How To Be A Museum Lover & Fashion Shopper

Fimela Editor26 Jul 2011, 06:29 WIB

Next

Bertempat di kantornya yang terletak di Jalan Jendral Sudirman, Da Vinci Tower, tim FIMELA.com berbincang-bincang dengan perempuan yang bekerja sebagai PR Manager Da Vinci. Bekerja di sebuah perusahaan yang mengusung nilai kemewahan, ternyata membuat Sisca harus selalu tampil “on” setiap saat. “Semua orang saat berada di kantor memang harus rapi, tapi nggak harus selalu fashionable. Berpakaian rapi, baik menggunakan berbagai barang branded ataupun barang nonbranded sebenarnya adalah salah satu cara untuk menhargai diri kita sendiri. Bukankah kita juga lebih senang bertemu dengan orang rapi?” ujar alumni Jurusan Ekonomi Universitas Katholik Atmajaya.

Beberapa barang fashion yang selalu menempel di tubuhnyaPenampilannya yang gres pun ditunjang dengan berbagai branded stuff yang menempel di tubuhnya. Ya, Sisca termasuk salah satu perempuan yang cukup menggilai barang-barang branded. “Sebenarnya agak munafik ya kalau saya bilang nggak tertarik dengan berbagai branded stuff. Tapi, itu juga bukan berarti saya selalu membeli barang-barang bermerk. Untuk sesuatu yang akan saya pakai dalam jangka waktu lama dan dipakai setiap hari, saya pastinya akan memilih yang bermerk karena itu juga menyangkut image. Namun, kalau hanya untuk barang-barang dipakai sesaat dan mudah rusak, ya beli yang biasa aja nggak apa-apa. Dan sebenarnya ketika saya membeli barang-barang branded saya nggak serta merta membelinya supaya bisa pamer ke orang-orang. Salah satu misi saya membeli barang branded adalah untuk mewariskannya pada anak saya kelak. Dan sebenarnya, sebagai pengguna barang-barang bermerk, kita juga harus tahu mengapa sebuah benda bisa menjadi sangat mahal. Ini bisa kita ketahui dengan mencari tahu lebih lanjut filosofi di balik sebuah merk dan pembuatan benda tersebut,” Sisca menjelaskan.

Memiliki berbagai benda dan aksesori dengan merk ternama, nggak lantas membuat Sisca menggila berbelanja dari satu butik ke butik lain setiap bulan. “Saya memang suka barang-barang bermerk, tapi saya anti menggunakan kartu kredit untuk membayar barang yang saya beli karena saya nggak mau terbelit hutang kartu kredit. Saya biasanya hanya menggunakan kartu kredit saat berada di lounge bandara. Bahkan, karena kebiasaan saya ini, kartu kredit saya pernah dibekukan oleh sebuah bank. Untuk membeli sebuah tas bermerk, saya harus menabung lebih dahulu dan nggak jarang juga saya menabung dalam jangka waktu lama, 1 tahun misalnya. Pekerjaan saya masih seperti ini jadi maklum saja kalau saya harus menabung lama untuk bisa mendapatkan barang yang saya inginkan,” ujar Sisca tertawa ringan.

Next

Bertolak belakang dengan penampilannya yang selalu trendi dan modern, ternyata perempuan yang identik dengan gelang Hermes merah di tangannya ini nggak terlalu suka dengan hingar-bingar dan lebih memilih untuk berkunjung ke museum saat berkunjung ke berbagai tempat. Bahkan, ketika ke luar negeri pun penggemar Prada, Hermes, dan Louis Vuitton ini jarang berbelanja berbagai barang fashion. “Ketika pergi ke luar negeri, supaya nggak terkecoh, kita harus tahu terlebih dahulu kebijakan politik di negara tersebut terhadap barang branded. Jadi, kita nggak sembarang beli setiap ke luar negeri. Dan sebenarnya, saya juga nggak terlalu suka belanja di luar (negeri). Kalau ke luar, saya lebih senang mengunjungi museumnya. Nggak perlu jauh-jauh deh, misalnya saja, saat berkunjung ke Bali. Ketika ke Bali, saya lebih memilih untuk datang ke Ubud dan mengunjungi museum-museum di sana dibandingkan harus jalan-jalan di daerah yang hanya dipenuh dengan hingar bingar tempat hiburan,” Sisca menjelaskan.

Museum adalah salah satu tempat yang sering dikunjungi CiscaMenurut Sisca, salah satu cara untuk mempelajari sebuah kebudayaan adalah dengan mengunjungi museum. Sebagai salah satu pengunjung rutin museum, Sisca lebih senang untuk mengunjungi "Ketika ke Bali, saya lebih memilih untuk datang ke Ubud dan mengunjungi museum-museum di sana dibandingkan harus jalan-jalan di daerah yang hanya dipenuhi dengan hingar bingar tempat hiburan." museum yang dikelola oleh pihak swasta. “To be honest, saya lebih suka mengunjungi museum yang dikelola swasta karena pihak swasta sudah sadar bahwa sebenarnya museum bukanlah sebuah tempat yang menakutkan dan mengelolanya dengan baik. Sebagai orang awam, tentunya saya ingin mendapatkan informasi tentang museum tanpa harus mencari sendiri di internet. Dan saya hanya mendapatkan itu dari museum-museum swasta,” tutur Sisca sedikit serius.

Bali merupakan salah satu tempat favorit Sisca untuk mengisi liburan dengan mengunjungi berbagai museum. Dan sebagai salah satu penggemar museum, Sisca pun terkadang menyempatkan diri untuk mengikuti program Sahabat Museum. “Terkadang kalau memang ada waktu, saya ikut program Sahabat Museum. Tapi, acara-acara seperti itu kan memerlukan waktu bebas sedangkan saya nggak selalu ppunya waktu bebas. Jadi, setidaknya setiap 4 bulan sekali lah saya meng-update berita seputar museum,” ujarnya.

Next

Selain museum, ada satu hobi unik lagi dari perempuan bertubuh tinggi ini, yakni memungut anjing-anjing, khususnya yang terlantar di pinggir jalan. Nggak tega melihat kondisi anjing dan kucing tak terurus yang tergeletak di pinggir jalan, Sisca pun selalu memungut dan merawat binatang tersebut di rumahnya.

Salah satu hobi unik Cisca adalah memungut anak-anak anjing yang terlantar di jalanRekor terbanyak anak anjing yang pernah dirawatnya sebanyak 8 ekor. “Saya suka memungut anjing-anjing kampung yang terlantar di pinggir jalan. Kenapa? Karena saya tahu nggak ada orang yang peduli sama anjing kampung. Orang lebih suka sama anjing-anjing ras. Coba, kalau kita mengaku manusia, bagaimana mana bisa seorang manusia tega melepaskan anak-anak anjing di pinggir "Saya nggak punya hobi berharga. Hobi saya memungut anjing-anjing liar yang nggak terurus di jalanan."jalan? Bahkan, saya pernah menemukan anak anjing dalam karung yang terletak di tengah jalan tol. Mana yang lebih manusiawi antara si anjing dan si manusia, coba? Pernah di rumah saya ada 8 ekor anak anjing yang saya pungut, tapi karena rumah saya juga nggak memungkinkan untuk menampung semua anjing yang saya pungut, setelah dibersihkan dan dibawa ke dokter hewan, saya menyerahkan mereka pada yayasan kebun binatang di Ragunan supaya dirawat lebih baik,” Sisca berbicara agak mencibir.

Nggak cuma anak anjing yang ia pungut dari jalan, anak-anak kucing yang terlantar juga menjadi buruannya. “Saya nggak cuma memungut anak-anak anjing, kucing di jalan pun saya pungut. Cuma, karena di rumah lebih banyak anjing, saya biasanya lebih sering menyerahkan kucing-kucing itu ke yayasan kebun binatang. Sampai sekarang kalau saya ditanya orang ‘apa hobi saya?’, saya akan menjawab ‘saya nggak punya hobi berharga. Hobi saya memungut anjing-anjing liar yang nggak terurus di jalanan’,” ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓