Cara Atlet Olimpiade Perempuan Mengatur Menstruasi saat Bertanding

Anisha Saktian Putri30 Jul 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 05 Agu 2021, 19:26 WIB
Ilustrasi atlet Olimpiade perempuan mengatur menstruasi mereka/unsplash Nicolas

Fimela.com, Jakarta Olimpiade Tokyo tahun ini menandai pertama kalinya olahraga tersebut hampir mencapai kesetaraan gender, dengan hampir 49 persen dari sekitar 11.000 atlet yang bersaing adalah perempuan.

Menurut Komite Olimpiade Internasional, setidaknya 40,5 persen atlet di Paralimpiade adalah perempuan, 100 persen lebih banyak atlet perempuan daripada Olimpiade di Rio de Janeiro pada 2016.

Selain tekanan untuk bersaing dengan atlet lain dan mendapat medali, atlet perempuan juga harus berjuang dengan menstruasi yang dapat disertai dengan gejala lain seperti kram, merasa kembung dan tidak nyaman, dan nyeri payudara.

 

Bagaimana menstruasi mempengaruhi atlet perempuan dan apa yang mereka lakukan untuk mengatasinya?

Ilustrasi atlet Olimpiade perempuan mengatur menstruasi mereka/unsplash Matt
Ilustrasi atlet Olimpiade perempuan mengatur menstruasi mereka/unsplash Matt

Melansir independent.co.uk, beberapa penelitian telah menemukan bahwa risiko cedera pada atlet perempuan meningkat pada titik-titik tertentu dalam siklus menstruasi mereka

Menurut sebuah studi tahun 2021 pada pesepakbola perempuan, para peneliti menemukan bahwa fluktuasi hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron dapat memengaruhi jaringan tertentu, seperti otot, tendon, dan ligamen.

Tingkat cedera otot dan tendon 88 persen lebih besar selama fase folikular akhir dari siklus menstruasi, yaitu ketika otak mengirimkan sinyal ke ovarium untuk menyiapkan sel telur yang akan dilepaskan.

Atlet Olimpiade Inggris Eilish McColgan mengatakan kepada BBC Sport pada 2019 bahwa dia harus menarik diri dari perlombaan di Roma tahun sebelumnya ketika dia mendapat menstruasi dan menarik hamstringnya tak lama setelah itu.

"Tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa semuanya terhubung, namun setelah ahli radiologi memindai otot saya tidak pernah benar-benar melihat peradangan sebanyak itu pada satu otot sebelumnya,"ujar Eilish McColgan kepada independent.co.uk

Kelelahan keseluruhan yang disebabkan oleh menstruasi juga dapat mempengaruhi kinerja seorang atlet. Pada Olimpiade Rio 2016, perenang Tiongkok Fu Yuanhui ditanya mengapa dia memegang perutnya setelah lari estafet 4x100 meter.

“Saya merasa saya tidak berenang dengan baik. Saya mengecewakan rekan satu tim saya. Haid saya datang tadi malam dan saya sangat lelah. Tapi ini bukan alasan, aku masih belum bisa berenang sebaik yang seharusnya," ungkapnya.

Kontrol kelahiran

Ilustrasi atlet Olimpiade perempuan mengatur menstruasi mereka/unsplash Bryan
Ilustrasi atlet Olimpiade perempuan mengatur menstruasi mereka/unsplash Bryan

Mengambil pil KB untuk menunda atau "menjeda" periode juga merupakan praktik umum di kalangan atlet wanita.

Namun, para ilmuwan mengatakan perlu ada lebih banyak penelitian di bidang ini, karena kontrasepsi hormonal mempengaruhi perempuan dengan cara yang berbeda.

Menurut situs Sports MD, ada kontraindikasi [situasi tertentu di mana obat atau prosedur tidak boleh digunakan karena dapat berbahaya] untuk menggunakan metode kontrasepsi hormonal pada atlet di semua tingkatan.

Ini termasuk riwayat pribadi pembekuan darah atau riwayat pembekuan darah pada kerabat tingkat pertama, gangguan yang diketahui dalam pembekuan darah, fungsi hati yang buruk, kanker payudara, riwayat serangan jantung, tekanan darah tinggi, merokok, sakit kepala migrain atau operasi baru-baru ini.

#elevate women

Lanjutkan Membaca ↓