Diary Fimela: Perjalanan 1 Tahun Wilov Bantu Mendeteksi Kesehatan Reproduksi Perempuan

Novi Nadya07 Jul 2022, 15:44 WIB
Diperbarui 07 Jul 2022, 15:44 WIB
dokter

Fimela.com, Jakarta Perempuan hidup dengan beragam hormon di dalam tubuh yang membantu mengendalikan hampir semua fungsi tubuh, termasuk organ reproduksi. Sayangnya, masih banyak perempuan yang belum memahami pentingnya memperhatikan organ kewanitaan yang tak hanya berpengaruh pada kemampuan reproduksi tapi juga merambat ke masalah kesehatan lainnya.

Salah satu gangguan yang paling umum terjadi para perempuan adalah ‘Sindrom Ovarium Polikistik’ (SOPK) atau disebut juga dengan Ovarian Syndrome Polycystic (PCOS). Diperkirakan 8-20% populasi perempuan di dunia mengalami PCOS, namun 70% diantaranya tidak terdiagnosa. Sindrom ini juga punya kemungkinan lebih besar untuk menyerang perempuan keturunan Asia (termasuk Indonesia). 

Akibat dari PCOS tidak hanya menyebabkan perempuan menjadi tidak subur (mandul), tapi juga membuatnya lebih rentan terkena diabetes dan tekanan darah tinggi. Bahkan, lebih dari separuh perempuan yang mengidap PCOS terdiagnosa diabetes Tipe 2 sebelum menginjak usia 40 tahun. 

 

Memudahkan Pencarian Dokter yang Paling Tepat

Ivana Wiyono, Co-Founder Wilov
Wilov Hadir Jadi Sahabat Kesehatan Wanita, Ciptakan Ekosistem Digital yang Informatif dan Inklusif

Menyadari pentingnya meningkatkan literasi kesehatan perempuan, startup Wilov hadir untuk menciptakan ekosistem digital dengan layanan kesehatan yang informatif, inklusif, serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap pengguna. Diluncurkan sejak tahun 2021, Wilov menawarkan layanan pengobatan PCOS, tracker menstruasi, dan beragam konten edukasi terkait reproduksi dan kesehatan wanita. Saat ini, sudah hampir 50.000 perempuan di seluruh Indonesia menjadi pengguna aplikasi Wilov.

"Fokus Wilov ke arah perempuan yang memiliki problem dengan hormonnya. salah satunya hormon kesuburan. Jadi, memberi tahu pada pasien, sebaiknya datang ke dokter mana yang sesuai setelah dianalisis," ujar Ivana Wiyono, Co-Founder Wilov.

Wilov menggunakan kalkulasi berdasar medis untuk memberikan analisa dasar bagi para pengguna. Namun, tidak hanya terbatas pada prediksi siklus menstruasi dan kesuburan, aplikasi Wilov juga dapat menganalisis gejala yang dialami pengguna dan kaitannya dengan gejala penyakit tertentu. Hal ini membuat pengguna bisa memeriksakan diri dan mendapatkan diagnosa medis sedini mungkin untuk melakukan pencegahan (preventive care).

Berkembang Didampingi Mentor Startup Studio Indonesia (SSI)

Ivana Wiyono
Wilov Hadir Jadi Sahabat Kesehatan Wanita, Ciptakan Ekosistem Digital yang Informatif dan Inklusif

Sebagai perusahaan rintisan yang baru berusia satu tahun, baik Ivana Wiyono maupun Fillian Witarsa berupaya untuk melakukan pengembangan bisnis dengan efektif. Salah satu caranya yaitu dengan mengikuti program inkubasi Startup Studio Indonesia (SSI) Batch 4, yang diselenggarakan oleh Kominfo RI. 

Salah satu bagian dari SSI adalah kesempatan emas untuk mentoring 1-on-1, dimana peserta bisa berdiskusi dan menggali ilmu langsung dari praktisi startup yang lebih senior. Sesi ini dimanfaatkan dengan baik oleh tim Wilov, dimana mereka tidak hanya berdialog perihal bisnis, melainkan juga pengembangan mental sebagai founder startup. 

“SSI benar-benar fokus pada tantangan (pain points) yang kami temukan dalam perjalanan membangun Wilov. Kami banyak mendapatkan pelajaran dari pengalaman para founders yang telah melewati fase tersebut. Semua cerita dan tips dari Ittalo Gani & Zahra Damariva (Impactto) benar-benar membuka cara pandang baru bagi kami,” cerita Fillian Witarsa, Co-Founder Wilov. 

Pasca mengikuti SSI Batch 4, Wilov berencana untuk terus memberikan edukasi kesehatan wanita, layanan kesehatan, dan pengobatan yang terfokus pada beberapa kondisi yang sering dialami perempuan di usia produktif dengan holistik, aman, dan nyaman.

#WomenForWomen 

Lanjutkan Membaca ↓