Studi Baru: Ini Jumlah Waktu Luang yang Dibutuhkan untuk Jadi Lebih Bahagia

Annissa Wulan26 Okt 2021, 10:30 WIB
Diperbarui 26 Okt 2021, 10:30 WIB
Studi Baru: Ini Jumlah Waktu Luang yang Dibutuhkan untuk Jadi Lebih Bahagia

Fimela.com, Jakarta Merasa kewalahan dan penat dengan keseharian tentu bisa membuatmu merasa tidak bahagia. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa lebih banyak waktu luang bisa memberi keajaiban.

Dalam studi multi bagian baru yang dirilis, para peneliti menganalisis data dari dua survei berskala besar tentang bagaimana orang Amerika menghabiskan waktu mereka. Secara keseluruhan, survei tersebut melibatkan lebih dari 35.000 responden.

Para peneliti menemukan bahwa orang dengan lebih banyak waktu luang, umumnya memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi, tapi hanya sampai titik tertentu. Orang-orang yang memiliki waktu luang hingga dua jam sehari, umumnya melaporkan bahwa mereka merasa lebih baik daripada mereka yang memiliki lebih sedikit waktu, seperti dilansir dari huffpost.com.

Tapi, orang-orang yang memiliki lima jam atau lebih waktu luang dalam sehari, umumnya mengatakan bahwa mereka merasa lebih buruk. Jadi, titik tengahnya adalah dua sampai tiga jam per hari.

Memiliki terlalu sedikit waktu luang memang buruk, tapi memiliki banyak waktu luang tidak selalu baik.

 

Bagaimana orang menghabiskan waktu luang mereka juga penting

Studi Baru: Ini Jumlah Waktu Luang yang Dibutuhkan untuk Jadi Lebih Bahagia
Simak di sini penjelasan mengapa orang dengan waktu luang bisa menjadi lebih bahagia.

Tentu saja, kebanyakan orang secara naluriah tahu bahwa terlalu sibuk bisa menyebabkan stres. Tapi studi baru ini bukan yang pertama mempertanyakan apakah lebih banyak waktu luang benar-benar akan membuat orang bahagia, seperti yang mereka yakini.

Para ahli mencatat bahwa beberapa orang dewasa berjuang dengan masa pensiun yang suram, yang antara lain dapat disebabkan oleh kurangnya stimulasi dan struktur. Selain menganalisis survei, para peneliti juga melakukan beberapa eksperimen online yang lebih kecil.

Salah satunya, meminta peserta untuk membayangkan memiliki 3,5 hingga 7 jam bebas per hari. Mereka diminta membayangkan menghabiskan waktu itu untuk melakukan hal-hal yang produktif atau membayangkan melakukan kegiatan yang tidak produktif.

Para peserta percaya bahwa kesejahteraan mereka akan terganggu jika memiliki banyak waktu luang di siang hari, tapi hanya jika mereka menggunakannya secara tidak produktif. Walaupun percobaan ini bersifat hipotesis, namun sejalan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwaa berada dalam keadaan mengalir lebih baik untuk kesehatan mental.

Dengan kata lain, bagaimana seseorang menggunakan waktu luang mereka itu penting. Tentu saja, apa yang terasa produktif, terserah kamu.

Intinya, orang-orang merasa mendapatkan manfaat dengan menghabiskan waktu luang yang bertujuan. Bagaimana menurutmu, Sahabat FIMELA?

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela