Dokter Sebut Kelompok Ini Lebih Berisiko Terkena Cacar Monyet, Bukan Kaum Gay

Hilda Irach03 Agu 2022, 16:30 WIB
Diperbarui 03 Agu 2022, 16:30 WIB
Dokter Sebut Kelompok Ini Lebih Berisiko Terkena Cacar Monyet, Bukan Kaum Gay

Fimela.com, Jakarta Belakangan ini, meningkatnya kasus cacar monyet di sejumlah negara menjadi perhatian lantaran banyak ditemukan pada pria gay, biseksual, atau LGBT. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan dari masyarakat, apakah artinya kelompok lainnya minim risiko terhadap penyakit cacar monyet?

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Prasetyadi Mawardi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), cacar monyet bukanlah penyakit yang hanya berisiko pada kelompok tertentu seperti gay dan biseksual. Namun semua berisiko terkena cacar monyet saat melakukan kontak erat dengan yang terinfeksi virus tersebut.

“Monkeypox bukan penyakit yang masuk ke dalam penyakit seksual, tetapi penyakit kontak erat ya. Jadi karena ada kontak erat dengan yang terinfeksi dengan monkeypox kontak dengan kulit, seksual, atau oral menjadi transmisi penularan,” ujar dr. Prasetyadi dalam konferensi pers virtual bersama PB IDI, Selasa (2/8/2022).

Cacar monyet sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus langka Monkeypox. Penyakit dengan gejala seperti flu, demam, dan ruam ini menular melalui kontak erat, sentuhan kulit, atau dengan luka terbuka yang mengeluarkan cairan, hingga hubungan seksual.

Kelompok yang Lebih Berisiko Terinfeksi Cacar Monyet

Dokter Sebut Kelompok Ini Lebih Berisiko Terkena Cacar Monyet, Bukan Kaum Gay
Meski banyak terjadi pada kaum gay, cacar monyet bukan penyakit menular seksual dan bisa menginfeksi siapapun. (pexels/annashvets).

Namun memang, dr.Prasetyadi mengungkapkan kelompok orang dengan komorbid akan lebih berisiko pada berbagai virus termasuk cacar monyet.

“Infeksi virus mudah terjadi dengan komoditas atau dengan status kekebalan relatif rendah dari orang normal. Apapun virusnya, bisa lebih lama sembuh atau lebih berat dibandingkan individu normal,” tuturnya.

Meski begitu, dr.Prasetyadi meminta masyarakat tak panik dalam menghadapi wabah cacar monyet. Asal mengetahui gejala dan menjaga kontak erat dengan baik supaya bisa dilakukan penanganan tepat sedini mungkin.

“Monkeypox memang akan sulit dibedakan dengan penyakit kulit lain, tapi kita bisa bedakan wujud kelainan kulit yang ada. Di monkeypox ada 2 fase. Fase pertama yakni Invasi, di mana pasien akan demam, lemah, nyeri otot, punggung, tangan. Diikuti erupsi kulit dan ruam. Dominan di wajah dan anggota gerak atas. Lesinya tidak terlalu banyak,” kata dia.

Komplikasi Cacar Monyet, Bisa Sebabkan Radang Paru-paru

Dokter Sebut Kelompok Ini Lebih Berisiko Terkena Cacar Monyet, Bukan Kaum Gay
Meski banyak terjadi pada kaum gay, cacar monyet bukan penyakit menular seksual dan bisa menginfeksi siapapun. (pexels/andrea piacquadio).

Sebab jika terlambat ditangani, cacar monyet bisa menimbulkan komplikasi di organ lain. Namun, mayoritas pasien memang mengalami infeksi sekunder di kulit seperti ruam-ruam.

“Infeksi berlanjut dapat menyebabkan radang paru-paru dan bronkopneumonia. Kemudian pada otak bisa radang otak, ensefalitis, lanjut tingkat parah sampai sepsis, hingga meninggal,” tambahnya.

Hingga 29 Jui 2022, data secara global mencatat, tota kasus cacar monyet telah mencapai 22.485 kasus tersebar di 76 negara, tiga di antaranya negara Asia Tenggara seperti Singapura dengan 11 kasus, Thailand dengan 2 kasus, dan Filipina dengan 1 kasus terkonfirmasi.

Di Indonesia sendiri, belum ada kasus terkonfirmasi infeksi cacar monyet per 2 Agustus 2022. Namun, Satgas Monkeypox IDI (Ikatan Dokter Indonesia) agar pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat harus tetap waspada. 

 

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela