Kedai Kopi di Jakarta: Tempat Ngopi VS Tempat Alternatif Bekerja

Fimela Editor25 Mar 2013, 05:00 WIB

Next

budaya ngopi

Ke mana sih kamu akan pergi ketika mencari tempat asyik, tenang, dan nyaman buat kerja di luar kantor? Pasti kamu akan menjawab ‘Coffee shop’. Di mana sih tempat paling enak untuk hang out nyaman dan ngobrol lama bersama teman-teman? Yup, coffee shop pastinya.

Melihat banyaknya orang yang mulai berminat pada coffee shop, perlahan tapi pasti, kedai-kedai kopi modern ini pun banyak bermunculan. Terlepas dari apakah memang kebutuhan masyarakat Jakarta terhadap kopi memang meningkat atau mereka sekadar mencari tempat nyaman untuk menghabiskan waktu.

“Saya pikir minum kopi sudah jadi budaya di Indonesia, tidak khusus di Jakarta. Sebelum maraknya kafe-kafe di Jakarta, di level lapisan masyarakat daerah sudah sejak lama kenal budaya kopi, mulai dari Aceh sampai Papua, yang juga terkenal sebagai penghasil kopi kelas dunia. Indonesia adalah negara penghasil kopi terbesar ke-3 di dunia (setelah Brazil dan Kolombia) sehingga sangat wajar kalau "ngopi" sudah sedemekian kuatnya dengan kebudayaan kita,” ujar Daniel Kaurranny, Area Manager & Head Barista PT Ohlala International.

 

Next

 

budaya ngopi

Namun, rupanya salah satu pakar kuliner Indonesia, Bondan Winarno tidak sependapat dengan apa yang diutarakan oleh Daniel. “Bagi orang-orang Melayu, Aceh, Medan, Kalimantan Barat, dan Riau misalnya, warung kopi hukumnya wajib buat mereka, sebelum pergi beraktivitas mereka biasanya pasti akan mampir ke warung kopi untuk minum kopi dan menikmati makanan yang sedikit berat. Karena biasanya selain kopi, warung kopi di daerah Melayu juga menjual makanan yang agak berat, kalau di Padang, mereka biasanya juga menyediakan Sate Padang. Di Jawa, budaya ngopi seperti itu hanya bisa ditemui di Gresik. Sedangkan di tempat-tempat lainnya ngopi belum bisa disebut sebagai budaya. Saat kita tidak tahu cara menyeduh kopi dan cara membedakan jenis kopi, itu artinya ngopi masih belum menjadi budaya kita. Sedangkan untuk masyarakat Jakarta, berdasarkan pengalaman pribadi saya sebagai pemilik warung kopi, yang membeli kopi di tempat saya hanya 25%. Nongkrong di warung kopi memang ya, tapi kopi masih belum menjadi minuman pilihan buat mereka,” Pak Bondan menjelaskan pada FIMELA.com.

“Saya cukup sering keluar-masuk atau bahkan nongkrong di salah satu kafe besar di Jakarta. Tapi, berhubung saya memang nggak bisa ngopi, biasanya saya ke sana untuk memesan minuman lain bersama keluarga ataupun teman-teman untuk sekadar hangout. Kalaupun memesan kopi, biasanya saya hanya membeli untuk pacar saya. Ya, salah satu alasan saya mengunjungi tempat ngopi tersebut karena memang tempatnya nyaman untuk berlama-lama hangout dan saya juga sangat menyukai ice green tea di sana,” Jelita, 22, Model.

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar dan terbaik ke-3 di dunia. Kenyataan ini sama sekali tidak diragukan karena barista kelas dunia pun menggunakan kopi dari Indonesia untuk produk mereka. “Kopi Indonesia sudah masuk tingkat dunia. Starbucks worldwide secara berkala mengeluarkan kopi-kopi Indonesia secara ‘seasonal’, juga salah satu roaster terbaik dunia Intelligentsia pun menggunakan kopi dari Sumatra, Jawa dan Toraja,” ujar Daniel kembali.

 

Next

 

budaya ngopi

Akan tetapi, Pak Bondan cukup menyayangkan karena besarnya produk kopi di Indonesia tidak diimbangi dengan kepedulian dan pengetahuan masyarakat terhadap kopi. Berapa banyak sih di antara kamu yang tahu tentang jenis kopi yang biasanya dikonsumsi di jam-jam tertentu? “Kopi sebenarnya menjadi bagian dari budaya Indonesia, tapi sayang, banyak di antara kita yang masih belum peduli. Di Italia, misalnya, ketika ada orang yang memesan segelas Capuccino pukul 4 sore, pasti pelayan di sana bisa mempermalukan kita karena kita dianggap tidak mengerti tentang kopi. Kenapa? Karena ngopi sudah menjadi budaya mereka sehingga mereka tahu persis tata cara menikmati kopi. Nah, kalau untuk di Jakarta, rasanya kita tidak peduli jenis kopi apa yang diminum setiap waktu,” Pak Bondan kembali menjelaskan.

“Saya termasuk pencinta kopi, dalam artian cukup sering mengonsumsi kopi. Tapi, jika ditanya apakah saya bisa membedakan jenis kopi dari rasa, jujur, saya belum sampai kepada tahap itu. Kebetulan pekerjaan saya memang mengharuskan saya bepergian ke berbagai daerah, dalam kesempatan tersebutlah saya bisa mencicipi warung-warung kopi tradisional di Medan, Aceh, dan juga di Tanjung Pinang. Menurut saya sebagai orang yang awam tentang pengetahuan kopi, justru kopi-kopi di warung tradisional tersebut lebih nikmat dibandingkan dengan yang ada di kafe-kafe di Jakarta karena memiliki aroma dan rasa yang lebih kuat. Buat saya sendiri, coffee shop bukan hanya sekadar tempat ngopi, tapi juga sebagai tempat kerja karena saya cukup sering menggunakan coffee shop sebagai tempat meeting dengan klien,” Fitri, 25, Legal Staff pada sebuah perusahaan properti.

Walaupun masyarakat Jakarta masih belum mengerti terhadap tata cara budaya minum kopi dan kopi belum menjadi minuman pilihan utama saat berkunjung ke coffee shop, namun sudah cukup banyak kafe di Jakarta yang menyediakan kopi-kopi berkualitas, bukan sekadar mementingkan masalah kenyamanan tempat, misalnya saja Cafe Ohlala, Anomali, 1/15, Pandava, Kopitiam Oey, Monolog, dan Djournal. Nah, kapan sih terakhir kali kamu memesan kopi saat mengunjungi coffee shop?

Lanjutkan Membaca ↓