Penting Memeriksakan Diri Setelah Bebas dari Covid untuk Menghindari Post Covid-19 Syndrome

Anisha Saktian Putri29 Sep 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 29 Sep 2021, 08:30 WIB
Penting Memeriksakan Diri Setelah Bebas dari Covid untuk Menghindari Post Covid-19 Syndrome

Fimela.com, Jakarta Biasanya pasien covid-19 akan melakukan isolasi mandiri 10 hari hingga dua minggu, sebba biasanya setelah melewati waktu ini pasien dinyatakan bebas virus Covid-19.

Setelah dinyatakan sembuh dari hasil test maupun tanpa bergejala, tidak serta-merta membuat sahabat Fimela bersantai diri karena kini post Covid-19 syndrome bisa saja mengintai. Pada beberapa khasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh masih merasakan gejala yang menetap hingga beberapa minggu atau beberapa bulan.

Gejala yang dirasakan mulai dari sakit kepala dan mudah lelah, batuk, hingga gejala berat seperti masalah kekentalan darah, autoimun, tiroid, hingga badai sitokin yang apabila tidak ditangani dengan baik akan berisiko memicu terjadinya gangguan kesehatan kronis yang serius.

Menurut CDC, kondisi pasca-COVID adalah berbagai masalah kesehatan baru, kembali, atau berkelanjutan yang dapat dialami orang empat minggu atau lebih setelah pertama kali terinfeksi virus penyebab COVID-19. Bahkan orang yang tidak memiliki gejala COVID-19 dalam beberapa hari atau minggu setelah terinfeksi dapat memiliki kondisi pasca-COVID.

Kondisi ini dapat muncul sebagai jenis dan kombinasi masalah kesehatan yang berbeda untuk jangka waktu yang berbeda.

dr. Wirawan Hambali, Sp.PD – dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktik di RS Pondok Indah – Puri Indah, mengatakan beberapa faktor yang mudah terkena post covid ialah, perempuan berisiko dibanding laki-laki, usia lebih dari 50 tahun, memiliki kurang lebih dua komorbid sebelum infeksi akut lebih berisiko, bahkan kulit putih lebih berisiko.

"Risiko meningkat jika adanya gejala selama infeksi akut Covid-19 akut, terutama kelelahan, nyeri kepala, suara serak, dan myalgia. Perempuan berisiko karena mekanisme dikhawatirkan mendasari long covid adalah autoimun dan perempuan mudah terserang autoimun," ujar dr. Wirawan dalam acara Small Group Media Discussion RSPI 'Kenali Post-Covid-19 Syndrome secara virtual.

Pemeriksaan setelah Covid

Jangan Kasih Kendor, Maksimalkan Pencegahan Covid-19 dengan Upaya Mandiri Berikut Ini
(c) Shutterstock

Melihat hal tersebut, dr. Wirawan mengatakan setelah terinfeksi sebaiknya melakukan deteksi dini dan indetifikasi kondisi tubuh. Mulai dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium seperti melihat fungsi ginjal, paru-paru, dan jantung, pembukaan darah, mikronutrien, hingga pemeriksaan otak dan saraf.

"Orang mengalami covid-19 berhari-hari seperti sering tiduran, setelah itu harus rehabilitas fisik, paru hingga jantung perhatikan nutrisi, jadi harus wasapada penyakit lainnya," tuturnya.

dr. Wirawan mengatakan jika tidak melakukan pemeriksaan akan berisiko terkena post Covid-19 syndrome dan memengaruhi sosial-ekomini karena tubuh lebih lelah setelah terinfeksi. Dan lebih lama untuk berpikir, hingga brain fog.

COVID-19 dapat terjadi akibat virus SARS-CoV-2 yang menembus sawar-darah otak menuju ke otak secara langsung, ataupun melalui akson saraf tepi nervus olfaktori ke otak. "Sel-sel otak rusak permanen akibat covid-19 ini akan permenan jika tidak diperiksa segera. Jika sudah terindentifikasi jadi mengetahui perawatan apa yang harus dilakukan," tuturnya.

Gejala post covid-19 juga bisa diketahui dengan mudah dengan mengisi kusioner tentang Depresi yang sudah tersedia di internet namun pilihlah yang tervalidasi. Atau jika merasa fisik dan kesehatan mental yang berbeda dari sebelum covid-19 bisa konsultasi dengan dokter terkait.

"Kelelahan berlebih juga menjadi gejala post covid, karena sebelum covid-19 tidak sering lelah bila mengerjakan sesuatu. Ini bisa dicurigai jangan menyepelekan. Bisa latihan peregangan tangan, latihan nafas, berjalan, hingga karaoke untuk melatih paru-paru," tutupnya.

#elevate women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela