Yuk, Kenali Risiko dan Gejala Kanker Ovarium Lewat Kampanye 10 Jari

Novi Nadya04 Des 2022, 15:00 WIB
Diperbarui 04 Des 2022, 15:00 WIB
Ilustrasi kanker ovarium

Fimela.com, Jakarta Mengenali faktor risiko dan gejala kanker ovarium merupakan upaya penting dalam mewaspadai kanker ovarium serta melakukan deteksi dini. Untuk semakin memudahkan kita mengenalinya, dibuatlah Kampanye 10 Jari.

Kampanye 10 jari merupakan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang 6 faktor risiko dan 4 tanda kanker ovarium. Tahun ini, Kampanye 10 Jari mengangkat tema “I Wish I Knew: What Doctor, Patient, Survivors, And Caregivers Want You To Know.“ 

Angka “10” yang tercantum dalam “Kampanye 10 Jari” merupakan salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat tentang enam faktor risiko dan empat tanda kanker ovarium. Yang termasuk ke dalam enam faktor risiko tersebut adalah: (1) memiliki riwayat kista endometrium; (2) memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan/atau kanker payudara; (3) mutasi genetik (misalnya BRCA); (4) paritas rendah; (5) gaya hidup yang buruk; (6) dan pertambahan usia. 

Sedangkan empat tanda kanker ovarium adalah: (1) kembung; (2) nafsu makan berkurang; (3) sering buang air kecil; (4)  dan nyeri panggul atau perut. Pada umumnya kanker ovarium tidak disertai gejala pada stadium awal. Untuk semakin menggencarkan Kampanye 10 Jari, Cancer Information & Support Center bersama Shahnaz Haque dan didukung oleh AstraZeneca bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI.

Kesempatan Hidup Lebih Besar Jika Terdeteksi di Awal

Cancer Information & Support Center bersama Shahnaz Haque dan didukung oleh AstraZeneca bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI.
Cancer Information & Support Center bersama Shahnaz Haque dan didukung oleh AstraZeneca bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI. (Fimela.com/Novi Nadya)

 

Kanker ovarium sendiri masih menjadi ancaman perempuan di dunia. Minimnya informasi dan pengetahuan masyarakat mengenai kanker ovarium, dibandingkan kanker payudara ataupun kanker serviks yang termasuk kanker pada perempuan, menjadi salah satu penghambat upaya deteksi dini dan pencegahan lebih awal. Padahal kanker ovarium merupakan penyebab kematian nomor 8 akibat kanker pada perempuan di seluruh dunia. 

Dokter Spesialis Onkologi - dr. Oni Khonsa, Sp.OG, Subsp. Onk mengatakan, “Minimnya informasi dan pengetahuan masyarakat mengenai kanker ovarium, sangatlah mengkhawatirkan. Ketidaktahuan terhadap faktor risiko dan deteksi dini menghalangi perempuan mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat terhadap kanker ovarium. Padahal jika dideteksi lebih awal, kanker ovarium dapat ditangani. Faktanya 20% dari kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal, 94% nya akan dapat hidup lebih dari 5 tahun setelah didiagnosis.”

Lebih lanjut dr Oni mengatakan, “Gejala kanker ovarium sering kali disalahartikan dengan gejala penyakit lain, sehingga sering luput dari perhatian dan baru ditemukan ketika telah mencapai stadium lanjut. Bila timbul gejala klinis, umumnya merupakan akibat dari pertumbuhan, perkembangan, serta komplikasi yang sering timbul pada tingkat stadium lanjut. Saat keadaan sudah pada stadium yang lanjut, kanker akan sulit untuk disembuhkan. 

Oleh karena itu, jika memiliki salah satu dari 6 faktor risiko dan salah satu dari 4 gejala kanker ovarium seperti yang diinformasikan dalam Kampanye 10 Jari, harus cepat konsultasi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh. Operasi dan kemoterapi adalah penanganan yang umum dilakukan untuk kanker ovarium. Pada kanker ovarium stadium awal, di mana penyakit ini masih terbatas di ovarium, penanganan dan pengobatan memiliki kemungkinan besar untuk berhasil. Oleh karena itu, segera kenali dan sadari 6 faktor risiko dan 4 gejala kanker ovarium dalam diri.”

 

Testimoni Pasien Kanker Ovarium

Cancer Information & Support Center bersama Shahnaz Haque dan didukung oleh AstraZeneca bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI. (
Cancer Information & Support Center bersama Shahnaz Haque dan didukung oleh AstraZeneca bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI. (

Pasien Kanker Ovarium, Ibu Liesdiana mengatakan, “Informasi merupakan hal penting dalam kanker ovarium. Perempuan Indonesia perlu mengetahui bahwa dengan deteksi dini, mengenali faktor risiko dan menyadari gejalanya, mereka memiliki peluang lebih baik untuk hidup berkualitas. Saya merasakan sendiri pentingnya mengetahui dan menyadari gejala serta segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan terhadap kanker ovarium. Itu yang membuat saya masih bisa bersama keluarga saat ini. Meski sempat tidak menyadari dan menyalahartikan gejala diawal, saya bersyukur informasi yang jelas dari dokter membantu saya melewati proses penanganan kanker ovarium. Saya berharap perempuan Indonesia dapat memiliki pemahaman terhadap kanker ovarium lebih dulu, apalagi kini dengan 6 faktor risiko dan 4 deteksi dini yang disampaikan dalam Kampanye 10 Jari dapat membantu perempuan lebih teredukasi.”

 

Duta Peduli Kanker Ovarium, Shahnaz Haque, menyampaikan, “Sama seperti Ibu Liesdiana, saya pernah menyalahartikan gejala dan faktor risiko kanker ovarium, dan itu tidak saya harapkan terjadi pada perempuan di Indonesia lagi. Saya berharap perempuan Indonesia lebih peduli pada kesehatan dirinya dan salah satunya dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait kanker ovarium. Saya bersama dengan CISC sebagai komunitas kanker yang berpusat di Jakarta dan berdiri sejak tahun 2003, berkomitmen dalam memberikan dukungan serta layanan informasi pada masyarakat kanker dan awam menuju ‘Indonesia Peduli Kanker. Kampanye 10 Jari ini akan menjadi informasi yang penting dan mudah dipahami serta dapat disebarluaskan ke masyarakat Indonesia.”

 

Lanjutkan Membaca ↓