Diprediksi Gelombang Covid-19 di Indonesia akan Terjadi 3 Bulan Kedepan, Berikut Antisipasinya

Anisha Saktian Putri30 Sep 2021, 16:30 WIB
Diperbarui 30 Sep 2021, 16:30 WIB
Diprediksi Gelombang Covid-19 di Indonesia akan Terjadi 3 Bulan Kedepan

Fimela.com, Jakarta Covid-19 sudah terjadi di Indonesia selama lebih dari 1,5 tahun. Meski vaksin sudah mulai dilakukan, namun diprediksi gelombang ke-3 pandemi akan terjadi beberapa bulan ke depan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito pada 21 September 2021 lalu di Jakarta menilik pola kenaikan kasus di negara India, Malaysia, dan Jepang.

"Kita perlu mewaspadai kondisi dunia yang saat ini tengah mengalami third wave (gelombang ketiga). Pada pola second wave (gelombang kedua) di Indonesia, di mana terdapat jeda 3 bulan (setelah lonjakan di dunia), perlu kita antisipasi," tegas Wiku melansir Liputan6.com.

Wiku Adisasmito memprediksi gelombang 3 COVID-19 di Indonesia akan terjadi 3 bulan ke depan saat periode libur Natal dan Tahun Baru 2022.

"Ini mengingat dalam 3 bulan ke depan, kita akan kembali memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru 2022," jelasnya.

Hal serupa disampaikan oleh Anggota Satgas Penanganan COVID-19 Sub Bidang Mitigasi Falla Adinda 21 September 2021 lalu, bahwa gelombang 3 pandemi COVID-19 di Indonesia diprediksi akan terjadi bila masyarakat mulai lengah dengan protokol kesehatan (prokes).

Antisipasi Gelombang 3 COVID-19 di Indonesia

memakai masker kesehatan
ilustrasi dokter perempuan/copyright by Mix and Match Studio (Shutterstock)

Jika diingat, saat gelombang dua covid-19 bulan Juni-Juli lalu rumah sakit penuh hingga banyaknya yang meninggal. Untuk menghindari hal serupa, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan, kombinasi strategi menghindari gelombang 3 COVID-19. Deteksi yang baik hingga percepatan vaksinasi COVID-19 menjadi kuncinya.

"Kombinasi testing dengan PeduliLindungi, vaksinasi, dan jaga jarak. Saya kira itu alat kita untuk menghindari kalau ada gelombang COVID-19 berikutnya," ujar Luhut usai Rapat Terbatas PPKM pada Senin, 27 September 2021 melansir Liputan6.com.

Perkembangan pemeriksaan (testing) per 27 September 2021 Indonesia mengalami peningkatan. Hal ini sejalan dengan pelacakan kontak (tracing) yang juga semakin bertambah.

"Testing terus meningkat, tadinya 26 persen kabupaten/kota Jawa Bali minggu lalu, sekarang 36 persen. Jadi 10 persen membaik, dengan tingkat tracing 5 kontak erat per kasus," imbuh Luhut.

Kasus COVID-19 dunia per Selasa (28/9/2021) dilaporkan menyentuh 232.360.045. Dengan total kematian mencapai 4.756.740 dan dosis vaksin yang sudah diberikan sebanyak 6.128.514.746.

Epidemiolog Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) 28 September 2021 lalu mengatakan, upaya pengendalian COVID-19 harus tepat sasaran dan sistematis. Berupa intervensi pada kasus dan kontak erat.

Mengutip data dari laman World o Meter, terpantau Amerika Serikat masih menjadi negara dengan kasus Virus Corona COVID-19 terbanyak di dunia.

1. Amerika Serikat 43.942.335

2. India 33.697.581

3. Brasil 21.366.395

4. Inggris 7.701.715

5. Rusia 7.443.149

6. Turki 7.066.688

7. Prancis 6.995.628

8. Iran 5.547.990

9. Argentina 5.251.940

10. Kolombia 4.952.690

11. Spanyol 4.951.640

12. Italia 4.662.087

13. Jerman 4.211.071

14. Indonesia 4.209.403

15. Meksiko 3.635.807

Mengutip World o Meter, Indonesia masuk lima besar negara dengan kasus COVID-19 terbesar dunia. Tepatnya berada di posisi ke-4 dengan 4,2 juta kasus infeksi dan 141.585 kematian.

Di posisi pertama negara Asia dengan kasus COVID-19 terbanyak adalah India, lalu Turki, Iran, Indonesia, dan Filipina.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela