokal Sare Studio merasa bahwa sebuah brand tetap bisa berpegang pada persona dan DNA yang ingin diceritakan secara konsisten. Dengan konsistensi yang baik menjadi kunci utama untuk tetap bertahan di tengah persaingan industri fashion.

 

Tantangan di masa pandemi

Di masa pandemi ini, Sare Studio menjadi salah satu brand fashion yang laris di pasaran. Dengan produk pakaian tidur yang nyaman dan sopan membuatnya tidak hanya digunakan untuk tidur melainkan juga untuk aktivitas di rumah. Namun, Sare Studio justru menemui kompetisi yang semakin ketat dengan hadirnya banyak merek yang menghadirkan produk serupa.

"Kompetisinya makin banyak. How to stay original. Originality membawa Sare bisa bertahan, sedikit di depan (dibanding merek lainnya). Apa yang kita lakukan 5 tahun lalu tinggal dijalanin saja. Kita bisa memenangkan Hunger Games ini," ungkap Cempaka.

Tantangan yang berbeda justru dialami oleh merek sepatu lokal PVRA besutan Kara Nugroho. Menurut PVRA, sepatu bukan menjadi hal utama yang dicari orang selama pandemi. Pada 3-4 bulan pertama masa pandemi, PVRA masih mencerna apa yang terjadi. Sehingga Kara sadar bahwa inovasi dan pandemi menguji originalitas sebuah merek.

"Inspirasi bisa datang dari mana saja. Apalagi di era digital kita bisa cari dari layar kecil handphone. Pinter-pinternya bagaimana menerjemahkan namun tetap ada benang merahnya," ungkap Kara.

 

Local Heroes

Aliya Amitra dan Samira Shihab
Tinkerlust mengembangkan strategi bisnis baru untuk memperkenalkan sustainable fashion ke masyarakat (Foto: Tinkerlust)

Namun, apa yang membuat sebuah merek bisa bertahan adalah berbagi spirit yang sama dengan konsumennya. Sehingga produk apapun yang ditawarkan bisa terima selama spiritnya sama.

Sebagai sebuah merek fashion, baik Sare Studio maupun PVRA mencoba mengembangkan konsep sustainable di semua aspek bisnisnya. Dibarengi dengan nilai originalitas yang dibawa, masing-masing merek ini akan mampu bertahan di tengah persaingan industri fashion yang semakin ketat.

Untuk itu, PVRA dan Sare Studio merupakan dua dari 14 merek yang bergabung dalam kampanye Local Heroes garapan Tinkerlust. Dengan kampanye ini diharapkan dapat semakin memperluas pengetahuan masyarakat akan sustainable fashion yang mampu menyelamatkan bumi.

Tinkerlust sendiri merupakan sebuah marketplace yang khusus menyediakan preloved items. Didirikan oleh dua orang sahabat, Aliya Amira dan Samira Shihab, platform ini memungkinkan banyak orang mencari produk preloved yang original dan harga yang terjangkau.

Simak video berikut ini

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓