Spanyol Laporkan Kasus Kematian Kedua Cacar Monyet, Virus Masuk Sampai ke Otak

Hilda Irach04 Agu 2022, 09:30 WIB
Diperbarui 04 Agu 2022, 09:30 WIB
Spanyol Laporkan Kasus Kematian Kedua Cacar Monyet, Virus Masuk Sampai ke Otak

Fimela.com, Jakarta Spanyol belum lama ini melaporkan kasus kematian kedua akibat cacar monyet atau monkeypox pada Sabtu (30/7/2022). Dikutip The Guardian, kematian pasien tersebut diperburuk oleh peradangan otak atau ensefalitis yang terkait dengan virus cacar monyet. Kok bisa?

Cacar monyet sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus langka Monkeypox. Penyakit dengan gejala seperti flu, demam, dan ruam ini menular melalui kontak erat, sentuhan kulit, atau dengan luka terbuka yang mengeluarkan cairan, hingga hubungan seksual.

Dokter spesialis kulit dan kelamin sekaligus perwakilan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Indonesia (PERDOSKI), DR dr H.Prasetyadi Mawardi mengatakan, meskipun cacar monyet dikatakan ringan, komplikasi cacar monyet bisa kemana-mana.

“Meskipun cacar monyet dikatakan ringan, tapi komplikasinya bisa kemana-mana, yang paling awal adalah komplikasi pada kulit yaitu terjadinya infeksi sekunder pada kulit sekitar yang didapatkan ruam,”ujar dr. Prasetyadi dalam virtual media briefing bersama Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengenai Monkeypox pada Selasa, (2/8/2022).

Bisa Sebabkan Komplikasi Radang Paru-paru hingga Otak

Spanyol Laporkan Kasus Kematian Kedua Cacar Monyet, Virus Masuk Sampai ke Otak
Alami komplikasi peradangan otak karena cacar monyet, pasien di Spanyol meninggal dunia. (pexels/annashvets).

Dia menambahkan, infeksi cacar monyet bisa berlanjut dan menyebabkan komplikasi lain pada tubuh.

“Infeksi berlanjut dapat menyebabkan radang paru-paru dan bronkopneumonia. Kemudian pada otak bisa radang otak, ensefalitis, lanjut tingkat parah sampai sepsis, hingga meninggal,” kata dr. Prasetyadi.

Hal itulah yang terjadi pada pasien di Spanyol yang meninggal dunia. Cacar monyet yang dialami menjalar hingga ke bagian otak dan menyebabkan dirinya meninggal dunia.

Menurut dr. Prasetyadi, komplikasi tersebut sebenarnya bisa dicegah jika dilakukan deteksi dini sejak awal ketika gejala ruam mulai muncul. Setelah itu, tenaga medis akan mendeteksi apakah pasien tersebut terinfeksi cacar monyet atau bukan untuk diberi penanganan tepat.

“Monkeypox memang akan sulit dibedakan dengan penyakit kulit lain, tapi kita bisa bedakan wujud kelainan kulit yang ada. Di monkeypox ada 2 fase. Fase pertama yakni Invasi, di mana pasien akan demam, lemah, nyeri otot, punggung, tangan. Diikuti erupsi kulit dan ruam. Dominan di wajah dan anggota gerak atas. Lesinya tidak terlalu banyak,” pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓