Pertama dalam Sejarah, Dokter AS Berhasil Cangkok Jantung Babi ke Manusia

Hilda Irach13 Jan 2022, 11:30 WIB
Diperbarui 13 Jan 2022, 13:12 WIB
Pertama dalam Sejarah, Dokter AS Berhasil Cangkok Jantung Babi ke Manusia

Fimela.com, Jakarta Kabar baru datang dari dunia kedokteran. Setelah puluhan tahun mencari kemungkinan apakah organ tubuh hewan bisa dijadikan transplantasi untuk manusia, akhirnya itu terjawab di tahun 2022.

Para peneliti dan tim dokter dari Universitas Maryland School of Medicine, Amerika Serikat pada Senin (10/1/2022) berhasil melakukan transplantasi jantung babi ke manusia atau xenotransplantasi. Operasi ini menandai keberhasilan pertama dalam sejarah.

Adapun pasien yang menerima cangkok jantung babi ini adalah David Bennett, pria 57 tahun dengan penyakit jantung kronis. Dia selamat dari kematian usai jantung babi berhasil dimasukkan ke dalam tubuhnya.

Tidak Ada Penolakan dari Tubuh Pasien

Pertama dalam Sejarah, Dokter AS Berhasil Cangkok Jantung Babi ke Manusia
Keberhasilan dokter di Amerika Serikat dalam melakukan cangkok atau transplantasi jantung babi ke manusia menjadi yang pertama dalam sejarah. (pexels/christopher carson).

Melansir reuters, operasi tersebut diklaim sukses lantaran tidak ada penolakan dari tubuh Bennett. Pihak rumah sakit di Maryland mengatakan, tiga hari pasca operasi, pasien tersebut baik-baik saja.

Meskipun masih terlalu dini untuk menilai apakah operasi itu benar-benar akan berhasil, keberhasilan ini tak pelak menjadi angin segar asa bagi masa depan dunia medis agar suatu hari dapat menggunakan organ hewan untuk transplantasi yang menyelamatkan jiwa. Ini sekaligus menjadi perkembangan baru dalam dunia medis setelah transplantasi ginjal yang sudah sering dilakukan.

“Ini adalah operasi terobosan dan membawa kita lebih dekat untuk memecahkan krisis kekurangan organ,” ujar dokter yang melakukan transplantasi jantung babi ke tubuh Bennet, Dr Bartlett Griffith

“Kami akan melanjutkan dengan hati-hati, kami juga optimis bahwa operasi pertama di dunia ini akan memberikan alternatif baru yang penting bagi pasien di masa depan,” lanjutnya.

Pilihan Terakhir Bagi Bennett

Sebelum menyatakan bersedia untuk melakukan operasi transplantasi jantung babi, Bennett telah diberitahu bahwa tak ada jaminan atas percobaan itu. Meski demikian, Bennett tetap bersedia.

Baginya, transplantasi jantung ini merupakan pilihan terakhir untuknya. Hal ini mengingat Bennett mengidap penyakit aritmia yang mengancam jiwa. Agar tetap hidup, dia harus terhubung ke mesin bypass jantung paru-paru yang disebut juga sebagai Oksigenasi Membran Ekstrakorporeal (ECMO).

Karena kondisinya itu, Bennett tak memenuhi syarat untuk masuk dalam daftar transplantasi, ia juga dianggap tidak memenuhi syarat untuk pompa jantung buatan karena aritmianya.

Oleh karenanya, transplantasi jantung babi ini menjadi pilihan terakhir untuknya. “Pilihannya saya mati atau menjalani transplantasi ini, saya ingin hidup. Saya tahu ini ibarat menembak dalam kegelapan, tapi ini pilihan terakhir saya,” ujar Bennett sebelum operasi.

Organ Babi Telah Lama Jadi Sumber Transplantasi

Pertama dalam Sejarah, Dokter AS Berhasil Cangkok Jantung Babi ke Manusia
Keberhasilan dokter di Amerika Serikat dalam melakukan cangkok atau transplantasi jantung babi ke manusia menjadi yang pertama dalam sejarah. (pexels/vidal balielo)

Babi sendiri telah lama menjadi sumber potensial transplantasi karena organ mereka sangat mirip dengan manusia, termasuk jantung. Selain jantung, organ babi lainnya yang sedang diteliti untuk ditransplantasikan ke tubuh manusia adalah ginjal, hati, dan paru-paru.

Kurangnya organ manusia yang disumbangkan untuk transplantasi mendorong para ilmuwan berupaya keras mencari alternatif dengan menggunakan organ hewan sebagai gantinya.

Menurut United Network for Organ Sharing, yang mengawasi sistem transplantasi organ di Amerika, tahun lalu dilaporkan ada lebih dari 3.800 transplantasi jantung di Amerika.

“Jika transplantasi organ hewan ke manusia berhasil, akan ada persediaan organ yang tidak ada habisnya untuk pasien-pasien yang menderita,” ujar Dr. Muhammad Mohiuddin, direktur ilmiah program transplantasi organ hewan ke manusia, dikutip dari Associated Press.

Percobaan transplantasi organ babi ke manusia terdahulu tidak berhasil karena perbedaan genetik yang menyebabkan penolakan organ atau virus yang menimbulkan risiko infeksi.

Namun kini, para ilmuwan berhasil mengatasi masalah itu dengan mengubah gen dalam babi yang berpotensi berbahaya. Dalam jantung yang ditanamkan ke tubuh Bennett, tiga gen babi yang berhubungan dengan penolakan organ dihilangkan. Selain itu, para peneliti juga menghapus gen babi untuk mencegah pertumbuhan berlebihan pada jaringan jantung babi.

 

#Women for Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela