Kontroversial, Ini Kata Anak Muda Soal Penghapusan Parkir Meter

Lanny Kusumastuti05 Mei 2017, 14:40 WIB
Diperbarui 05 Mei 2017, 14:40 WIB
Petugas parkir melakukan transaksi dengan mesin terminal parkir elektronik (TPE) di jalan Sabang, Jakarta, Kamis (25/2). Pemprov DKI Jakarta berencana menambah mesin terminal parkir elektronik (TPE) atau parkir meter. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Fimela.com, Jakarta Jelang duduki kursi orang nomor satu di Jakarta, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno kabarnya akan menghapus salah satu kebijakan yang diterapkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok, yaitu kebijakan diterapkannya parkir meter.

Berkenaan dengan rencana penghapusan tersebut, Sandi mengatakan bahwa parkir meter dianggap tak cocok diterapkan di Jakarta karena karakter masyarakatnya yang senang bergotong royong. Selain itu menurutnya penghapusan parkir meter juga bisa membuka lapangan pekerjaan di Jakarta.

Ilustrasi penggunaan parkir meter. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

"Kalau kita kan lihat di sini parkir kan dibantuin, mau belanja ada yang bantuin karena memang banyak lapangan pekerjaan yang masih ada. Di Jakarta sendiri lapangan pekerjaan itu sangat dibutuhkan," kata Sandiaga, Selasa (2/5/2017) dilansir dari laman Liputan6.com.

Diluar pertimbangan tersebut, parkir meter yang mulai diberlakukan pada 25 September 2014 lalu itu, awalnya diterapkan untuk menghindari bentrok antar preman yang memperebutkan lahan parkir. Ya, bagaimana tak diperebutkan, parkir di Jakarta memang menjadi salah satu lahan basah yang bisa memberikan keuntungan besar.

Pengamat Tata Kota Nirwono Yoga pun berpendapat kalau keputusan penghapusan parkir meter kurang tepat, "Tujuan (parkir meter) menghilangkan praktik parkir liar dan mafia parkir. Agar setoran ke oknum dihentikan dan pemasukan dari sektor parkir dapat dioptimalkan," tuturnya.

Ilustrasi penggunaan parkir meter. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Nah berbicara soal parkir liar, kamu pernah nggak sih merasa sebal dengan petugas parkir? Salah satu contoh yang mungkin sering kamu alami misalnya saat pergi ke sebuah mini market di pinggir jalan. Padahal di situ jelas tertulis kalau parkir kendaraan gratis, tapi adanya juru parkir liar malah bikin kamu harus keluar uang. 

Adanya kebijakan parkir meter memang tak dipungkiri bisa mengatasi berbagai konflik dan praktik liar seperti di atas. Tapi sayang, kebijakan tersebut kabarnya akan dihapuskan. Lalu apa kata anak muda milenial soal penghapusan parkir meter? Yuk simak kata mereka!

Kata Anak Muda Soal Penghapusan Parkir Meter

Vicka, Jurnalis. (foto: dok. pribadi)

Menurut saya, parkir meter dihapuskan sah-sah saja jika menjadi sumber penghasilan para juru parkir. Namun, fungsi parkir meter ini sebenarnya untuk menekan penyimpangan parkir liar, sayangnya banyak masyarakat yang apatis terhadap keberadaannya. Jadi, positifnya penghapusan ini bisa jadi sumber penghasilan, tetapi siap-siap dengan keadaan yang agak tidak terkendali nantinya. - Vicka, Jurnalis.

Nizar Zulmi, Redaktur Musik Bintang.com. (foto: dok. pribadi)

Orang Jakarta prefer pakai parkir meter mungkin karena jelas tarifnya, aman dan resmi ketimbang parkir liar, dan nggak bikin numpuk kendaraan juga. Kalau parkir non meter bisa menjamin itu semua, penghapusan parkir meter bisa dicoba. Tapi kalo nggak lebih baik tetap ada. - Nizar Zulmi, Redaktur Musik Bintang.com.

Hilman Dhannys, Karyawan Swasta. (foto: dok. pribadi)

Menurut gue seharusnya parkir meter itu nggak dihapus, karena: 1. Juru parkir ini ada yang mengelola atau nggak, kalau mereka pasang tarif sendiri dan nggak sesuai, kita juga yang rugi. 2. Juru parkir ini diseleksi atau nggak? karena kebanyakan yang jadi juru parkir itu preman-preman setempat, nanti malah bikin tempat jadi nggak nyaman. - Hilman Dhannys, Karyawan Swasta.

Anita Nur Fitriany, Content Writer. (foto: dok. pribadi)

Menurut gue, dengan penghapusan parkir meter itu masih belum tepat sih kalau tujuannya ingin memberikan ladang rezeki bagi masyarakat yang membutuhkan. Dia (Anies Baswedan - Sandiaga Uno) bisa pakai cara lain. Karena, kalau parkir meter dihapuskan akan banyak parkir liar. Kalo banyak parkir liar, bikin jalanan macet. Kezel kalo udah liat jalanan macet cuma gara-gara dijadikan lahan parkir yang nggak tepat lokasinya. Mungkin Pak Gubernur yang sekarang bisa menambah beberapa titik strategis yang nggak bikin macet untuk menambah parkir meter biar bisa nambah penghasilan. Jangan dihapus lah. Mubazir. Idenya udah bagus. Tinggal gimana Pak Gubernur yang sekarang membuatnya jadi lebih bagus dan efektif. - Anita Nur Fitriany, Content Writer.

Rendy Wiguna, Content Writer. (foto: dok. pribadi)

Menurut gue, kalo sama sekali dihapus kurang tepat ya, karena ya nggak ada proses buat kita maju, dan disiplin pastinya.. Tapi di sisi lain emang sih sistem parkir kayak gini belum bisa diterapkan di seluruh wilayah di Jakarta, mungkin bisa mulai diterapkan perlahan kali ya, liat segmentasi masyarakatnya yang 'sudah bisa' buat diajak pake itu alat parkir meter. - Rendy Wiguna, Content Writer.

Ferry Setiawan, Karyawan Swasta (foto: dok. pribadi)

Parkir meter menurut pandangan gua lebih banyak manfaat ketimbang nyusahinnya. Parkir di Jakarta dengan cara lama (liar) itu kebanyakan negatifnya. 1. Nggak menata, justru cenderung mengganggu lalu lintas dan jalur pejalan kaki. 2. Nggak aman, nggak ada jaminan buat kendaraannya. 3. Nggak sistematis. Lebih ke suka-sukanya si tukang parkir. Mau dari biaya sampai mekanismenya. 4. Mancing masyarakat buat jadi bandel (Parkir liar). 5. Gesekan horisontal antar warga yang merasa lebih berhak atas pengelolaan lahan parkir. - Ferry Setiawan, Karyawan Swasta.

Nah itu dia pendapat beberapa anak muda soal penghapusan parkir liar. Kalau menurut kamu gimana?

Lanjutkan Membaca ↓