Mengapa Cacar Monyet Banyak Dialami Kelompok Gay-Biseksual? Dokter Ungkap Kemungkinan Penyebabnya

Hilda Irach03 Agu 2022, 12:30 WIB
Diperbarui 03 Agu 2022, 12:30 WIB
Mengapa Cacar Monyet Banyak Dialami Kelompok Gay-Biseksual? Dokter Ungkap Kemungkinan Penyebabnya

Fimela.com, Jakarta Kasus cacar monyet atau monkeypox tengah menjadi isu global. Terutama sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meningkatkan status cacar monyet sebagai Darurat Kesehatan Global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Bukan tanpa sebab, data secara global per 29 Juli 2022 mencatat, total kasus cacar monyet telah mencapai 22.485 kasus tersebar di 76 negara. Bahkan, India pada Senin 1 Agustus lalu mengumumkan kasus kematian pertama pada pria 22 tahun akibat cacar monyet.

Belakangan ini, meningkatnya kasus cacar monyet di sejumlah negara menjadi perhatian lantaran banyak ditemukan pada pria gay dan biseksual, terutama bagi mereka yang bergonta-ganti pasangan. 

Dalam sebuah studi yang dipublikasi dalam The New England Journal of Medicine, menemukan bahwa 98 persen kasus cacar monyet ditemukan pada gay dan pria biseksual. Studi ini dipublikasikan pada Kamis, 21 Juli 2022 dengan melibatkan 578 partisipan.

Meski begitu, WHO sudah menegaskan bahwa cacar monyet ini bukanlah penyakit menular seksual. Sebab  penularannya tidak terbatas hanya pada kelompok gay dan biseksual saja, siapapun yang memiliki kontak dekat dengan pasien tetap bisa tertular.

“Konsentrasinya memang banyak sekali dilaporkan pada populasi khusus seperti gay, biseksual, lesbian, dan juga HIV. Meskipun begitu, masih secara teori dilaporkan penularannya bukan hanya sexual contact. Tapi yang menjadi concern kita bersama adalah kontak erat,”  kata  Ketua Satgas Monkeypox PB IDI dr. Hanny Nilasari, dalam konferensi pers virtual, Selasa (2/8/2022).

Lantas, Kenapa Banyak Kelompok Gay-Biseksual Alami Cacar Monyet?

Virus Cacar Monyet
Ilustrasi virus cacar monyet. Credits: pixabay.com by Alexandra_Koch

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Prasetyadi Mawardi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), kelompok gay lebih berisiko karena aktivitas kontak erat yang dilakukan kemungkinan lebih besar memudahkan transmisi cacar monyet.

“Kalau tadinya menyatakan populasi khusus cenderung, kita pahami memang karena kontak eratnya, kontak eratnya terutama pada orang homoseksual. Kalau antara kulit ke mukosa atau anal rupanya ini akan memudahkan transmisi monkeypox,” ujarnya.

Dokter Prasetyadi menegaskan, cacar monyet bukanlah penyakit yang ditimbulkan atau hanya berisiko pada kelompok tertentu seperti gay dan biseksual. Namun semua berisiko terkena cacar monyet saat melakukan kontak erat dengan yang terinfeksi virus tersebut.

“Jadi karena kontak eratnya yang terinfeksi dengan monkeypox kontak dengan kulit, seksual atau oral menjadi transmisi penularan. Yang jelas sampai saat ini,belum dipastikan (cacar monyet) sebagai penyakit seksual yang menular,” kata dia.

Untuk itu, dr.Prasetyadi mengatakan penting menjaga kesehatan kulit agar tidak timbul luka sehingga lebih memudahkan transmisi virus cacar monyet,“Sebab (cacar monyet) biasanya terjadi karena ada mikro lesi yang ada di kulit atau selaput lendir kita. Jaga perawatan kulit dengan baik, tidak luka, dan tidak lecet,” pungkasnya,

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela