Butuh Liburan Sejuk di Tengah Panas Meradang, Pergi ke Sydney!

Stanley Dirgapradja31 Agu 2016, 17:35 WIB

Jakarta Sydney Opera House di kejauhan

Sydney adalah salah satu kota terbesar dan paling ramai di Australia. Dengan seringnya kota yang sebenarnya hanya 6 sampai 7 jam jaraknya dengan pesawat dari Jakarta ini dijadikan lokasi syuting film Hollywood, sudah pasti Sydney memiliki pesona yang pantas dinikmati.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengunjungi Sydney atas undangan Destination New South Wales dan Qantas. Kunjungan yang istimewa, karena saya pergi ke Sydney di awal musim dingin, sementar Jakarta masih dikelilingi panas. Musim dingin di Australia memang berlangsung Juni hingga Agustus, saat belahan dunia lain diliputi musim panas. And I am pretty much a winter person, jadi kunjungan ini seperti jodoh.

Berangkat dari Jakarta kurang lebih jam 8 malam, saya sampai di Sydney jam 6 pagi waktu setempat (Sydney lebih cepat 3 jam dari Jakarta) dan cuaca sudah sangat sejuk. Hawa musim dingin yang khas segera menyentuh wajah. My kind of breeze. Setelah mampir untuk menghangatkan badan dengan kopi di Bourke Street Bakery di Banksmeadow (salah satu daerah suburb Sydney), saya dan tim Destination New South Wales meluncur ke Blue Mountains Botanic Garden untuk makan siang.

Menu makan siang di Tomah Restaurant, Botanical Gardens

Dikelilingi nuansa alam yang hijau, udara yang begitu bersih, menikmati makan siang yang istimewa di Tomah Gardens Restaurant. Sebuah restoran bergaya rustik, dengan pemandangan hijau Blue Mountains Botanic Garden sejauh mata memandang. Cukup Membersihkan pandangan, setelah terlalu akrab dengan Jakarta yang macet dan polusi di mana-mana, kan? Puji Tuhan untuk alam yang indah ini.

Sedikit cerita, kenapa namanya Blue Mountains. Jadi kabarnya, gas-gas dari pohon ekaliptus yang banyak tumbuh di kawasan ini saat naik ke udara nampak kebiruan. Apalagi bila dilihat dari angkasa.

Perut kenyang, saya lanjut menuju hotel Hydro Majestic hotel yang letaknya persis dilembah Megalong yang luas, hijau dan indah, dan dingin. Tidak jauh dari rel kereta, yang memungkinkan bagi penduduk kota Sydney untuk berkunjung ke daerah ini tanpa pusing tak punya kendaraan. The view behind my room was simply breath-taking. Saya dan tim Destination New South Wales beristirahat semalam di hotel bergaya art deco ini.

Tapi sebelum beristirahat malam, setelah cek in di hotel sorenya, saya mengunjungi lokasi gugusan batu Three Sisters yang terkenal. Gugusan Three Sisters ini dahulu merupakan titik penggalian batu bara, yang kini menjadi tujuan wisata favorit bila berkunjung ke Blue Mountains. Yang harus dicoba saat berkunjung ke Three Sisters, menaiki kereta gantung melintasi gugusan bukit, dan menaiki kereta mini ala penambang batu bara jaman dahulu di atas rel curam.

Besoknya, setelah check out dari hotel saya mampir ke kota kecil Katoomba untuk melihat penampilan keluarga Aborigin, lalu ke kota kecil lainnya, Leura yang begitu chic di tengah musim dingin Australia. Di mana banyak coffee shop kecil yang manis, butik, toko suvenir yang menyebar di pusat Leura yang seru untuk di-Instagramkan. Kota kecil yang sangat photogenic.

Coffee shop yang photogenic di Leura

Leura di musim dingin

Di tengah musim dingin (untuk Australia, musim dingin bisa berarti hujan dan angin kencang terus menerus di kawasan perkotaan) tentu wisata kuliner menjadi cara yang bagus untuk menghangatkan diri. Bersama tim Destination New South Wales saya diajak mengunjungi restoran Rockpool Bar and Grill Syndey yang sangat bergaya New York. Melengkapi petualangan kuliner di Sydney, saya juga mampir ke kawasan Chippendale yang hits, restoran Chiswick yang bergaya cukup hipster di dalam New South Wales Art Gallery (pemandangannya oke dan waiter di sini punya paras yang memanjakan mata), Sydney Eye Tower dan makan malam melihat kota Sydney dari segala penjuru.

Pemandangan di luar Chiswick, New South Wales Art Gallery

Hampir seminggu di Sydney, sudah banyak yang saya lihat. Tapi, rasanya memang masih kurang lama. I need to stay longer, to see more from this hip city. Toh hanya 6 sampai 7 jam dari Jakarta. Qantas menyediakan penerbangan langsung yang memenuhi kebutuhan untuk ini. Musim dingin tahun depan kembali lagi ke Sydney. Ide bagus.