Potret Para Perempuan Ramaikan CFD Mengenakan Kebaya untuk Dukung Penetapan Kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asal Indonesia

Anisha Saktian Putri19 Jun 2022, 13:16 WIB
Diperbarui 19 Jun 2022, 13:21 WIB
Gotong Royong Perempuan Memberikan Dukungan bagi Penetapan  Kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asal Indonesia

Fimela.com, Jakarta Dua organisasi perempuan, Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) dan Pertiwi Indonesia berkolaborasi menggelar acara jalan santai dengan berkebaya dimulai dari halaman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset & Teknologi hingga Bundaran Hotel Indonesia.  A

cara bertajuk Car Free Day (CFD) Berkebaya ini digelar sebagai bentuk dukungan akan didaftarnya kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda asal Indonesia ke UNESCO.

“Dalam Kongres Berkebaya Nasional yang diadakan PBI tahun lalu, antara lain diusulkan soal Penetapan Hari Berkebaya Nasional dan Pendaftaran Kebaya ke Unesco agar keberadaannya sebagai warisan budaya nenek moyang kita semakin dicintai bangsa sendiri dan diakui dunia,” ujar Rahmi Hidayati, Ketua Umum PBI.  

Pertiwi Indonesia, organisasi perempuan terdepan dengan cabang di berbagai daerah di Indonesia mendukung dan berkomitmen untuk menggaungkan upaya memperjuangkan pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia dengan mengingat nilai-nilai luhur  kaum perempuan Indonesia yang ulet, tangguh dan santun dalam menyampaikan aspirasinya.   

Ketua Umum Pertiwi Indonesia, Antarina F. Amir mengatakan, kolaborasi dengan berbagai organisasi pecinta budaya Indonesia ini penting dilakukan agar budaya luhur yang diwariskan turun temurun oleh bangsa tetap terjaga kelestariannya dan dapat dikembangkan untuk membangkitkan kebanggaan, kecintaan pada tanah air dan menjadi pengikat  persatuan serta  kerukunan dalam masyarakat. 

Jalan kaki bersama dengan berkebaya dipilih sebagai bentuk penyampaian aspirasi tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kebaya adalah pakaian khas dan busana sehari-hari perempuan Indonesia yang dapat dikenakan dalam berbagai waktu dan kesempatan sejak jaman nenek moyang oleh berbagai kalangan termasuk perempuan muslimah yang memadukannya dengan pemakaian kerudung. 

"Tradisi berkebaya dipadu berbagai kain khas Indonesia bukan saja akan mengasah kecintaan pada tanah air, namun juga akan memberikan kontribusi penting kepada para pengrajin di dalam negeri  serta peningkatan ekonomi UMKM dari hulu ke hilir" ujar Miranti Serad, Ketua Bidang Budaya Pertiwi Indonesia. 

3000 perempuan berpartisipasi

Gotong Royong Perempuan Memberikan Dukungan bagi Penetapan  Kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asal Indonesia
Gotong Royong Perempuan Memberikan Dukungan bagi Penetapan Kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asal Indonesia

Penyelenggaraan CFD Berkebaya perdana ini disambut meriah oleh masyarakat, 3000 perempuan telah mendaftarkan diri untuk berpartisipasi.

Peserta berkumpul di halaman Kemendikbud jam 06.00 dan kegiatan jalan kaki akan dimulai pukul 07.00 pagi setelah pembukaan dengan rangkaian acara antara lain menyanyikan lagu Indonesia Raya serta tarian Sirih Kuning.

Panitia mengelompokkan peserta menjadi kloter per 200 orang yang akan mendapat pengawalan tim panitia bersepeda dan menyediakan pos di empat titik sepanjang rute Kemendikbud - Bundaran HI lengkap dengan tim medis, dokter dan perawat serta ambulans dan penyediaan air mineral, semua dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan, keamanan dan kenyamanan peserta.

Program CFD Berkebaya ini rencananya juga akan diselenggarakan di berbagai daerah lainnya di Indonesia agar kegiatan berkebaya dapat lebih menyebar di seluruh nusantara.

#women for women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela