Sigi Wimala: Asupan Film Horor Pengaruhi Stigma Masyarakat Indonesia Terhadap Museum

Fimela Editor25 Sep 2012, 08:00 WIB

Next

Masyarakat di Indonesia hanya mengidentikkan museum dengan pendidikan dan anak-anak sekolah. Ya, rasanya sangat sedikit masyarakat yang memang tertarik dengan museum di luar “keterikatan” mereka dengan tugas-tugas tertentu. “Masyarakat Indonesia menganggap museum hanyalah asset pendidikan tanpa sekalipun melihat museum dari sisi rekreatif,” ujar Sigi saat dihubungi FIMELA.com.

museumSalah satu faktor yang membuat museum jarang dikunjungi adalah bangunan tua museum yang tidak jarang dilekatkan dengan kesan horor. “Stigma horor dan kuno museum yang menempel pada masyarakat menurut saya karena kita terlalu banyak menerima masukan film-film horor sehingga nggak bisa disalahkan juga kalau masyarakat memiliki stigma seperti itu. Dan saat ini stigma horor dan kuno museum sedang dalam proses perubahan melalui program revitalisasi museum yang dijalankan pemerintah sejak tahun 2010 hingga 2014 nanti,” Sigi kembali menjelaskan.

Sebagai Duta Museum Indonesia, tentu sudah cukup banyak museum di Indonesia yang disambangi Sigi. Bulan Juli lalu, Sigi berkesempatan mengunjungi Inggris untuk menyaksikan Olimpiade secara langsung. Kesempatan ini pun dimanfaatkan Sigi untuk mengunjungi tiga buah museum yang ada di sana, The British Museum, Natural History Museum, dan Tate Modern.

Next

museum ullen sentalu“Saya akui banyak perbedaan antara museum di Inggris dan di Indonesia. Tapi, jangan salah justru museum di Indonesia jauh lebih kaya, secara konten, dibandingkan dengan museum di Inggris. Di Indonesia hampir semua museum rasanya ada, misalnya saja ada Museum Nyamuk di Tasikmalaya. Sedangkan di luar, mereka biasanya juga memamerkan barang-barang dari negara lain melalui sistem pinjam dan replika. Secara konten museum kita jauh lebih kaya daripada museum di luar. Hanya saja, memang masyarakat di sana sangat mendukung keberadaan museum. Selain sebagai sarana pendidikan, mereka juga menganggap museum sebagai sarana rekreasi. Dan sikap inilah yang tidak dimiliki oleh masyarakat Indonesia,” ujar Sigi menyesali.

Beberapa hari lalu, Sigi pun berada di Jogjakarta dalam rangka Karnaval Museum Goes to Keraton. Untuk meningkatkan antusiasme masyarakat pada museum, Sigi mengatakan bahwa saat ini museum dibuat lebih terbuka sehingga memungkinkan masyarakat untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan mereka di dalam museum.

Next

museum"Visit the museum is a cool thing because it’s smart and it’s not a mainstream."“Revitalisasi yang dilakukan pemerintah tentu tidak akan ada artinya jika tidak ada antusiasme dari masyarakat. Justru antusias masyarakatlah yang berperan penting untuk membuat kondisi museum jauh lebih baik. Harus ditumbuhkan rasa kesadaran bahwa semua barang yang terdapat di dalam museum juga barang milik kita yang harus kita jaga. Nah, agar masyarakat bisa lebih sering berinteraksi dengan museum, sekarang pihak-pihak museum memudahkan pihak-pihak luar untuk mengadakan berbagai kegiatan di dalam museum. Saya sangat salut kepada berbagai komunitas yang sudah aktif mengadakan kegiatan di dalam museum. Daripada menyelenggarakan acara di mall kenapa nggak kita membuat sebuah acara di dalam museum? Visit the museum is a cool thing because it’s smart and it’s not a mainstream. Sekarang kan udah bukan jamannya lagi untuk mengikuti sesuatu yang mainstream, kita harus cari sesuatu yang lebih asyik di luar mainstream,” ujar Sigi tertawa renyah.

Setelah pulang dari Inggris dan membandingkan keadaan museum di kedua negara, Sigi mengaku banyak pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan untuk menumbuhkan kembali minta masyarakat pada museum. “Bisa dikatakan bahwa saat ini museum kita mengalami keterbatasan sumber daya manusia, misalnya saja untuk masalah tour guide. Kita harus mulai berpikir untuk melakukan audio visual tapi dengan pendekatan yang lebih bisa menjelaskan dan mengena untuk pengunjung. Itu sih mungkin “contekan” dari Inggris yang ingin saya coba implementasikan di museum Indonesia, tapi tentu saja itu semua tidak bisa dijalankan sendiri tanpa bantuan berbagai pihak, misalnya saja pihak sponsor,” jelas Sigi.

Lanjutkan Membaca ↓