Tangis dan Amarah Dokter Melihat Kamar ICU Dipenuhi Para Anti Vaksin COVID-19

Annissa Wulan02 Agu 2021, 19:30 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 19:30 WIB
Tangis dan Amarah Dokter Melihat Kamar ICU Dipenuhi Para Anti Vaksin COVID-19

Fimela.com, Jakarta "Kita tidak bisa membiarkan COVID menang." Ini adalah mantra rekan Thanh Neville saat pandemi dimulai tahun lalu.

Selama hampir 18 bulan sejak pandemi COVID-19 dimulai, petugas kesehatan telah berkumpul di medan perang, bahkan pada saat mereka tidak memiliki senjata untuk diacungkan. Mereka merawat yang terinfeksi dan yang sakit kritis saat tidak ada orang lain yang mau.

Mereka menggunakan kembali masker N95 dengan hati-hati menempatkannya dalam kantong kertas cokelat berlabel, di antara shift. Mereka menyaksikan kematian yang sepi akibat COVID-19 dan mengangkap iPad untuk keluarga yang ingin mengucapkan selamat tinggal yang memilukan.

Mereka membuat jadwal cadangan yang rumit dan mengabaikan kehidupan pribadi mereka sendiri. Mereka melangkah selama lonjakan kasus, bahkan saat rekan-rekan mereka jatuh sakit.

Menurut Thanh, persahabatan di ICU tidak pernah lebih kuat karena mereka menyadari bahwa ini adalah upaya bersama berjuang melawan musuh bersama. Tapi, sebagai petugas kesehatan, Thanh juga sangat menyadari kerentanan mereka sendiri.

Mereka bisa kehabisan sumber daya ICU untuk pasien, kehabisan alat pelindung diri, bisa terpapar di tempat kerja dan jatuh sakit, bahkan mati. Banyak dari mereka dikarantina jauh dari keluarga untuk melindungi orang yang dicintai dari COVID-19.

 

 

Thanh sempat memiliki harapan begitu vaksinasi diperluas

Tangis dan Amarah Dokter Melihat Kamar ICU Dipenuhi Para Anti Vaksin COVID-19
Thanh menceritakan amarah dan kesedihannya ketika menghadapi pasien yang memilih untuk tidak divaksinasi dan justru memenuhi ruang ICU yang berharga.

Mereka harus menghitung faktor risiko anak-anak, orangtua yang sudah lanjut usia, pasangan, dan menemukan cara paling tepat untuk memutuskan apakah akan pulang di akhir shift atau menginap di kamar hotel. Salah satu direktur ICU tempat Thanh bekerja terus menulis ulang pedoman klinis COVID-19 untuk mengikuti literatur yang berkembang.

Thanh bekera setiap hari untuk menyesuaikan program akhir hidup dengan perubahan kebutuhan dan pembatasan pandemi, serta mendaftar untuk uji klinis vaksin segera setelah tersedia. Thanh juga memperbarui arahannya sendiri dan mencetaknya untuk suaminya, guna berjaga-jaga.

Lalu, vaksin yang efektif tersedia secara luas di AS, Thanh seperti melihat harapan. Jumlah pasien COVID-19 di ICU di seluruh negeri, anjlok.

Thanh berpikir bahwa pengorbanan dan komitmen mereka sebagai petugas kesehatan telah membuahkan hasil. Mereka percaya kekebalan kelompok bisa menjadi kenyataan dan semua orang bisa kembali ke keadaan normal.

Sayangnya kelegaan itu berumur pendek, harapan itu terlalu cepat berlalu, dan semua orang sedang berada di tengah gelombang lain. Lonjakan yang dipicu oleh varian yang sangat menular dan mereka yang tidak divaksinasi.

Pengalaman Thanh di ICU beberapa minggu terakhir ini membuatnya terkejut, berkecil hati, dan marah. Ia marah karena adegan tragis dari lonjakan sebelumnya, terulang lagi, tapi sekarang dengan kondisi ICU yang diisi oleh pasien yang memilih untuk tidak divaksinasi.

Ternyata, banyak orang tidak berperang di pihak yang selama pandemi COVID-19 ini

Tangis dan Amarah Dokter Melihat Kamar ICU Dipenuhi Para Anti Vaksin COVID-19
Thanh menceritakan amarah dan kesedihannya ketika menghadapi pasien yang memilih untuk tidak divaksinasi dan justru memenuhi ruang ICU yang berharga.

Ia marah karena ia membutuhkan lebih dari satu jam untuk menjelaskan kepada para anti vaksin yang penuh dengan informasi yang salah bahwa intubasi bukanlah apa yang membunuh pasien dan bahwa keinginan mereka untuk kompresi dada tanpa intubasi jika terjadi henti napas, tidak masuk akal. Thanh marah pada mereka yang menolak untuk memakai masker ketika berbelanja selama beberapa jam seminggu.

Thanh tidak bisa memahami keputusan simultan untuk tidak divaksinasi dan permintaan untuk mengakhiri pembatasan yang diberlakukan karena pandemi. Walaupun individu-individu ini tidak menganggap diri mereka sendiri sebagai anti vaksin, keputusan-keputusan mereka untuk tidak melindungi diri sendiri atau keluarga, mengisi tempat tidur ICU yang berharga, membiarkan varian baru berkembang, dan membahayakan petugas kesehatan.

Merekalah yang membiarkan pandemi ini terus mengamuk. Sedangkan, orang-orang dengan kekebalan yang lemah, yang vaksinnya tidak menghasilkan banyak kekebalan, sangat menunggu kekebalan kelompok.

Thanh tidak punya cara untuk menghibur pasien transplantasi yang benar-benar marah karena tertular COVID-19 setelah diisolasi selama lebih dari setahun dan mendapatkan vaksinasi penuh sesegera mungkin. Dengan air mata kemarahan, pasien-pasien ini mengatakan kepada Thanh bahwa ketidakadilan itu ada dalam bentuk orang yang memilih membahayakan diri mereka sendiri dan orang-orang yang rentan di sekitar mereka.

Mereka merasa dikhianati oleh sesamanya dan Thanh tidak bisa melakuan apa-apa. Thanh yang awalnya berpikir bahwa ketika pandemi ini dimulai, semua orang dalam perjuangan bersama-sama, terlibat dalam perang melawan musuh bersama, sekarang menyadari bahwa ada banyak orang yang berada di pihak yang berbeda.

Mereka tidak pernah memiliki musuh yang sama. Ya, ada pihak-pihak yang justru memenangkan COVID selama ini.

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓