Batik Truntum, Saksi Bisu Sebuah Kisah Cinta yang Tulus

Monica Dian03 Jun 2015, 11:00 WIB

Jakarta Beragam motif batik, beragam pula makna yang terkandung di dalamnya. Ini membuktikan bahwa kain tradisional Jawa ini bukan sekadar bentuk seni, tapi juga sebagai media pengungkapan filosofi yang ada pada motifnya. Dulu, batik hanya bisa dipakai oleh anggota kerajaan untuk menentukan derajat sosialnya. Sekarang, batik sudah menjadi kebanggaan nasional yang bahkan go international.

Berbicara tentang batik, kali ini batik truntum mendapat gilirannya untuk dibahas tuntas. Memiliki motif berupa gambar bunga abstrak seperti kuntum bunga atau taburan bintang, batik truntum menyimpan sejarah yang cukup menyentuh di baliknya. Diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana yang adalah permaisuri Sunan Pakubuwana III dari Surakarta, motif truntum ini ditujukan untuk mengungkapkan perasaan cinta yang tulus beliau kepada sang suami. Itulah mengapa motif truntum memiliki simbol cinta yang tumbuh kembali.

Batik motif truntum ini dulunya biasa dipakai oleh orangtua pengantin pada hari pernikahan putra/putrinya. Dengan memakai kain bermotif truntum, diharapkan cinta kasih yang disimbolkan lewat motif bunga-bunga ini dapat tertular ke kedua mempelai pengantin. Selain cinta kasih, motif ini juga melambangkan kewajiban orangtua untuk menuntun pasangan pengantin memasuki kehidupan baru dalam berumahtangga.

Well, sekarang batik truntum tidak terbatas dipakai saat acara pernikahan saja, Fimelova. Dipakai pada acara apapun, batik ini tetap cantik untuk dipakai. Apalagi berbagai kreasi motifnya yang semakin bervariasi dan berwarna, making this batik more irresistible. Apakah motif truntum ini ada di salah satu koleksi pakaianmu, Fimelova?