Sukses

Health

Diary Fimela: Bersama LoveCare Indonesia, Veronica Tan Berhasil Memenangkan UN Women Care Accelerator

Fimela.com, Jakarta Kebutuhan akan perawat, caregiver, dan babysitter dalam keluarga Indonesia terutama yang tinggal di perkotaan terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan beragam kebutuhan yang mengharuskan sebuah keluarga membutuhkan pertolongan jasa dari orang lain untuk membantu menjaga orang-orang terkasih setiap hari. Melihat kebutuhan ini, pada Senin, 18 April 2022, berlangsung di Kunstkring, Veronica Tan, selaku President of Commissioner  LoveCare, menyampaikan sebuah solusi praktis.

Veronica Tan memperkenalkan kembali Lovecare Indonesia, sebagai marketplace pertama di Indonesia yang menyediakan aplikasi penyedia jasa profesional kesehatan, seperti perawat, caregiver, dan babysitter untuk lansia dan anak-anak. LoveCare menghubungkan dan mencocokkan penyedia jasa medis maupun non-medis dengan pengguna jasa berdasarkan kebutuhan, lokasi, dan preferensi secara aman, cepat, dan nyaman. 

Awalnya, LoveCare didirikan pada tahun 2019, lahir dari pengalaman pribadi, serta keinginan untuk melayani dan  membuat perubahan di sektor layanan kesehatan. Didirikan oleh Veronica Tan, Annette Anhar, Susan Nio,  Dr. Venita Eng, dan Renold Sutadi, LoveCare berhasil memenangkan UN Women Care Accelerator pada  tahun 2021. 

Sejak 2019 LoveCare telah menjadi wadah yang memberikan dampak nyata bagi para keluarga Indonesia.  Veronica mengatakan, “Saya mendapat inspirasi ketika saya pertama kali mengenal kata “paliatif”, yaitu  pelayanan kualitas hidup pada pasien terminal yang tidak hanya memerlukan medical treatment tetapi  mereka membutuhkan pelayanan holistik yang memakai hati," kata Veronica.  

"Saya melihat bahwa kebutuhan akan tenaga perawat, caregiver selalu ada di mana-mana, realitanya, tidak  mudah mendapatkan tenaga perawat dan caregiver ini. Itulah awalnya Lovecare dibuat, untuk menyediakan  tenaga perawat untuk balita sampai lansia yang memiliki ketulusan, serta kasih dan sayang dalam merawat  pasiennya dengan basis teknologi. Aplikasi lovecare ini mempertemukan kebutuhan klien dari berbagai  kota, dengan tenaga perawat balita hingga lansia berkompetensi yang berada di berbagai daerah," kata  Veronica. 

 

Menjawab Tantangan Terbesar Setiap Keluarga dalam Mencari caregiver

Hampir setiap orang mengalami, betapa tidak mudahnya mendapatkan tenaga perawat dan caregiver homecare. "Di sisi lain, saya juga  dikelilingi kerabat dan teman-teman anak muda yang fokus di dunia digital dan memiliki hati yang sama  untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan mental kuat untuk melakukan perubahan," lanjut Veronica. 

"Saya berpikir, sepertinya akan jadi mudah ya, kalau ada aplikasi yang bisa mempertemukan pasien atau  keluarganya dengan tenaga caregiver ini. Bayangan saya seperti Gojek tapi buat caregiver," kata Veronica.  Cuma disadari Veronica bahwa mencari tenaga caregivernya harus disiapkan dengan baik, mengingat  orangtua, keluarga dan bayi merupakan anugerah dalam kehidupan. "Sehingga tenaga caregiver ini menjadi bagian dari upaya mengelola kualitas kehidupan berkeluarga. Dan aplikasi inilah yang menjembataninya.  Butuh homecare ingat Lovecare," sambung Veronica. 

“Saya dan tim di Lovecare ingin membuat usaha yang tidak hanya menyelesaikan problem, mendapatkan  laba, namun juga usaha ini harus bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat. Berupa membuka  lapangan pekerjaan dengan tenaga kerja serta sumber daya manusia yang mentalnya terdidik dan terlatih  dengan baik," kata Veronica. 

LoveCare sempat melewati beberapa rintangan. "Sebelum ada sistem marketplace, kendala terbesar  LoveCare adalah ketika harus mencocokkan klien dengan petugas yang tepat dalam waktu yang singkat,"  kata Susan Nio, sebagai CEO & CTO LoveCare. 

Hal yang dimaksud Susan adalah kondisi masing-masing customer itu unik, memiliki kebutuhan dan  preferensi yang berbeda-beda. Ada yang punya kebutuhan medis maupun non medis, ada yang  membutuhkan bantuan perawat dalam jangka pendek maupun jangka panjang. "Ada juga yang mau pekerja  (perawat) menguasai kompetensi tertentu, termasuk juga preferensi gender, usia dan budget tertentu. Di sisi  lain, setiap mitra petugas pun unik, memiliki kompetensi, preferensi bekerja dan latar belakang yang  berbeda-beda. Dulu kami harus satu-persatu cek dan tanya mitra dan bolak balik konfirmasi dengan  customer. Hal itu sangat tidak efisien," papar Susan. 

Akhirnya team Lovecare memikirkan kemungkinan untuk menggabungkan konsep standarisasi dan  personalisasi. "Kami membuat standarisasi proses rekrutment para mitranya, sehingga jelas apa  kompetensinya, bersedia bekerja di lokasi mana, jangka panjang atau pendek, masuk level mana dan berapa  fee-nya. Sehingga kemudian customer bisa tinggal klik, otomatis mencocokkan dan personalisasi  kebutuhannya dengan mitra-mitra yang memang sesuai pada saat pemesanan melalui aplikasi," lanjut  Susan. Langkah itu dinilainya lebih mudah, cepat, dan akurat. Maka lahirlah marketplace LoveCare yang  segera ditawarkan pada masyarakat. 

 

Mitra Pilihan, Profesional dan Terpercaya

Saat ini sudah ribuan mitra dari berbagai wilayah Indonesia yang mendaftar menjadi mitra LoveCare,  namun yang lolos tes hanya 20%. "LoveCare memastikan tiga faktor penting yang wajib dimiliki mitra  LoveCare, yaitu Kompetensi, Mental, dan Hati (KOMET). Saat ini ada 200 mitra yang tersebar di lebih  dari 50 kota dan kabupaten Indonesia. Detailnya, caregiver sekitar 40%, perawat 30%, babysitter 7%, dan  selebihnya dokter, bidan, dan terapis," kata Susan yang bersama tim melakukan rekruitmen setiap hari. Di  akhir April dan Mei LoveCare akan melakukan roadshow ke daerah-daerah untuk rekruitmen mitra  Caregiver LoveCare. 

LoveCare Indonesia langsung disambut baik, karena banyak orang membutuhkan tenaga-tenaga yang  disediakan LoveCare Indonesia. Salah satunya adalah 'generasi sandwich' yang harus mengurus keluarga  mereka sendiri, tetapi juga harus mengurus orangtua dalam waktu bersamaan. 

Roslina Verauli, Psikolog klinis anak, remaja, & keluarga, yang juga hadir dalam acara bincang-bincang  dengan media, mengatakan, "Keberadaan ‘generasi roti lapis’ atau ‘sandwich generation’ tak dipungkiri  merupakan beban berat bagi orang dewasa, terutama bagi perempuan bekerja saat ini," kata Verauli.  

"Umumnya, anak perempuan dalam keluarga, terutama di Asia, dituntut untuk lebih available terlibat dalam  pengasuhan orangtua yang sudah lanjut usia dibandingkan anak laki-laki. Demikian data menyebutkan.  Padahal, perempuan dalam rumah tangga juga dituntut untuk memiliki peran yang lebih besar dalam  pengasuhan anak-anaknya. Tak heran bila kebutuhan akan 'in-home non-relative care,' seperti; perawat,  caregiver, nanny, semakin dirasa penting," lanjut Verauli. 

Tentu saja kebutuhan tiap keluarga dan rumah tangga akan sangat bervariasi. "Itulah sebabnya, keberadaan  marketplace yang mampu memberikan intervensi yang trust-based dalam bentuk program pelatihan yang  berguna menjadi sangat penting, lanjut Verauli. 

Veronica Tan menambahkan, “Tenaga kesehatan, adalah profesi yang tidak hanya mengandalkan skill, akan  tetapi juga harus memiliki mental yang sehat. Mereka harus bisa memberikan layanan dari hati berupa  perhatian, kasih sayang, ketulusan yang semuanya berawal dari kemampuan menaklukkan dirinya sendiri." 

Soal itu, Verauli pun setuju. "Secara psikologis, peran dan tantangan menjadi pelaku ‘in-home non relative  care’ sangat besar. Dibutuhkan kemampuan berempati, menjalin komunikasi, sekaligus memberikan  lingkungan yang aman, dan paham kebutuhan individu yang mereka rawat. Termasuk untuk mampu secara  aktif memberi support agar yang dirawat adjust dengan ‘new life-nya.’ Jadi, tekanan caregiver sedemikian  besar, terutama dalam bentuk tekanan emosional dalam jangka panjang". 

Salah satu alasan utama seorang caregiver harus memiliki mental yang sehat adalah caregiver merupakan  salah satu sumber semangat dari para pasien. Veronica menceritakan kisah mengharukan ketika klien  mengatakan ketakutannya karena usianya yang sudah lanjut, atau kondisi penyakitnya yang sudah terminal.  "Kadang klien itu menahan ketakutannya karena tidak mau membuat keluarganya khawatir, tapi dia bisa  bercerita pada caregiver. Sampai ada yang cerita mau mengakhiri hidupnya saja, tapi untungnya dimotivasi  oleh caregiver, sehingga punya semangat hidup kembali,” kata Veronica. 

Susan Nio memastikan bahwa caregiver yang disediakan oleh LoveCare sangat berkualitas dan sudah  melewati training yang cukup, “LoveCare menyediakan program training tambahan untuk mitra caregiver  yang ingin upgrade kompetensi mereka. Yang diajarkan dalam program training LoveCare bukan hanya  kompetensi dasar dalam merawat klien, namun juga pengetahuan lain seperti hospitality, service excellence,  dan communication.” 

Soal training yang mumpuni, memang amat penting. Verauli menambahkan, "Merawat klien dalam hal ini,  mereka rentan mengalami stres dan burn out, bahkan mengalami masalah yang berkaitan dengan isu  kesehatan mental lainnya, seperti depresi. Caregiver membutuhkan support terutama skills atau  keterampilan ‘coping strategies’ yang efektif agar mampu tetap terjaga kesehatan mentalnya." 

Melalui Visi dan Misi-nya, LoveCare ingin terus berkembang menjadi marketplace yang terpercaya bagi  keluarga Indonesia untuk terhubung dengan perawat, caregiver, dokter, dan babysitter lokal melalui aplikasi  LoveCare. LoveCare berkomitmen untuk memberikan kesempatan sukses yang sama kepada semua  karyawan dan mitra, tanpa memandang jenis kelamin mereka dan membantu mereka belajar dan  berkembang secara profesional.

"Layanan perawatan di rumah harus profesional, disesuaikan, dan terjangkau. LoveCare adalah layanan yang menekankan pada penyediaan perawatan berkualitas tinggi kepada pasien dan keluarganya," tambah  Dr. Akhilesh, Advisor of LoveCare. 

"Beruntung sekali keluarga Indonesia mendapatkan layanan Lovecare Indonesia. Semoga koalisi "multi caregiver" yang harmonis dapat lebih tercipta," ucap Verauli. 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading