Meninggalkan Keluarga: Beda Standar untuk Perempuan?

Fimela16 Mar 2011, 02:24 WIB

rahna reiko rizzuto

Di memoir terbarunya, Hiroshima in the Morning, pengarang Rahna Reiko Rizzuto menulis tentang keputusannya untuk meninggalkan kedua anak laki-lakinya dengan mantan suaminya, yang diceraikannya setelah 20 tahun menikah – pilihan yang membuat dia dinilai sebagai perempuan egois atau ibu yang nggak bertanggungjawab.

Tapi apakah hujatan tersebut adil? Rizzuto membantah kalau anak-anaknya, sekarang sudah remaja, sudah mandiri dan nggak bermasalah dengan pilihannya – bahkan, menurut Rizzuto hubungan mereka sangat baik. Dan dia mengatakan kalau pilihannya meninggalkan keluarga dan menyerahkan hak pengasuhan anak nggak akan dihakimi sebegitunya kalau dia laki-laki.

“Tapi masalahku bukan dengan anak-anak,” tulisnya, di sebuah essay di Salon.com, “tapi dengan cara pandang masyarakat tentang menjadi ibu… kita menentang setiap pemikiran kalau ada banyak cara lain untuk menjadi seorang ibu (disamping mengurus anak-anak secara full time).”

Benar kalau perempuan seperti diletakkan pada standar tinggi dalam mengurus, membesarkan dan menjadi orangtua dibanding laki-laki. Bahkan, para ayah bisa menghabiskan sedikit waktu dengan anak dan tetap dianggap sebagai ayah yang baik, sementara ibu yang menghabiskan waktu di tempat kerja akan dihakimi secara negatif karena memilih sesuatu yang lain selain anak-anak. Tetap saja, kedua belah pihak nggak bisa menghindari efek negatif yang muncul karena nggak berada di samping anak mereka – walaupun hanya untuk sementara.

Rizzuto bisa saja memiliki hubungan yang erat dengan kedua anaknya sekarang, tapi saat seorang orangtua menghilang dari kehidupan anaknya, hal itu disebut menyia-nyiakan, dan nggak akan pernah bagus untuk seorang anak. Saat Rizzuto meninggalkan anaknya, dia hanya beberapa kali mengontak anak-anaknya dalam beberapa tahun – dan dengan sengaja nggak berada dalam kehidupan anaknya – sesuai dengan deskripsi menyia-nyiakan. Walaupun sekarang dia sudah berada dalam kehidupan anak-anaknya lagi, kerusakan sudah terjadi.

Hiroshima in the Morning

Ditinggalkan orangtua bisa menyebabkan trauma. Banyak anak yang ditinggalkan menderita depresi dan kegelisahan saat kecil dan saat dewasa. Keadaan tersebut meninggalkan luka emosional yang bisa terus ada selama hidupnya dan bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk percaya dan menjalin hubungan. Mungkin karena lebih sering si ayah yang pergi meninggalkan keluarga dibanding ibu, sehingga kita sebagai masyarakat lebih bisa menerima; walaupun sebenarnya efek yang terjadi pada anak sama saja.

Beda standar akan tingginya ekspektasi untuk para ibu memang  terlahir dari peran ibu secara tradisional di mata masyarakat tapi berhubungan dengan efek biologis. Perempuan melahirkan anak dan menyusui, sehingga mendatangkan asumsi (yang lebih banyak benarnya) kalau perempuan adalah orangtua utama. Tapi fakta bahwa kedua orangtua lah yang bisa menciptakan lingkungan yang stabil dan mencintai dalam kondisi apapun adalah yang dibutuhkan seorang anak. Kehilangan salah satu orangtua, baik secara emosi atau fisik, adalah kehilangan yang besar untuk anak.

Jika para ibu mengalami konflik tentang perannya sebagai ibu dalam satu titik, tapi perasaan tersebut biasanya nggak menghasilkan keputusan meninggalkan keluarga. Para ibu bisa saja berpikir “Ini berat banget, coba aku bisa melakukan sesuatu yang lain.” Pemikiran tersebut normal saja, dan biasanya diikuti dengan perasaan senang, takjub dan bahagia sebagai seorang ibu. Tapi, jika konflik perasaan ini terjadi terus tanpa diperhatikan dengan serius yang bisa terjadi adalah hal-hal seperti yang dilakukan Rizzuto. Atau bisa menjadi rasa marah terhadap anak, pasangan, atau merasa sangat bersalah dan malu. Saat seorang ibu bisa menerima kalau merasakan segala perasaan tersebut di atas adalah normal – dan memang normal – dia akan bisa lebih mengatasinya.

Seorang perempuan jangan sampai memilih menjadi ibu yang seperti apa berdasarkan definisi lingkungan tentang ibu. Bahkan, lebih baik untuk para ibu kalau kita bisa berhenti saling menghakimi dan mengkritik pilihan masing-masing, karena setiap orang punya pilihan sendiri. Kita juga berharap dengan memilih menjadi ibu yang seperti apa dan disudutkan dengan tidak adil nggak berujung dengan meninggalkan anak karena cerita Rizutto. Ibu perlu menyadari kalau perasaan yang campur aduk tentang menjadi ibu adalah normal and let’s not judge each other. Tapi ada di samping anak dalam hidupnya – apakah kamu ibunya atau ayahnya – adalah peran penting sebagai orang tua, apapun definisimu tentang orangtua.

 

(image dari berbagai sumber)