Busana Muslim dan Kain Wastra Indonesia Bisa jadi Kekuatan Indonesia di Pasar Global

Karla Farhana03 Mar 2021, 18:00 WIB
Diperbarui 03 Mar 2021, 18:00 WIB
Busana Muslim

Fimela.com, Jakarta Industri fashion di Indonesia memang terus berkembang. Tak hanya di dalam negeri, beberapa diantaranya pun mampu bersaing di pasar global.

Ali Charisma selaku National Chairman Indonesian Fashion Chamber berpendapat jika kekuatan Indonesia ada pada busana muslim dan wastra khas Indonesia. Hal itu disampaikan Ali dalam Nina Nugroho Solution yang dipandu Nina Nugroho, desainer #busanakerjamuslimah, pada episode ke-73, akhir pekan kemarin.

"Selain pasarnya yang sangat besar, hampir 300 juta warganya, pun pelaku industrinya juga bisa dibilang terbanyak di dunia, bahkan bila dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah sekalipun," ungkap Ali Charisma.

Nina Nugroho Solution sendiri merupakan acara yang ditayangkan melalui akun media social Instagram @ninanugrohostore setiap Sabtu mulai pukul 16.00 – 17.00 WIB. Acara ini merupakan bentuk kepedulian Nina Nugroho untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dengan multiperan.

Dalam episode yang membahas Muslim Fashion di Event Nasional Ali Charisma mengatakan pelaku industri busana konvensional sudah ada di setiap negara di seluruh dunia sehingga persaingan yang muncul sudah sangat ketat. Bila ingin bersaing di pasar global maka harus menggunakan kekuatan yang tidak dimiliki negara lain, yaitu busana muslim dan kekayaan wastra Indonesia.

Kualitas Standar Internasional

Busana Muslim dan Kain Wastra Indonesia
Ali Charisma selaku National Chairman Indonesian Fashion Chamber berpendapat jika kekuatan Indonesia ada pada busana muslim dan wastra khas Indonesia.

Ali lantas mengambil contoh bagaimana brand terkemuka dunia, Dior menggunakan kain Bali dalam produksi busananya. Maka dari itu, ia pun mendorong brand busana muslim dan wastra Indonesia untuk maju ke tingkat internasional.

"PR-nya adalah di kualitas yang harus sesuai dengan standar internasional. Produk-produk busana muslim juga bisa dipasarkan di negara-negara di Eropa dan Amerika. Kita tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan mereka, apakah busana kerja, main, pesta atau street wear. Kita yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan mereka, bukan mereka yang kita paksakan menggunakan gaya kita," jelas Ali

"Alangkah baiknya kalau busana muslim dengan sentuhan kain tradisional itu bisa dipasarkan lebih jauh, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di pasar internasional. Itu kesempatan yang luar biasa. Tapi kita harus bisa lebih terbuka, bisa menerima budaya luar yang kemudian kita sesuaikan dengan budaya kita," tambahnya kemudian.

Dan, guna memacu industri busana muslim di Indonesia semakin menggeliat, Ali juga menyampaikan rencana penyelenggaraan MUFFEST (Muslim Fashion Festival) mulai 11 Maret hingga pertengahan Mei 2021. Bahkan, MUFFEST tahun ini juga jauh lebih besar karena akan digelar di empat kota yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.

"Panitia tahun ini berusaha bersikap seoptimis mungkin, industri busana muslim harus terus berjalan. Kami berharap MUFFEST akan memberikan pengaruh positif tidak hanya terhadap pelaku industri tetapi juga konsumen busana muslim Indonesia. Event ini diharap menjadi pemicu semangat dan kemauan orang untuk mencintai produk lokal," pungkasnya.

#elevate women

Lanjutkan Membaca ↓