Kelas Puisi, Bukan Sekadar tentang Senja dan Kopi

Cica25 Jan 2019, 15:20 WIB
[FIMELA] Kelas Puisi, Bukan Sekadar tentang Senja dan Kopi

Fimela.com, Jakarta Berekspresi adalah salah satu cara manusia untuk memperlihatkan perasaannya. Cara berekspresi pun beragam, ada yang melalui verbal dan ada juga secara non-verbal. Salah satunya yakni dengan puisi, entah menuliskan atau hanya sekadar membacakan. Seperti orang-orang dalam komunitas Kelas Puisi.

Sesuai dengan namanya, Kelas Puisi merupakan sebuah perkumpulan orang-orang yang memiliki antusiasme dalam hal puisi. Tak sekadar menulis dan membaca, Kelas Puisi juga diisi dengan berdiskusi secara online. Hal tersebut diungkapkan oleh Irawati Ningsih, salah satu inisiator Kelas Puisi. 

"Di Kelas Puisi, kami gunakan grup LINE untuk diskusi online seminggu tiga kali, ada materinya, ada tugasnya, jadi misal kurang dari tiga kali, biasanya kami kasih tugas ke anggota, seperti review buku, terjemahkan puisi dari Inggris ke Indonesia, tergantung project-nya apa," jelas perempuan yang akrab disapa Ira ini.

"Kalian bisa mengekspresikan diri di sana, berdiskusi dengan orang yang punya ketertarikan yang sama, karena nggak semua orang bisa diajak ngobrolin puisi, bahkan mungkin beberapa orang menganggap orang yang punya puisi itu tukang galau," tambah Ira.

 

[FIMELA] Kelas Puisi, Bukan Sekadar tentang Senja dan Kopi
Kelas Puisi. (Sumber foto: dokumen pribadi)

Lebih lanjut, Ira menjelaskan awal mula Kelas Puisi terbentuk. Rupanya, komunitas yang dibentuk pada 2015 ini bermula dari proyek puisi di Tumblr. "Awalnya dari Tumblr ngajak orang-orang buat bikin puisi, kami kasih tema dan kami pilih, tapi sebelumnya kami bersepuluh diskusi terlebih dahulu, bentuk pengurus, dan akhirnya kami jadikan komunitas," kenangnya.

Sebagai komunitas, mustahil rasanya setiap anggota tidak mengenal satu sama lain lewat pertemuan. Selain diskusi online, Kelas Puisi juga kerap mengadakan pertemuan di beberapa kota seperti Jogja, Malang, dan Jakarta. "Kegiatan kami selain diskusi online ada gathering, perayaan ultah, diskusi puisi, pembacaan puisi, dan bikin project di Instagram," ujar prempuan kelahiran 11 Oktober 1992 ini.

Tak cuma di Jakarta, komunitas yang didominasi oleh mahasiswa dan pekerja ini tersebar di beberapa kota di Nusantara. "Sebenarnya kami tersebar di mana-mana, tiap daerah ada, dan ada pengurusnya masing-masing, kami diskusi secara online," jelasnya.

Ira mengungkapkan, di Jakarta sendiri ada 48 anggota yang tergabung dalam Kelas Puisi. Di luar itu, ada 16 orang lain di Kelas Puisi yang menjadi event team.

"Anggota kami ada 48 orang, tapi di luar itu ada tim event sebanyak 16 orang, kalau yang 48 member itu kegiatannya diskusi online, kalau yang 16 itu panitia untuk bikin acara," jelas Ira.

2 of 2

Keanggotaan yang Terbatas

[FIMELA] Kelas Puisi, Bukan Sekadar tentang Senja dan Kopi
Ira dan Anin dari Kelas Puisi. (Fotografer: Deki Prayoga/FIMELA.com)

Lebih lanjut, Ira juga menjelaskan sistem diskusi online yang dibuat. "Kami nggak ada mentor, setiap orang belajar saling mengisi, ada waktunya mereka jadi pengisi materi, kasih saran, jadi saling belajar saja, sih, karena semua balik ke diri kita sendiri, pure menyalurkan hobi, pengembangan diri setiap orang tergantung dari dirinya sendiri, nggak ada paksaan untuk tinggal atau pergi," jelas Ira.

Sebagai komunitas, yang notabene tempat berkumpul banyak kepala, Kelas Puisi tidak lepas dari konflik. Menurut Ira, ada masalah-masalah yang kerap muncul dari anggotanya sendiri dan hal itu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Kelas Puisi untuk terus eksis.

"Kadang ada masalah antar member, masalah sama dirinya sendiri lalu left dulu, kalau seperti itu kami nggak bisa memaksa untuk stay, padahal dari awal kami minta semua dikomunikasikan saja," kata perempuan yang berprofesi sebagai guru ini.

Bicara soal anggota, menurut Ira, Kelas Puisi tidak selalu membuka perekrutan. Dengan kata lain, Kelas Puisi membatasi setiap anggota yang masuk.

"Kalau member kami memang membatasi karena sekali daftar bisa ratusan dan itu bakal crowded banget, kalau syarat sih nggak ada syarat khusus, asal ada kemauan, mau belajar sama-sama, palingan sebut nama, domisili, asalan ingin bergabung, dan bikin puisi sesuai tema, dari puisi itu jadi pertimbangan kami untuk menerima atau tidak," ungkap Ira.

"Nggak ada waktu yang ditentukan, biasanya kalau anggota di grup mulai terasa berkurang, kami buka pendaftaran anggota," imbuhnya.

 

[FIMELA] Kelas Puisi, Bukan Sekadar tentang Senja dan Kopi
Kelas Puisi. (Sumber foto: dokumen pribadi)

"Selama tiga tahun ini kami sudah pernah bikin buku Antologi Kelas Puisi dan baru di-launching November lalu, itu project terbaru kami, kolaborasi dengan sesama komunitas," ujar perempuan yang menganggap puisi bagian dari hidupnya ini.

Ira berharap jika ke depannya Kelas Puisi tetap eksis dan beregenerasi. "Harapannya Kelas Puisi tetap ada dan beregenerasi, karena tidak mungkin jika kami terus yang mengurus, untuk dunia perpuisian aku berharap agar banyak anak muda yang meramaikan berkarya di bidang puisi dan dinikmati banyak orang,"

Ira juga berbagi tips menulis puisi bagi Sahabat Fimela yang tertarik dengan dunia puisi. "Tipsnya berani mengeksplorasi tema, gunakan metafor yang bagus, bayangan diri sebagai penulis,"

Tertarik untuk bergabung "Mungkin ada lagi Februari atau Maret mau bikin bahasan buat pengisi materi secara langsung, bukan online seperti yang selama ini dilakukan," tutur perempuan lulusan S1 Hubungan Internasional ini.

So, buat Sahabat Fimela yang tertarik dengan dunia perpuisian dan ingin bergabung dengan Kelas Puisi, follow saja Instagram mereka @kelaspuisi dan temukan info kegiatan dan pembukaan anggota di sana. 

Lanjutkan Membaca ↓
Fimelahood #MyGoalMatter, Tempat Perempuan Berbagi Kisah Inspiratif