IDAI: Berbagai Syarat Pelaksanaan PTM Harus Dipatuhi agar Anak Tetap Sehat Terbebas dari Covid-19

Anisha Saktian Putri26 Sep 2021, 19:24 WIB
Diperbarui 27 Sep 2021, 11:48 WIB
Berbagai Syarat Pelaksanaan PTM Harus Dipatuhi agar Anak Tetap Sehat Terbebas dari Covid-19

Fimela.com, Jakarta Menurunnya jumlah kasus positif harian Covid-19 di berbagai daerah membuat aktivitas di luar rumah semakin dilonggarkan, termasuk sekolah yang mulai melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Menanggapi hal tersebut, Prof. DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon) - Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI menegaskan jika ingin melaksanakan PTM harus dibarengin dengan syarat yang ketat.

Sebab, berdasarkan studi retrospektif dari data laporan kasus Covid-19 pada anak yang dirawat oleh dokter anak yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) selama Maret-Desember 2020 (gelombang pertama covid di Indonesia), didapatkan 37.706 kasus anak terkonfirmasi Covid. Hasil penelitian IDAI tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in pediatrics yang terbit 23 September 2021 lalu.

Berdasarkan data tersebut, diantara anak-anak terkonfirmasi Covid yang ditangani oleh dokter anak, angka kematian tertinggi pada anak usia 10-18 tahun (26 persen), diikuti 1-5 tahun (23 persen), 29 hari- kurang dari 12bulan (23 persen), 0-28 hari (15 persen), dan 6- kurang dari 10 tahun (13 persen).

“Penelitian ini adalah gambaran data terbesar pertama kasus Covid anak di Indonesia pada gelombang pertama Covid. Angka kematian yang cukup tinggi adalah hal yang harus dicegah dengan deteksi dini dan tatalaksana yang cepat dan tepat," ujar Prof. DR. Dr. Aman dalam acara virtual Update Kajian IDAI Terkait Covid-19 pada Anak: Pembelajaran Tatap Muka, Minggu (26/9/2021).

Bahkan ia menyampaikan jika data tersebut diteruskan hingga September 2021 maka anak meninggal karena Covid-19 sebanyak kurang lebih 1800 dan yang positif 260 ribu. Data tersebut menunjukan peningkatannya yang cukup banyak. "Bahkan akhir Juni-Agustus ada 100 anak meninggal perminggunya," ungkapnya.

Melihat hal tersebut, dr. Aman menegaskan harus dilaksanakannya beberapa persyaratan ketika memulai PTM.

Harus melakukan percobaan melalui tindak lanjut yang ketat. "PTM memang tidak bisa ditunda, namum harus aman dan menjamin kesehatan anak. Jadi uji coba terlebih dahulu, kalau ada anak anak yang komorbid harus bagaimana, kalau keluarga ada yang terinfeksi gimana, transportasi kesekolah gimana. Jadi persyaratan harus rapi, kalau ada anak positif bagaimana," ujarnya.

Khasus positif rate covid di bawah 80 persen. Guru, petugas sekolah, siswa keluarga harus sudah melakukan vaksin.

Tidak boleh sama sekali membuka masker, tidak boleh makan dan minum. Coba sekolah 2-3 jam. Sirkulasi udara di sekolah serta jumlah murid, harus diperhatikan benar-benar, srikulasi udara,hingga jumlah murid.

"Banyak laporan kejadi positif anak dimulai karena belum vaksin, dan di lingkungan masih banyak yang positif, kemudian sering buka dan makan makan di sekolah," paparnya.

10 daerah di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi Covid terbanyak

Pastikan Kesiapan Pihak Sekolah
Pastikan Kesiapan Pihak Sekolah credit via Shutterstock.com

Lebih lanjut, laporan riset IDAI tersebut juga menjabarkan distribusi regional kasus Covid pada anak, dimana terdapat 10 (sepuluh) daerah di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi Covid terbanyak yakni: Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, DIY, dan Papua. Juga ada 7 (tujuh) daerah dengan kasus kematian anak terkonfirmasi Covid terbanyak, yaitu: Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.

Disebutkan oleh DR. Dr. Antonius H. Pudjiadi, Sp.A(K) - Ketua Bidang Ilmiah Pengurus Pusat IDAI, “Tidak meratanya deteksi kasus ini terjadi karena: fasilitas tes PCR dan fasilitas kesehatan yang berbeda, kapasitas testing PCR saat itu di Indonesia masih rendah dan anak bukan populasi prioritas untuk tes.”

Laporan hasil riset IDAI tersebut juga menyebutkan bahwa CFR Covid anak di Indonesia ini jauh lebih tinggi dibanding di negara lain seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, kemungkinan karena kapasitas pemeriksaan (testing) yang rendah sehingga banyak kasus yang tidak terdeteksi.

Catatan: Data Kemenkes pada waktu yang sama mendapatkan 77.254 kasus anak terkonfirmasi Covid dari total kasus 671.778, yaitu sekitar 11.5 persen. Perbedaan jumlah ini terjadi karena di penelitian ini yang terdata hanyalah kasus yang ditangani oleh dokter anak, sedangkan Kemenkes juga masukkan data dari anak yang tidak bergejala dan hasil telusur kontak.

"Kita harus mendukung PTM tapi harus semana mungkin dan bebas Covid," tutup Prof. DR. Dr. Aman

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela