Diary Fimela: Cerita di Balik LATO, Enzy Storia Coba-Coba Bikin Sendiri Dessert Favoritnya, hingga Ingin Punya Bisnis yang Berkelanjutan

Annissa Wulan13 Okt 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 13 Okt 2021, 07:00 WIB
Enzy Storia

Fimela.com, Jakarta Enzy Storia mungkin lebih dikenal sebagai aktris tanah air yang memiliki beberapa bakat. Namun, tahukah kamu bahwa selain pandai menyanyi dan membawakan acara sebagai host, Enzy Storia juga sedang merintis bisnisnya sendiri di bidang F&B?

Ya, perempuan yang mengaku sangat menyukai dessert ini memiliki brandnya sendiri LATO, yang baru diperkenalkannya di masa pandemi ini. Bagaimana cerita Enzy Storia akhirnya menemukan LATO dan strateginya untuk membesarkan bisnisnya sendiri akan menjadi topik Diary Fimela kali ini.

LATO adalah produk panna cotta yang sampai saat ini telah memiliki 11 pilihan topping. Awalnya, di LATO, Enzy Storia hanya menjual panna cotta, namun sekarang LATO telah menjadi House of LATO yang juga menjual smoothies dan gelato.

"Aku ini bener-bener baru masuk dapur, masak sendiri ya pandemi ini. Awalnya, karena udah nggak tahu mau ngapain dan memang suka banget dessert, jadi bikin dessert buat orang rumah. Lalu, aku ajak seorang temenku yang juga terdampak pandemi, yang sekarang jadi partnerku di LATO," cerita Enzy Storia ketika dihubungi oleh Tim FIMELA.

LATO dimulai sekitar bulan April 2020 dan mulai serius dijual setelah Lebaran. Pada awalnya, Enzy Storia benar-benar tidak terpikirkan akan mendapatkan uang dari sini, namun karena mendapatkan feedback yang baik dari orang-orang terdekat, akhirnya lahirlah LATO.

"Aku nggak kepikiran awalnya akan dapet uang dari sini, tapi setelah kirim-kirim, feedbacknya bagus, aku jadi happy. LATO ini lahirnya memang karena aku pas masaknya happy dan bisa buat orang yang makan juga happy."

 

Cerita Enzy di awal memperkenalkan LATO ke pasar

Panna cotta House of LATO
Panna cotta House of LATO. Foto: Instagram.

Memang, bisnis dessert di Jakarta sendiri belum terlalu ramai, terutama panna cotta, dessert khas Italia, yang sering disamakan dengan puding. Untuk edukasi produknya sendiri, Enzy Storia memiliki cerita lucu.

"Waktu awal kirim-kirim, banyak yang nggak tahu kalau ini tuh panna cotta, orang-orang tahunya puding. Malah ada yang bilang ini kembang tahu, itu nangis banget sih. Jadi, tantangannya memang di edukasi tentang produk kita. Tapi karena banyak orang yang belum tahu inilah, aku jadi ngeliat kesempatan ternyata masih terbuka lebar nih, di Jakarta sendiri."

Di awal mula perjalanan LATO, Enzy Storia benar-benar mengirimkan sendiri produknya kepada teman-teman terdekatnya. Sampai sekarang, Enzy masih menjadikan review atau ulasan pembeli LATO sebagai bahan evaluasi, agar ia bisa mengembangkan inovasi produk yang lebih baik lagi ke depannya.

"Dulu, aku bener-bener kirim satu-satu sendiri ke rumah temen-temen aku, sebelum berangkat syuting. Ya memang butuh proses dan progress, dan sampai sekarang review mulut ke mulut tuh masih penting banget buat kita, biar bisa jadi evaluasi juga."

Selain edukasi yang tepat tentang produk, di awal, Enzy dan partnernya juga kesulitan mengirimkan produk ke rumah pembeli yang jauh. Tekstur panna cotta jika berada di luar ruangan, ternyata hanya bisa bertahan selama 45 menit, sebelum akhirnya mencair.

"Nah, waktu itu juga kita punya tantangan untuk cari packaging yang aman untuk produk kita, biar diterima sama customer dalam keadaan yang baik."

Menariknya lagi, LATO ini adalah debut bisnis pertama bagi Enzy Storia sendiri dan partner. Di LATO, Enzy dan partner benar-benar belajar segala hal tentang bisnis, dari awal.

Pilihan topping panna cotta House of LATO
Pilihan topping panna cotta House of LATO. Foto: Instagram.

Sekarang Enzy ingin menjadi LATO sebagai bisnisnya yang stabil

Panna cotta House of LATO
Panna cotta House of LATO. Foto: Instagram.

"Kita bener-bener dari nol banget. Dari yang ngerjain cuma berdua. Partnerku nginep di rumah sampai sekitar sebulanan waktu masih ngulik resep yang pas, pakai dapur tengah malam pas semua orang di rumahku udah tidur, nganter-nganterin produknya sendiri. Sekarang tim kita udah ada 8 orang,"

Lewat akun Instagram LATO (@houseoflato.id), kamu bisa memilih panna cotta dengan topping yang beragam, smoothies, maupun gelato yang dijual dengan harga sekitar Rp30.000. Cita-cita Enzy Storia selanjutnya adalah membuka store LATO di luar Jakarta.

"Aku pengen jadiin LATO ini bisnisku yang stabil, nggak yang cuma bertahan setahun dua tahun, tapi pengen buat orang tuh terus beli LATO, karena awalnya kan mereka sebenernya lebih ke penasaran pengen cobain masakan aku. Nah, sekarang customer setia LATO pengen kita pertahanin dan ini sih yang paling menantang dari semuanya, marketing, karena aku dan partnerku nggak ada yang punya background di marketing."

Selain LATO, Enzy Storia juga sedang menjajal bisnis minuman lainnya, yaitu botanical drink, sejenis kopi yang dicampur dengan herbal. Produknya nanti akan diarahkan untuk dijual di department store.

"Lalu, aku dan beberapa teman juga sedang menjalankan RAMES KITA. Ini sebenarnya lebih ke socialpreneur, jadi kita kasih wadah untuk orang-orang membuat makanan, nanti hasilnya bukan buat bisnis, tapi donasi."

Dari Enzy, kita bisa belajar bahwa memulai bisnis memang sebaiknya dari hal-hal yang dekat dan kita sukai, bukan, Sahabat FIMELA?

"Mulai bisnis itu dari hal yang kita suka aja, mikirnya jangan kejauhan. Mulai aja dulu dari hal yang kecil dan dekat, karena apapun pasti bisa, asal kitanya sendiri suka sama produknya. Makannya, penting juga untuk menguasai produk kita. Lalu, usahakan punya ciri khas dari produk yang dijual, jadi brand kita punya value sendiri. Dan, jangan takut gagal, karena kemungkinan itu pasti ada, tapi kita jadi ada kesempatan untuk berbenah dan jadi lebih baik lagi," tutup Enzy Storia di akhir wawancara bersama Tim FIMELA.

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela