Dari Disleksia Jadi CEO, Brett Kopf Tak Pernah Menyerah Belajar

Karla Farhana21 Jan 2016, 14:28 WIB
Diperbarui 21 Jan 2016, 14:28 WIB
Dari Disleksia Jadi CEO, Brett Kopf Tak Pernah Menyerah Belajar

Fimela.com, Jakarta Sebagai mahasiswa atau pelajar, kamu pasti pernah lupa dengan jadwal ujian dan masuk. Pengumuman memang akan selalu dipasang. Tapi yang namanya anak muda, mereka kerap lupa dengan berbagai hal yang penting, berhubungan dengan pelajaran. Tidak terkecuali dengan Brett Kopf.

Brett, pemuda asal Amerika yang pada waktu itu masih duduk di bangku SMA pun merasa kesulitan saat mengingat jadwal ujian. Terlebih lagi, Business Insider menulis, dia memang didiagnosa mengidap disleksia atau gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang ditandai dengan kesulitan belajar. 

Masa-masa sekolahnya dia lalui dengan penuh kesulitan. Bayangkan saja, Brett sering kali dikeluarkan dari ruang kelas ketika mengerjakan ujian. Kepada Business Insider dia mengaku, kerap kali harus pindah ke ruang yang tenang karena susah konsentrasi. Tak hanya itu, dia juga hanya bisa membaca satu baris kalimat. Kesulitan ini benar-benar membuatnya sangat tersiksa. 

Untungnya, dia bertemu dengan seorang guru, Whitefield, pada saat di SMA. Mungkin Whitefield menjadi satu-satunya guru yang mau duduk berjam-jam bersama Brett untuk mengulang esai dan pelajaran yang tidak dia pahami. Berkat bantuan guru yang baik hati ini, Brett akhirnya berhasil lulus dan melanjutkan pendidikannya di Michigan State University (MSU), Amerika Serikat. 

Brett dan David Kopf | via: remind.com

Seperti yang dia tuliskan pada situs The Next Web, suatu hari pria yang kini berusia 27 tahun ini berdiri di trotoar kampus menanyakan kepada orang-orang apa yang mereka butuhkan untuk belajar. Berdasarkan data dari 2.000 mahasiswa atau lebih, katanya dalam artikel yang sama, mereka ingin mendapatkan reminder setiap hari, setiap minggu, bahkan beberapa jam sebelum ujian dilaksanakan. 

Berangkat dari kebutuhan banyak mahasiswa dan juga keinginan untuk membantu Whitefield agar proses mengajarnya lebih mudah, ide untuk membuat sebuah aplikasi classroom communication. Menciptakan sebuah aplikasi tentu tak mudah. Karena itu, dia akhirnya menggandeng saudara laki-lakinya, David Kopf untuk bekerja sama membuat aplikasi ini. 

Dari Disleksia Jadi CEO, Brett Kopf Tak Pernah Menyerah Belajar | via: gigaom.com

Dengan pengetahuan yang masih terbatas tentang coding, tulis Business Insider, David membuat sebuah program SMS nitification sederhana berbasis Excel yang akan mengirimkan pesan kepada mahasiswa sebelum ujian atau batas waktu penyerahan tugas. 

Program sederhana tersebut ternyata cukup berhasil. Tahun 2010, hampir 2.000 orang mendaftar pada program Kopf bersaudara ini. Tapi, tak ada kesuksesan yang stagnan menempati posisi teratas selamanya. Mereka memutuskan untuk menutup program tersebut tahun 2012 karena tidak ada pertumbuhan yang signifikan. 

Dari Disleksia Jadi CEO, Brett Kopf Tak Pernah Menyerah Belajar | via: flickr.com

Tapi, gagal bukan berarti harus berhenti. David lantas mengurung diri selama 16 jam setiap hari untuk mempelajari coding. Sementara Brett keluar menanyakan para guru apa yang menjadi kebutuhan mereka saat mengajar para murid. Hingga akhirnya tahun 2013, Kopf bersaudara resmi mengeluarkan sebuah aplikasi yang dinamakan Remind101. Melalui aplikasi tersebut, para guru dan dosen bisa mengingatkan para muridnya tentang ujian dan juga tugas. Tidak hanya itu, aplikasi ini menjadi sebuah channel komunikasi antara guru, murid, dan orangtua murid, tanpa menggunakan nomor ponsel pribadi. 

Brett yang tadinya merasa berbeda dan kerap ketinggalan pelajaran akhirnya sukses bersama David dan Reminder. Bahkan, mereka kini berhasil meraup keuntungan Rp 820 miliar! Terbukti bahwa kekurangan dan kesulitan untuk belajar tidak menjadi halangan untuk bisa sukses