Masalah Bahasa Bisa Hambat Karier?

Fimela Editor15 Feb 2012, 11:58 WIB
Diperbarui 15 Feb 2012, 11:58 WIB

Masalah Bahasa Bisa Hambat Karier?

Alay, lebay, jayus, garing, cumi, meneketehe, ember, bonyok, unyu, sampai kowawa. Itu hanya segelintir dari yang begitu banyak beredar di kalangan anak gaul. Lalu, di mana bahasa-bahasa prokem ini tersebar? Yang paling berjasa adalah social media. Banyak juga istilah yang dilahirkan dari Twitter, tersebar luas di sana, kemudian diadaptasi secara oral dan jadi salah satu kata baru yang paling sering diucapkan. Sebenarnya, seberapa besar pengaruh bahasa gaul yang terus berkembang dengan bahasa asli kita, baik bahasa daerah maupun bahasa Indonesia baku?

Springs Academy, sekolah di Sheffield, Inggris, melarang siswa menggunakan bahasa gaul di lingkungan sekolah dan hanya memperbolehkan penggunaan bahasa Inggris yang baik dan. Alasannya? Demi karier mereka nantinya. Jika terbiasa menggunakan Bahasa Inggris yang baik dan benar, para siswa juga akan berkomunikasi dengan baik ketika wawancara. Kathy August, CEO United Learning Trust, mengatakan bahwa pihak sekolah ingin memastikan siswanya percaya diri menggunakan bahasa Inggris standar. Para siswa dilarang menggunakan kata hiya atau see ya dalam perbincangan mereka dan menggantinya dengan good morning atau thank you.

Makin maraknya penggunaan jejaring sosial dan pesan pendek di handphone memang menyebabkan kata-kata gaul lebih banyak digunakan. Keterbatasan kata juga bisa diatasi dengan bahasa gaul yang cenderung pendek. Tapi, umumnya kebiasaan menggunakan bahasa gaul terbawa sampai ke kehidupan formalmu. Sadar, nggak?

“Saya paling tidak sabar kalau diminta mengajari ulang bahasa baku kepada murid saya. Bahasa Indonesia memang sering disepelekan, jadi ya bisa ditebak bagaimana kualitas berbahasa anak zaman sekarang. Padahal ini, kan, bahasa dasar yang harusnya paling dikuasai dibandingkan bahasa lain. Yang terjadi sekarang sebaliknya, mereka menguasai bahasa asing dan bahasa gaul untuk menunjukkan eksistensi mereka di lingkungan pergaulannya.”

-Edin, 35 tahun, guru bahasa Indonesia-

Nah, nggak lucu, kan, kalau masalah bahasa menghambat pendidikan dan kariermu? Sebenarnya nggak sulit memilah bahasa apa yang mau kamu gunakan karena tiap orang punya kesadaran menyesuaikan bahasa saat berbincang dengan lawan bicaranya. Simpelnya, peka terhadap situasi dan tempatkan dirimu dengan benar. Kita nggak mungkin berdiam diri dan cuek terhadap perkembangan bahasa gaul, karena mau nggak mau itu juga bisa jadi modal utama kita berkomunikasi dan masuk ke berbagai komunitas sosial dan memperluas jaringan. Tapi, juga nggak lantas melupakan bahasa Indonesia yang merupakan identitas asli kita, kan? Be smart!