Ibu Tiri Tidak Selalu Mengintimidasi, Yakin!

Fimela05 Apr 2012, 05:29 WIB

Next

stepmom

Kehilangan Ibu Kandung karena penyakit kronis menjadi titik balik dalam hidup saya. Sampai sekarang saya masih merasa bahwa kami (saya dan keluarga) kehilangan beliau terlalu awal. Mendiang Ibu pergi meninggalkan kami saat saya berusia 14 tahun, dan adik saya yang paling bungsu masih berusia 58 hari.

Nggak pernah terbayangkan bahwa kami harus kehilangan beliau, tapi pada akhirnya memang itu yang terjadi. Kami sekeluarga harus hidup dengan kenyataan itu. Dengan perginya Ibu, berakhir episode tertentu dalam hidup kami, dan episode lain dimulai.

Mungkin waktu kecil saya terlalu banyak membaca hal-hal menyeramkan dan beresensi negatif tentang Ibu tiri, jadi saat seorang perempuan baru yang dekat dengan Ayah menyapa saya dan adik-adik maka kami semua menjalankan mode bertahan. Membangun dinding tebal dan tinggi agar upaya-upayanya untuk mengenal kami, mendekatkan diri tidak berhasil.

Tapi saya rasa hidup, dan Tuhan memang menghadirkan seseorang dalam hidup kita agar kita bisa belajar sesuatu. Dan saya belajar banyak dari Ibu tiri saya itu. Perempuan mengagumkan yang masuk dalam hidup keluarga kami dan memunculkan kembali kehangatan keluarga yang hilang.

Ayah saya adalah orang yang keras, cenderung pendiam, dan tidak ekspresif. Satu-satunya emosi terbesar yang pernah saya amati dari beliau adalah air matanya yang tumpah saat kami sama-sama harus mengucapkan selamat tinggal pada Ibu. Meski begitu, saya masih nggak bisa merasakan seberapa dalam dia kehilangan Ibu (kandung) saya. Pasti tersiksa sekali rasanya. Kehilangan seseorang yang sangat dicintai, sudah menemani kita sekian lama dalam hidup.

Mendadak saya merasa egois karena sempat hendak menghalani niat beliau untuk berkeluarga lagi. Terlepas dari keinginan beliau untuk menemukan pendamping hidup yang baru, saya sadar bahwa Ayah juga berhak bahagia. Ayah perlu teman. Fungsi yang kami anak-anaknya nggak bisa jalankan. Patah hati yang Ayah rasakan nggak bisa dibandingkan dengan patah hati yang mungkin saya rasakan karena berpisah dari pasangan. Ayah dipisahkan oleh kematian dengan seseorang yang sudah bersama sekian lama menghadirkan nyawa-nyawa baru ke dunia. Saya dan adik-adik saya.

Next

 

stepmom2

Bak seorang bintang tamu di film seri yang kemudian menjadi tokoh utama karena ia memegang peran penting dalam jalannya cerita, begitu pula keberadaan Ibu tiri saya. Lambat laun terlihat ia melakukan hal-hal ‘ajaib’ yang saya tidak sangka bisa ia lakukan.

Dengan Ayah yang cenderung tidak banyak omong memang komunikasi pun menjadi jarang dan susah untuk menebak apa yang beliau rasakan. Di ruang itulah Ibu (tiri) saya masuk dan menjadi penyambung lidah antara saya dan Ayah yang seringkali berselisih paham. Dua laki-laki keras kepala akhirnya disambungkan oleh seorang ‘penerjemah’ perempuan yang berusaha menyelaraskan perbedaan isi kepala kami.

Ibu (tiri) saya adalah perempuan dengan determinasi yang tinggi. Sangat independen dan cukup tradisional tapi mungkin dia nggak sadar bahwa dia sangat modern. Dia sosok perempuan yang patut menjadi contoh bagi siapa saja yang ingin maju.

Lima belas tahun yang lalu saat pertama kali menikah dengan Ayah beliau hanya lulusan SMU. Satu dekade lebih kemudian, dengan (saya yakin) semua kesabaran beliau untuk menghadapi keluarga baru (kami) yang rata-rata keras kepala, niat dan semangat akhirnya beliau memegang ijazah Sarjana Ekonomi. Saya masih ingat perjuangan panjang beliau untuk menjalani hari-hari kuliah di akhir pekan, meninggalkan keluarga, karena beliau ingin menjadi Sarjana. Keinginan beliau untuk mengaktualisasikan diri nggak selesai di situ.

Perjuangan yang panjang, saya akui. Dari awal memang terlihat bahwa beliau perempuan yang ingin bekerja. Bekerja di kantor. Berdiam diri di rumah memang bukan hal yang dia sukai. Ibu saya gemar bertemu banyak orang, membangun relasi, menjalin kerjasama. Kalau dipikir-pikir Ibu saya memang sifat sosialnya tinggi. Berbeda dengan Ayah yang agak kurang di sisi itu.

Sebenarnya Ibu nggak sepenuhnya berdiam diri di rumah, mengurus kesibukan rumah tangga, beliau memiliki usaha catering yang lumayan berjalan dengan baik. Dia juga menjalankan salah satu usaha keluarga yang nggak bisa Ayah pegang sendiri karena Ayah juga bekerja di kantor.

Next

 

stepmom3

Tahun lalu, Ibu tiri saya akhirnya resmi menjadi pegawai negeri. Sesuatu yang memang dia idam-idamkan dari dulu. Dia sempat mengirimkan pesan ke Blackberry Messenger saya dan memberitahukan bahwa ia lulus proses seleksi. Yang terbayang di kepala saya dia akan segera sibuk dan yang pasti akan jarang ditemui di rumah. Hidup memang aneh. Mungkin bukan aneh, tapi timing nya sudah tepat buat beliau mulai bekerja kantoran.

Adik-adik saya (saya punya dua adik tiri dari beliau) sudah besar dan sudah bisa ditinggal. Jadi beliau nggak perlu khawatir untuk sering meninggalkan rumah demi urusan pekerjaan. Well, kesibukan Ibu saya saat ini bukan hanya menjadi pegawai negeri dan datang bekerja di kantor setiap harinya seperti saya, dan siapa saja yang harus masuk kantor.

Dari status update Blackberry Messenger-nya saya tahu beliau sedang diserahi tanggung jawab untuk menjadi Ketua Panitia Acara Paskah di Gereja dekat rumah. Ini juga hal yang bertentangan dengan Ayah. Ayah bukan tipe orang yang senang dengan kegiatan-kegiatan seperti itu. Ibu kebalikannya. Tapi terlepas dari itu, ini juga karakter yang dimiliki oleh mendiang Ibu kandung saya. Ibu selalu menomorsatukan gereja dan ajakan-ajakan doa lingkungan. Beliau juga yang paling semangat menghias rumah saat Natal tiba.

Beliau juga masih mengawai usaha catering miliknya, dan usaha lain keluarga. Bisa terbayang betapa sibuknya beliau?

Terakhir. Ibu tiri saya itu mungkin agak sedikit nekat. Dia hanya perlu waktu tiga hari untuk belajar mengendarai mobil. Dengan modal keberanian yang memang sepertinya lebih dari orang kebanyakan, Ibu berhasil menguasai setir mobil dan hingga saat ini rajin mengemudikan kendaraan sendiri. Kadang ia bahkan melakukan perjalanan antar kota bersama teman-temannya, dengan ia memegang kemudi mobil.

Cerita yang panjang? Mungkin. Tapi cukup pantas untuk sosok perempuan yang sudah belasan tahun mengisi hidup kami, mengembalikan kehangatan keluarga yang hilang. Dia tradisional, juga modern. Perempuan yang layak jadi panutan. Dia Ibu kami.

Lanjutkan Membaca ↓