Usung Tema Mother Earth, Dewi Fashion Knights 2020 Ungkap 3 Ksatria

Karla Farhana19 Nov 2020, 07:30 WIB
Diperbarui 19 Nov 2020, 07:30 WIB
[Fimela] Dewi Fashion Knights

Fimela.com, Jakarta Pandemi tentu mengubah seluruh rencana yang sudah tersusun rapi. Termasuk parade fashion. Di tengah pandemi Corona ini, Jakarta Fashion Week akan digelar secara virtual selama 26-29 November 2020. Seperti biasa, Dewi Fashion Knights (DFK) 2020 akan kembali menutup rangkaian JFW pada 29 November 2020 nanti, di JFW TV. 

DFK ke-13 ini akan mengusung tema GAIA atau Mother Earth sembari menengok perjalanan di tahun 2020 yang penuh akan refleksi dan perjalanan ke dalam diri bagi sebagian orang. Menurut Editor in Chief Dewi Magazine, Margaretha Untoro, pandemi membuat banyak pihak mempertanyakan nilai-nilai, termasuk dalam industri mode. 

“Gaia atau Mother Earth, kembalike Ibu, ke akar, dan nurani. Kami melihat dan menengok kembali perjalanan di 2020 yang kebanyakan berisi refleksi dan perjalanan ke dalam diri bagi sebagian besar orang. Pandemi dan gejolak lainnya yang terjadi secara global tahun ini membuat banyak pihak mempertanyakan nilai-nilai, tak terkecuali di industri mode. Tentunya hal ini juga berkaitan erat dengan praktik keberlanjutan dan upaya-upaya untuk menuju roda industri yang perputarannya tertutup (closed loop),” ujarnya.

Tahun ini, Dewi Fashion Knights juga akan menghadirkan 3 ksatria yang telah lama berkiprah dan melakukan praktik berkelanjutan dengan kemasan cerita-cerita yang kuat. Yaitu, Sejauh Mata Memandang, Toton, dan Lulu Lutfi Labibi. Bagi Margaretha, ketiganya merupakan sosok kreatif yang memiliki visi dan misi yang sesuai dengan tema DFK tahun ini. 

“Toton, Lulu, dan Sejauh Mata Memandang adalah tiga sosok kreatif atau label yang memiliki visi misi yang sesuai dengan tema DFK tahunini, di mana ketiganya melakukan praktik keberlanjutan yang bisa dipertanggungjawabkan. Mereka juga selalu memiliki cerita yang menginspirasi dalam setiap koleksi, dan kehadirannya selalu ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya,” terangnya.

Renungan, Puisi, dan Pre-consumer Waste

[Fimela] Sejauh Mata Memandang
Chitra Subyakto dari Sejauh Mata Memandang menghadirkan busana yang memanfaatkan bahan-bahan sisa dari kian perca utnuk ditampilkan pada DFK 2020.

Masing-masing dari Ksatria memiliki relfeksi berbeda mengenai konsep Mother Earth. Chitra Subyakto dari Sejauh Mata Memandang memanfaatkan bahan-bahan sisa dari kian perca. Menggunakan teknik pre-consumer waste, Sejauh Mata Memandang memanfaatkan kain perca yang diolah kembali menjadi benang dan ditenun menjadi kain. 

"Saya masih belajar untuk mencari cara berkarya tanpa menambahkan isu polusi. Kita semua tahu, fashion adalah salah satu dari 5 sumber polusi terbesar di dunia. Kita banyak melakukan observasi dan research, juga menerapkan pre-consumer waste. Dari kain perca, menjadi benang, dan ditenun kembali menjadi kain," ungkapnya. 

Sementara, Toton Januar lebih merefleksikan renungan akan hubungan manusia dengan the higher power ketika manusia terpaksa harus hidup di tengah kondisi yang tidak menentuk karena Corona. Menurutnya, Indonesia memiliki sejarah spiritual yang kaya. Salah satu aspek yang menjadi inspirasinya adalah arca peninggalan Hindu dan Buddha. 

"Pandemi membuat semua berubah. Orang banyak berpikir soal hubungan dengan the higher power, secara religius. Ini aku terjemahin dalam bentuk fashion," jelas Toton. 

Berbeda kedua desainer tersebut, Lulu terinspirasi dengan puisi-puisi karya Joko Pinurbo tentang sandang. Setiap bait pusi ia sembunyikan dalam kantong baju dan celana. Menurut Lulu, puisi merupakan peranti perenungan, juga jalan pulang ke dalam diri. Baginya, puisi adalah penghantar untuk dapat menyelami misteri di bali peristiwa sehari-hari dengan lebih dalam. 

#ChangeMaker

Simak Video Berikut

Lanjutkan Membaca ↓