Film “Dilan 1990” Mencetak Rekor di Bioskop, Sebegitu Baguskah?

Monica Dian19 Feb 2018, 09:00 WIB

Jakarta “Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku aja.” Kalimat tersebut pasti sudah cukup familiar. terlebih bila mengikuti film “Dilan 1990” (atau sekadar melihat meme-meme di media sosial). Film yang diangkat dari novel best-seller berjudul sama karya Pidi Baiq ini boleh dikatakan sukses besar karena telah menembus 5 juta penonton padahal belum lama ditayangkan. Banyak yang suka dengan kisah Dilan dan Milea, namun tidak sedikit juga yang antipati setelah melihat filmnya.

Plot yang dihadirkan sebenarnya sangat ringan, menggambarkan keseharian remaja. Mungkin karena novelnya sudah berjaya duluan, maka tidak sulit bagi filmnya untuk mengejar kesuksesannya. Nilai tambahnya, film ini mampu merangkul penonton remaja dan dewasa. Tidak sedikit penonton dewasa yang jadikan “Dilan 1990” sebagai bentuk nostalgia manisnya masa SMA karena film ini berlatarbelakang tahun 1990, ketika belum ada teknologi semacam smartphone, platform chatting, dan media sosial – yang biasanya dijadikan media PDKT (pendekatan) oleh laki-laki dan perempuan.

“Dilan 1990” mengangkat kisah remaja SMA bernama Dilan (Iqbaal Ramadhan) yang jatuh hati dengan Milea (Vanesha Prescilla). Yang menarik (dan tentunya membuat pembaca novel maupun penonton filmnya tergila-gila) adalah cara Dilan mengambil hati Milea. Meski diceritakan sebagai anak geng motor yang suka tawuran, Dilan ternyata merupakan tipe laki-laki yang sangat romantis. Yang sudah menonton filmnya, diakui atau tidak, pasti senyum-senyum sendiri setiap kali Dilan mulai mengeluarkan jurus gombalannya kepada Milea.

Berdasarkan pengamatan FIMELA, cukup banyak perempuan yang terlena dengan sosok Dilan. Menurut mereka, Dilan adalah boyfriend material. Baik, sayang keluarga, humoris, dan yang pasti mampu mencuri hati melalui puisi juga kata-kata manisnya. Meski begitu, tidak serta-merta semua perempuan terperangkap pada rayuan gombal Dilan. Karena tidak semua perempuan suka pada laki-laki yang “terlalu manis”. Sebagian mungkin lebih suka laki-laki yang cuek seperti “bad boy”, yang lebih ada tantangannya. Termasuk kita?

Di samping itu, sebagian penonton dewasa menganggap film “Dilan 1990” tidak memiliki nilai. Dalam artian, inti ceritanya hanyalah sederet rayuan gombal yang tidak ada artinya. Citra anak SMA yang doyan tawuran juga dianggap memberi efek negatif, terutama bagi penonton usia belia. Jika dilihat lebih dalam lagi oleh penonton dewasa, percintaan Dilan dan Milea terasa begitu naïf dan “berlebihan”. But again, it’s all about teen love story, right?

Terlepas dari suka tidaknya penonton terhadap film “Dilan 1990”, satu yang FIMELA akui adalah Iqbaal dan Vanesha memiliki chemistry yang bagus dalam membangun ikatan Dilan dan Milea. Padahal di awal, saat keduanya diumumkan sebagai pemeran film ini banyak yang mengajukan penolakan. Toh pada akhirnya tokoh Dilan dan Milea disebut-sebut jadi pasangan ikonik masa kini, meneruskan generasi Galih dan Ratna di masanya, juga Rangga dan Cinta di era 2000an.