Upaya Tobatenun Selamatkan Kain Ulos Sebagai Warisan Budaya Tinggi

Hilda Irach25 Sep 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2021, 08:00 WIB
Upaya Tobatenun Selamatkan Kain Ulos Sebagai Warisan Budaya Tinggi

Fimela.com, Jakarta Indonesia dianugerahi kekayaan budaya yang begitu beragam, salah satunya wastra nusantara. Istilah wastra sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang memiliki arti sehelai kain. Setiap wastra memiliki motif, pola, dan warna yang berbeda antara satu dan lainnya serta memiliki filosofi dan cerita yang mendalam.

Daerah Batak Toba pun memiliki wastra tersendiri, yang dikenal dengan nama Ulos. Sayangnya, popularitas Ulos masih ada di bawah Batik dan Tenun Ikat Sumba untuk level nasional dan internasional.

Menyadari potensi Ulos yang besar untuk dipasarkan di level nasional dan internasional, Kerri Na Basaria, Founder dan CEO PT Toba Tenun Sejahtra  (Tobatenun) pun berupaya melakukan berbagai program kerja yang mencakup pelestarian budaya, pelatihan dan pendidikan perajin, serta pengembangan komunitas dan perempuan.

“Kami juga bekerja sama dengan lembaga pelatihan dan instruktur untuk membekali partonun agar dapat meningkatkan kompetensi mereka, baik dari sisi teknis maupun penciptaan desain. Sehingga kain Ulos tidak hanya bernilai budaya tetapi juga dapat memberikan dampak secara ekonomi dan sosial, menambah kekuatan industri kreatif dan seni Indonesia,” ujar Kerri dalam pertemuan virtual, (24/9/2021).

Lebih lanjut, dalam menjalankan model bisnisnya, Tobatenun mengusung 2 pilar utama yang fokus terhadap nilai sosial dan juga bisnis yang seimbang untuk dapat menghasilkan produk berkualitas ramah lingkungan yang tidak hanya memberikan nilai lebih kepada konsumen tetapi juga mendatangkan keuntungan bagi artisan yaitu para perajin yang biasa disebut Partonun.

Tenun tidak lepas dari peran perempuan

Upaya Tobatenun Selamatkan Kain Ulos Sebagai Warisan Budaya Tinggi
Meski menjadi salah satu warisan budaya tinggi, popularitas kain Ulos masih ada di bawah batik dan tenun ikat sumba. (Foto: Tobatenun).

Tenun memang tidak dapat dilepaskan dari peran penenun yang mayoritas adalah perempuan. Partonun (penenun) perempuan merupakan sumber daya manusia utama untuk menghasilkan tenun berkualitas.

Partonun adalah penjaga budaya yang bekerja demi kelangsungan warisan budaya, menjaga filosofi hidup orang Batak, serta kemahiran tradisional. Tenun tradisional adalah salah satu bidang di mana pengetahuan berharga diwariskan dari para ibu ke anak-anak perempuan mereka secara turun-temurun.

Dan saat ini, sektor tenun tradisional ini bertahan berkat generasi perempuan muda Indonesia yang dinamis, yang memadukan kreativitas artistic dengan keterampilan bisnis.

Berdayakan partonun

Upaya Tobatenun Selamatkan Kain Ulos Sebagai Warisan Budaya Tinggi
Meski menjadi salah satu warisan budaya tinggi, popularitas kain Ulos masih ada di bawah batik dan tenun ikat sumba. (Foto: Tobatenun).

Memahami pentingnya peran partonun dalam ekosistem Ulos, Tobatenun secara konsisten memberdayakan Partonun untuk dapat meningkatkan potensi dan keterampilan diri sehingga dapat semakin kuat dalam menjaga, mewariskan dan melestarikan Ulos yang berkualitas dan memiliki filosofi penuh makna.

Selain memfasilitasi para partonun untuk mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan, Tobatenun juga memberikan dukungan dan pendampingan lewat Jabu Bonang serta memberikan solusi kepada para partonun yang memiliki banyak tantangan di lapangan seperti kurangnya akses terhadap bahan baku, rumitnya pemasaran, hingga kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang kerap dialami para partonun.

Hingga akhir tahun 2021 sekaligus menyambut Hari Ibu Nasional, Tobatenun akan terus melakukan rangkaian aktivitas untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap warisan kain wastra nusantara, khususnya tenun dan ekosistem artisan yang terlibat dibaliknya yang didominasi oleh perempuan.

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela