5 Panduan Isolasi Mandiri Tanpa Panik Bisa Diikuti

Anisha Saktian Putri30 Agu 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 30 Agu 2021, 11:00 WIB
Ilustrasi isolasi mandiri

Fimela.com, Jakarta Meskipun saat ini kasus Covid-19 mulai menurun, kewaspadaan tetap harus dilakukan, mengingat pandemi belum sepenuhnya berakhir. Oleh karenanya, untuk memutus penularan Covid-19, salah satu protokol wajib bagi individu yang tertular atau positif Covid-19 tanpa gejala, gejala ringan, maupun sedang, wajib menjalani isolasi mandiri

dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD, dokter yang berpraktik di aplikasi GoodDoctor mengatakan jika isolasi mandiri harus dilakukan dengan benar agar efektif. Persiapan yang harus dilakukan selama isolasi mandiri, baik untuk pasien tanpa gejala (10 hari isolasi mandiri) maupun bergejala ringan-sedang (10+3 hari), adalah logistik dan medis.

Apa saja yang harus disiapkan?  Berikut ulasannya

1. Siapkan kebutuhan pokok 

Pertama, siapkan kebutuhan pokok seperti makan, minum, cuci baju, dan lain-lain. “Ingat, isoman perlu waktu cukup lama. Tidak bisa dilakukan tanpa persiapan,” ujar dr. Jeffri.

2. Pemeriksaan medis jangan dilupakan

Periksa saturasi, suhu tubuh, dan tanda-tanda vital lainnya. Berkonsultasilah ke dokter, terutama bagi yang mengalami gejala. 

“Bila sulit konsultasi ke rumah sakit, bisa manfaatkan telekonsultasi seperti Good Doctor,” jelas dr. Jeff dalam Live Instagram bersama Good Doctor dan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) dengan tema “A-Z Tips Isoman Antipanik.

3. Tidak serumah dengan keluarga

Ilustrasi isolasi mandiri, isoman, COVID-19
Ilustrasi isolasi mandiri, isoman, COVID-19. (Photo by Erik Mclean on Unsplash)

Saat isoman, sebaiknya isolasi sendiri, tidak serumah dengan anggota keluarga yang lain. Tapi bila terpaksa tetap serumah, sebisa mungkin harus terpisah. Kalau bisa menggunakan kamar mandi berbeda. Disarankan memang ke tempat isolasi terpusat. Ini lebih baik daripada tinggal dengan keluarga, karena mereka berisiko terpapar virus. 

Ditambahkan dr. Jeff, sebenarnya yang boleh isoman adalah mereka yang tidak bergejala atau bergejala ringan.

“Mereka yang bergejala sedang, jadi tidak cuma demam atau batuk ringan, tapi juga ada napas berat atau sesak, apalagi bila disertai penurunan saturasi oksigen (<93%), sebaiknya diperiksakan ke rumah sakit.," ujarnya.

Apa itu gejala sedang? Gejala sedang adalah perbatasan antara gejala ringan ke berat. Pada pasien seperti ini, bila dilakukan foto toraks biasanya sudah ada gambaran infeksi paru sehingga harus dirawat di rumah sakit. Karena, kalau sudah ada pneumonia perlu terapi yang lebih agresif, yang diberikan via infus, dan pemantauan pun harus lebih ketat.

4. Mengetahui sindrom pelana kuda dan komorbid

Ilustrasi isolasi mandiri, isoman, COVID-19
Ilustrasi isolasi mandiri, isoman, COVID-19. (Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash)

Menurut dr. Jeff ada tiga fase COVID-19 dan sindrom pelana kuda, yaitu fase pertama, fase pulmonary, dan fase badai sitokin. Intinya, pengobatan harus dilakukan agresif sebelum masuk fase dua atau fase pulmonary, apalagi sampai masuk ke fase tiga atau badai sitokin. Terlebih pada orang dengan komorbid penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi dan lansia, di mana risiko kematian meningkat enam kali lipat. 

“Komorbid adalah salah satu indikasi untuk dirawat di rumah sakit. Terlebih bila komorbidnya lebih dari dua penyakit maka dianjurkan untuk dirawat seperti pasien COVID gejala sedang. Namun, orang dengan komorbid boleh isoman bila kondisinya terkontrol dengan obat rutin,” jelas dr. Jeff. 

Selama isoman, orang dengan komorbid disarankan tetap rutin minum obatnya dan memantau saturasi oksigen. Lansia biasanya minum banyak obat atau polifarmasi sehingga perlu dipantau oleh dokter berkaitan dengan obat yang harus dilanjutkan, obat yang perlu dihentikan dulu sementara, dan obat yang dosisnya perlu disesuaikan atau diganti. 

Pada pasien diabetes misalnya, biasanya kadar gula darah naik karena Covid-19, sehingga memerlukan injeksi insulin.  Bila minum polifarmasi, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter.  Obat dan suplemen yang harus disiapkan.

Persediaan obat selama isoman biasanya menjadi perhatian pasien. Menurut dr. Jeff, sekarang banyak sekali tersedia paket isoman, dikemas dalam boks dan dilengkapi daftar obat beserta dosisnya.

 “Kita harus kritis dan tahu, apa saja isinya. Jangan cuma terima paket dan langsung minum obatnya. Di dalam paket banyak sekali obat, bisa belasan,” jelasnya.

5. Berikut panduan mengonsumsi obat selama isoman

Isolasi Mandiri
melakukan isolasi mandiri di rumah. (FOTO: Unsplash.com/Kelly Sikkema).

Pertama, cocokkan obat dengan daftarnya. Cek diri sendiri, kita masuk kategori mana: OTG, ringan, sedang, atau berat? Setelah itu cek pedoman yang sudah disusun, antra lain bisa dilihat di Panduan Isolasi Mandiri dari GoodDoctor.

Untuk gejala ringan obatnya lebih sederhana, cukup vitamin C, D, zinc, juga vitamin B dan E. 

- Obat tambahan biasanya antivirus (favipiravir), dan mungkin juga antibiotik. Namun harus ada indikasinya, dan biasanya ditemukan oleh dokter/nakes. Untuk antibiotik, indikasinya yaitu infeksi sekunder, biasanya oleh bakteri H. influenza atau Strepococcus. Kedua bakteri ini sering menjadi infeksi oportunistik pasien Covid. Kalau ada tanda infeksi bakteri ini, apalagi ada tanda atipikal/tidak khas, boleh diberikan antibiotik, biasanya azithromycin. 

- Kalau ada gejala batuk, dahak diperiksa dulu dengan pemeriksaan lab apus, apakah ada kuman infeksi sekunder. - Untuk gejala berat juga diperlukan antivirus, dan bisa dipertimbangkan antikoagulan (pengencer darah). Ini harus berdasarkan pertimbangan dokter, jangan konsumsi sendiri. 

- Untuk gejala berat, diperlukan steroid. Biasanya jika ada penurunan saturasi oksigen, sehingga perlu oksigen. Namun ada salah kaprah. Di dalam paket isoman terdapat steroid tablet, padahal yang dianjurkan adalah steroid infus/IV, bukan yang tablet. Untuk steroid tablet, bukti ilmiahnya untuk Covid-19 belum jelas. 

- Hindari pemakaian obat yang harus dengan penilaian dokter. Biar tidak bingung, wajib dipantau oleh dokter, bisa melalui telemedicine.

Head of Medical Management Good Doctor Technology Indonesia (GDTI), dr. Adhiatma Gunawan menyatakan,  Good Doctor selaku penyedia layanan kesehatan berbasis teknologi, sudah mengeluarkan Panduan Isolasi Mandiri yang sangat lengkap dan masyarakat bisa mengaksesnya dengan mudah. 

“Panduan sudah sangat lengkap, dikurasi oleh dokter, dan selalu kita perbarui dengan perkembangan terbaru. Selama isolasi mandiri pasien disarankan tetap terhubung dengan tenaga medis, melalui telemedicine. Untuk memudahkan masyarakat menjalani isolasi mandiri, Good Doctor memiliki e-book panduan isolasi mandiri yang bisa diakses melalui akun Instagram Good Doctor,” ungkap dr Adhiatma.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela