Kemenkes Ungkap Varian Omicron Hasil Kombinasi Mutasi Delta, Alpha, Beta, Gamma

Hilda Irach02 Des 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 02 Des 2021, 12:00 WIB
Kemenkes Ungkap Varian Omicron Hasil Kombinasi Mutasi Delta, Alpha, Beta, Gamma

Fimela.com, Jakarta Virus Covid-19 varian Omicron menciptakan kekhawatiran baru bagi dunia sejak pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan, Rabu 24 November 2021. Diketahui varian omicron ini memiliki mutasi lebih banyak dari varian Delta.

Rupanya, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Siti Nadia Tarmizi menyebut bahwa varian Omicron merupakan kombinasi dari varian-varian lainnya. Disebabkan hasil kombinasi mutasi dari varian Alpha, Beta, Gamma, Delta, AY.23, dan AY.4. Maka tidak heran varian Omicron ini begitu sangat menular.

"Kita tahu betapa dahsyatnya varian Delta di bulan Juli 2021. Kita tidak mau apa yang terjadi nanti pasca Nataru (Natal dan Tahun Baru), kita ada virus Omicron yang jauh lebih dahsyat," kata Nadia, Selasa (30/11/2021), dilansir Health Liputan6.com.

Meski lebih cepat menular, lanjut Nadia, varian Omicron tidak meningkatkan keparahan terutama pada individu yang sudah divaksinasi. "Jadi, ayo cepat kita vaksinasi," ujarnya.

Pentingnya Vaksinasi

Kemenkes Ungkap Varian Omicron Hasil Kombinasi Mutasi Delta, Alpha, Beta, Gamma
Kemenkes Ungkap Varian Omicron Hasil Kombinasi Mutasi Delta, Alpha, Beta, Gamma (Pexels/annashvets).

Vaksinasi menjadi penting karena Indonesia pun masih dihadapkan dengan varian Delta yang begitu mendominasi. Di Indonesia saja, kata Nadia, varian Delta sudah bermutasi sampai dengan 22 varian.

"Varian yang paling banyak adalah AY.23 (dengan total sekuens 3.050) sama seperti varian yang dilaporkan di Singapura," kata Nadia.

Dijelaskan Nadia, meski varian Delta menurunkan efikasi vaksin, tetapi ada dua sistem yang bekerja humoral --- imunitas dengan antibodi --- dan selular (sel)

Nadia pun menyebut bahwa vaksin booster sangat penting. Walau begitu, saran Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), fokus vaksinasi saat ini memprioritaskan pemenuhan cakupan vaksinasi lengkap pada populasi umum, terutama lansia.

“Saat ini, lansia yang kita kejar karena termasuk kelompok prioritas yang mendapatkan booster. Banyak negara booster dimulai setelah cakupan vaksinasi dosis 1 dan 2 lebih dari 50 persen,” lanjut Nadia.

Varian Omicron Punya Banyak Mutasi

Kemenkes Ungkap Varian Omicron Hasil Kombinasi Mutasi Delta, Alpha, Beta, Gamma
Kemenkes Ungkap Varian Omicron Hasil Kombinasi Mutasi Delta, Alpha, Beta, Gamma (Pexels/annashvets).

WHO melaporkan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir, seiring terdeteksinya varian Omicron di Afrika Selatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun sepakat memasukkannya ke dalam kategori Variant of Concern (VoC) hanya 72 jam setelah adanya kasus pertama.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan alasan WHO mengelompokan varian Omicron ke dalam kategori yang wajib jadi perhatian atau Variant of Concern (VoC) adalah dikarenakan memiliki mutasi yang banyak. Dia bahkan menyebut bahwa mutasi-mutasi yang berbahaya dari varian-varian sebelumnya ada di Omicron tersebut.

"Omicron memiliki mutasi sekitar 50, yang 30 mutasinya ada di spike protein atau mahkota dari virus Corona tersebut," kata Budi dalam keterangan pers pada Minggu malam, 28 November 2021.

"Dari 30 mutasi tersebut dan 50 mutasi totalnya, banyak mutasi-mutasi yang ada di varian Alpha, Beta, Delta, Gamma, yang buruk-buruk yang diidentifikasi," dia menambahkan.

Beberapa mutasi varian Omicron, kata Budi, memiliki dampak seperti penurunan respons imun, meningkatkan transmisi penularan, dan menurunkan kemampuan antibodi.

Meski dapat meningkatkan transmisi penularan dan menurunkan kemampuan netralisasi antibodi, Budi, mengatakan, tidak ada bukti dalam meningkatkan keparahan terutama pada individu yang telah divaksinasi.

 

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela