Sering-Sering Sempatkan Makan Bersama Keluarga, Kenapa?

Fimela10 Apr 2012, 05:29 WIB

Next

modernfam

“A family that eats together stay together” kutipan ini saya temukan saat membaca sebuah artikel pagi tadi. Seketika ingatan saya terbang ke beberapa belas tahun lalu saat saya masih bisa melakukan itu bersama keluarga saya. Keluarga inti yang lengkap saat itu. Ayah, Ibu, dan kedua adik perempuan saya. Saat ini, bila mengingat lagi masa-masa itu tentu ada rindu yang muncul. Bukan hanya rindu Ibu kandung yang sudah tidak bersama kami. Tapi juga rindu saat-saat di mana kami sekeluarga menjalani hidup dengan cukup sederhana, tapi kami merasa penuh.

Saya ingat senja-senja di mana dengan latar suara adzan, saya, Ayah, Ibu dan kedua adik perempuan saya akan duduk di atas tikar, hidangan makan malam ditata Ibu dengan rapi di atas tikar dan kami akan duduk mengelilingi makan malam itu. Sayur dan lauknya pun jarang berkesan mewah. Pintu belakang rumah sengaja kami buka untuk mengizinkan angin sore membawa sedikit sejuk ke sekitar kami. Semua itu sangat sederhana. Tapi itu kemewahan yang saya rindukan sekarang.

Saya rindu saat-saat di mana kami sekeluarga masih bisa makan bersama. Berdoa bersama. Berbagi cerita di antara suapan. Menertawakan kelucuan yang dhadirkan oleh adik perempuan saya yang bungsu. Mungkin waktu itu saya masih terlalu kecil untuk mengingat banyak hal. Tapi saya cukup pasti bahwa saya merasa penuh. Kebahagiaan saya sebagai anak kecil sudah komplit. Nggak ada ruang buat sedih. Nggak ada ruang buat merasa hampa.

Masa-masa itulah saya juga merasa benar-benar bisa mengikuti apa saja yang tiap anggota keluarga lewati setiap hari. Apa yang Ayah lakukan seharian di kantor, rencana-rencana work tripnya, atau apa yang ia bawa pulang dari kantor. Apa yang Ibu lakukan seharian di rumah, siapa saja yang berkunjung ke rumah di saat kami semua sedang beraktivitas di luar, apa yang akan ia masak esok hari. Hal-hal sepele seperti itu. Hal-hal sepele yang kini jadi memori sangat mahal untuk saya kumpulkan satu persatu.

Mungkin banyak yang menganggap hal seperti itu sepele. Tapi banyak value yang sebenarnya para orang tua bisa ambil saat makan malam bersama anak-anak mereka.  Seringkali ini yang kita lewatkan karena segudang aktivitas sehari-hari kita yang mencegah makan malam itu terjadi.

Next

 

brotfam

Sebuah riset oleh A.C. Nielsen menunjukkan bahwa orang tua ternyata hanya menghabiskan nggak sampai 40 menit dalam seminggu dari waktu mereka untuk bisa berbincang dengan anak-anaknya. Bukan berbincang sambil lalu, tapi benar-benar berusaha untuk mengetahui ‘hidup’ anak mereka. Berusaha mengenali pikiran anak, apa yang mereka rasakan, bukannya itu inti dari memiliki keluarga?

Penelitian lain oleh Universitas Harvard di tahun 1996 memaparkan bahwa makan malam bersama keluarga adalah waktu ‘sosial’ terpenting dalam sebuah aktivitas kekeluargaan. Setiap saat seluruh anggota keluarga memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama (khususnya makan malam), maka tiap-tiap anggota keluarga bisa belajar melakukan interaksi sosial dari kedua orang tua mereka, termasuk meningkatkan kemampuan komunikasi verbal.

Dan tentunya, menurut saya, dampak positif paling diharapkan dari kebiasaan makan malam bersama anggota keluarga adalah mencegah kemungkinan anak-anak mengalami depresi disebabkan masalah yang mungkin mereka hadapi dari lingkungan sekolah atau lingkungan pertemanan di luar rumah. Dengan menceritakan atau berbagi tentang kondisi yang mereka hadapi maka anak-anak akan lebih senang untuk terbuka kepada orang tua mereka, daripada melakukan ‘pelarian’ pada rokok, obat-obatan, atau minuman keras yang tentunya berdampak negatif. Yang paling parah? Ide untuk bunuh diri karena nggak tahan memendam masalah sendiri. Jangan sampai itu kejadian.

Semua fakta-fakta di atas saya rasa sudah cukup untuk membuat kita mempertimbangkan kembali waktu kita yang terbuang hanya untuk makan malam di luar rumah (karena jarang bisa berkumpul bersama dengan keluarga atau anak-anak). Buat kita yang berdomisili di Jakarta, makan malam bersama keluarga itu bak berharap pulang cepat sampai di rumah saat macet mendera setelah hujan. Dua-duanya sama mustahilnya, kan?

Pada kenyataannya memang susah untuk berkumpul bersama setiap hari, makan malam bersama. Luangkan waktu paling tidak dua kali dalam sepekan di mana kita bisa duduk bersama seluruh anggota keluarga untuk makan. Bila sempat masak di rumah lebih bagus. Bila tidak, tentunya banyak restoran yang bisa kita jadikan pilihan.

It’s not the food, but the bonding. Ikatan sebagai anggota keluarga yang mungkin renggang selama kita berjuang melalui macet sehari-hari di Jakarta. Nggak mudah, tapi juga nggak mustahil. Lakukan sekarang, sebelum terlambat.

Lanjutkan Membaca ↓