Sustainable Fashion Sang Primadona di Tengah Pandemi Global

Anisha Saktian Putri20 Okt 2020, 18:30 WIB
Diperbarui 20 Okt 2020, 18:30 WIB
LENZING ECOVERO. Sumber foto: Document/PR.

Fimela.com, Jakarta Jauh sebelum pandemi global melanda, inisiatif dan gerakan yang menyuarakan konsep keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan dalam bisnis tekstil telah lama digaungkan.

Komitmen tersebut meliputi pengurangan limbah produksi, peningkatan kesejahteraan pekerja, hingga proses suplai dan pengadaan bahan baku secara bertanggung jawab.

Dalam situasi seperti saat ini, konsumen kini lebih teliti dalam berbelanja produk fashion. Terbatasnya interaksi fisik mendorong brands untuk beralih ke platform online.

kata Mariam Tania, Marketing and Branding Manager for Lenzing Group, Asia Tenggara dan Oseania menyampaikan para pelaku bisnis fashion harus melakukan perubahan terhadap cara mereka berbisnis dan beradaptasi dengan kebiasaan yang baru.

Penerapan konsep dan praktik sustainability dalam produk fashion akan membawa brand selangkah di depan. "Sebagai produsen dan merek serat yang menjadi bahan paling dasar untuk benang dan kain, kami akan terus berkolaborasi dengan brand, perusahaan atau institusi pemerintah, demi mewujudkan industri tekstil yang lebih hijau,” ujarnya dalam acara “The Rise of Sustainable Retail Fashion”.

Studi terkini dari Omnilytics menunjukkan bahwa meskipun ekosistem fashion mengalami disrupsi dan yang paling terdampak akibat wabah ini, performa penjualan di platform e-commerce produk fashion mengalami peningkatan sejak Mei hingga September 2020. Peningkatan ini juga dipengaruhi oleh penawaran harga yang menarik dari e-commerce.

Produk sustainable yang diminati

Penggunaan Bahan Alami dan Kesejahteraan Pekerja Jadi Revolusi Fashion Indonesia
Menggunakan bahan alami dan memperhatikan kesejahteraan para pekerja jadi revolusi fashion Indonesia (Foto: Lenzing)

Peningkatan ini juga terlihat pada produk yang menggunakan sustainable material. Minat konsumen terhadap sustainable fashion dapat dilihat pada performa produk berbasis serat TENCELTM di e-commerce. Produk seperti atasan dan dress menjadi favorit konsumen. Pants, jeans, dan ethnicwear juga masuk dalam lima besar produk berbahan serat TENCEL yang paling laris.

Dari segi kategori secara umum, atasan dan alas kaki menjadi tipe produk yang paling diminati oleh konsumen. Atasan khususnya produk kaos dan alas kaki seperti sandal dan sandal jepit memberikan kontribusi signifikan pada angka penjualan di platform online. Kategori pakaian olahraga (activewear) juga mulai dilirik konsumen, dengan tingkat penjualan sebesar 30,88% - di atas rata-rata kategori yakni 27,81%.

Indonesia Country Head, Omnilytics, Caroline Lie mengatakan fenomena ini menunjukkan bahwa konsumen di Indonesia bersedia untuk beralih ke produk yang ramah lingkungan dan dibuat melalui proses yang berkelanjutan.

“Selain itu, saat ini baik brands maupun platform e-commerce terlihat mengatur ulang strategi pemasaran mereka - mengikuti normal yang baru. Brands menggunakan pesan seperti, ‘Loungewear Collection’, ‘Web-cam Ready Looks’ dan ‘At Home At Ease’ agar brand tetap relevan dan dekat dengan konsumen,” tambah Caroline.

Bimo Darmoyo, Marketing Associate Director, ZALORA Indonesia juga mengatakan pertumbuhan tren dalam ethical dan sustainable fashion ini dipelopori oleh permintaan konsumen terhadap produk yang dibuat secara etis, berkelanjutan, dan memperhatikan aspek lingkungan.

"Kolaborasi dengan serat TENCELTM untuk koleksi ZALORA Basics merupakan wujud nyata inisiatif keberlanjutan kami untuk membawa perubahan yang positif bagi industri tekstil Indonesia maupun global. Kami harap akan semakin banyak konsumen di Indonesia yang berpartisipasi dalam inisiatif ini, dan bersama kita wujudkan masa depan yang lebih baik bagi industri fashion,” jelas Bimo

#changemaker

Lanjutkan Membaca ↓